Membaca Ulang Tentang Lenin (Resensi Buku)

 Ada sebuah buku menarik (tahun terbitnya 2004, wah dah lama juga..he..he)  yang sebenarnya menantang para peminat pemikiran kiri untuk berdiskusi lebih lanjut tentang marxisme secara umum atau komunis-Leninisme secara khusus. Buku tersebut tidak terlalu tebal, dan bisa ditamatkan dalam satu hari. Bahasanya sederhana dan mudah dicerna namun tetap punya bobot yang signifikan. Oleh penulisnya, buku tersebut diberi judul “Lenin, Revolusi Oktober 1917”. Di bawah judul tersebut terselip beberapa kalimat yang dicetak tidak begitu besar “Sanggahan Terhadap Pemikiran Romo Magnis”. Mungkin yang dimaksud adalah sanggahan terhadap tulisan Magnis tentang Lenin yang berjudul “Dalam Bayangan Lenin”. Oleh karena ketidaksepakatan dengan beberapa pendapat dalam tulisan Magnis tersebut, maka di dalam buku ini ditambahkan sebuah BAB khusus sebagai pertimbangan bagi Romo Magnis.

Anak judul  buku di atas memang terkesan terlalu provokatif. Meski memang tidak sedramatis itu, namun memang dua orang penulis muda tersebut telah malakukan pembelaan terhadap Lenin dan melakukan sebuah debat dengan tulisan yang pernah ditulis oleh Romo Magnis. Namun, tidak ada yang salah dari hal tersebut. Bahkan justru memacu para peminat studi pemikiran dan filsafat untuk membaca dan berdiskusi lebih banyak lagi.

Buku yang ditulis oleh dua orang muda yang sebenarnya belatar belakang pergerakan Islam (Eko Prasetyo berasal dari HMI dan Saiful Arif berasal dari PMII) mungkin bisa cukup obyektif dalam menganalisa seorang tokoh komunis seperti Lenin. Bagaimanapun umat Islam di Indonesia pernah memiliki trauma besar terhadap gerakan komunis, namun kejujuran intelektual tentu tidak bisa disingkirkan hanya gara-gara dendam masa lalu. Lenin, sebuah sosok yang pernah menggemparkan dunia, namun menurut keduanya, telah disalahpahami banyak orang bahkan oleh pakar sekelas Romo Magnis. Dalam rangka meletakkan bandul analisa pada posisi yang setimbang (adil), maka dua orang muda tersebut menyatukan kekuatan dan fikiran untuk menulis sebuah buku, khususnya dalam menghadapi perdebatan intelektual dengan Romo Magnis.

 

Lenin, Aktifitas dan Pemikirannya

Lenin adalah orang yang pertama kali melakukan praksis terhadap teori-teori Marx. Ia adalah pembentuk sekaligus pencetus sebuah negara yang diakuinya sebagai perwujudan dari teori Marx yang murni. “Ajaran Marx yang murni” adalah klaim dari Lenin dalam bukunya Negara Dan Revolusi. Lenin mengungkapkan bahwa perkembangan gerakan sosialis telah memunculkan elemen yang ia sebut sebagai sosialis-chauvisnis dan kaum oportunis yang mendominasi di dalam partai-partai sosialis resmi. Mereka yang dituding sebagai tokoh sosialis chauvinis dan kaum oportunis adalah Plekhanov, Potresov, Breshkovskaya, Rubanovic dan kaum Fabian di Inggris. Orang yang paling bertanggungjawab terhadap munculnya kaum “menyimpang” itu adalah pendiri Internasionale II yaitu Karl Kautsky. Lenin mengaku bahwa yang dibawa oleh dirinya adalah yang mendekati benar dan lurus.

Lenin lahir di kota Simbrisk pada tahun 1870 atau satu tahun sebelum terjadinya pemerintahan eksperimen Komune Paris. Nama kecilnya adalah Valdimir Ilyich Ulyanov, namun dalam pelarian dan pembuangan ia lebih sering menyebut nama sebagai Lenin. Ia merupakan keturunan kelas menengah Rusia. Ibunya seorang ahli bedah sementara ayahnya adalah seorang direktur sekolah umum di Simbrisk. Lenin menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Kazan atas rekomendasi dari Feodor Karensky, ayah dari Alexander Karensky, perdana menteri pemerintahan revolusi Menshevik yang dikemudian hari digulingkan oleh Lenin melalui Revolusi Oktober 1917.

Karir aktivis Lenin sudah dimulai sejak masa kuliah. Ia terinspirasi oleh kakaknya, Alexander Ulyanov, aktivis Narodnaya Volya yang kemudian tewas secara tragis pada usia muda. Alexander merupakan kakak sekaligus idola bagi Lenin. Ia dijatuhi hukuman mati pada usia 19 tahun oleh pemerintahan Tsar karena Narodnaya Volya adalah sebuah seksi teroris yang merencanakan pembunuhan terhadap Tsar.

Lenin kuliah di universitas Kazan tidak sampai satu tahun. Ia dari awal sudah terlibat menjadi aktivis demonstrasi yang menentang Tsar. Ia kemudian ditangkap dan diasingkan di sebuah desa terpencil. Ia dikeluarkan dari universitas Kazan dan akhirnya harus melanjutkan kuliah di universitas St. Petersburg. Tahun 1891 Lenin lulus sebagai sarjana Hukum.

Lenin mengorganisir gerakan marxis pertama kali di kota Samara. Tahun 1893 ia pindah ke St. Petesburg dan diangkat menjadi pemimpin gerakan marxis di kota tersebut. Selama karir aktivisnya, Lenin banyak menghasilkan tulisan, baik itu berupa terjemahan terhadap tulisan Marx dan Engels, maupun hasil berfikirnya sendiri terhadap keadaan revolusi dan perjuangan kaum marxis di Rusia. Begitu banyaknya tulisan yang dihasilkan Lenin dikarenakan keyakinannya bahwa sebuah revolusi hanya bisa lahir dari teori-teori revolusi.

Lenin naik memegang tampuk pimpinan negara Rusia setelah pada bulan Oktober 1917 ia berhasil menggulingkan pemerintahan sosial demokrat pimpinan Karensky. Lenin dengan kelompok Bolsheviknya berhasil menumbangkan golongan Menshevik yang pada awalnya merupakan rekan satu perjuangan dalam revolusi 1905.

Sebelum melakukan revolusi Oktober, Lenin telah menyelesaikan karyanya dalam pembuangan yaitu Negara Dan Revolusi (State And Revolution). Buku ini adalah pengembangan gagasan Marx yang menjadi panduan praksis dalam membangun negara komunis. Jika ingin membahas negara seperti yang diinginkan Lenin, maka buku inilah yang menjadi referensi utama.

Secara filosofis, Lenin adalah pengikut setia Marx. Lenin adalah orang yang juga melihat negara sebagai negara kekuasaan. Negara adalah organ kekuasaan kelas atas. Pada saat ia hidup, negara diterjemahkan sebagai perwujudan kekuasaan kelas feodal dan kelas borjuis terhadap kelas tani dan pekerja. Meskipun negara dianggap sebagai organ penindas bagi kelas bawah, namun Lenin tidak pernah bercita-cita untuk melenyapkan negara, karena sesuai dengan doktrin Marx, negara tidak bisa dilenyapkan. Negara akan tetap ada selama masih terdapat pertentangan kelas. Negara hanya bisa melenyap dengan sendirinya ketika kondisi sudah disiapkan sedemikian rupa sehingga masyarakat tidak lagi butuh negara. Berdasarkan filosofi tersebut, maka yang dilakukan oleh Lenin adalah menyiapkan sebuah kondisi dimana masyarakat masuk ke dalam tahapan lepas dari kontradiksi kelas sehingga lambat laun negara kehilangan relevansinya.

Masyarakat bisa terlepas dari kontradiksi kelas dengan cara memaksakan kekuasaan kelas proletar atas kelas borjuasi. Diktatur proletariat dilaksanakan dalam rangka memaksa masyarakat untuk hidup dalam satu kelas saja yaitu kelas proletar. Dengan demikian pertentangan antar kelas dapat dilenyapkan. Dan selama proses diktatur proletariat, eksistensi negara tetap dibutuhkan sebagai sarana untuk menyiapkan masyarakat masuk ke dalam tahapan komunisme.

Bentuk negara yang tetap dipakai pada masa sosialisme adalah negara yang benar-benar menghilangkan sifat negara borjuasi. Belajar dari komune paris, Lenin berfikir bahwa semua suprastruktur borjuasi harus dilenyapkan, karena kalau tidak dilakukan akan memberikan kesempatan bagi kaum borjuasi mengorganisir diri dan bangkit kembali melawan kekuasaan proletariat.

Oleh sebab itu, negara yang digagas oleh Lenin adalah negara yang menghilangkan dua ciri utama negara borjuasi, yaitu parlemen dan tentara reguler. Parlemen dihilangkan karena hanya menjadi tempat orang berbicara namun tidak bekerja. Mereka adalah kelas penganggur yang harus dibiayai oleh negara. Pemisahan kekuasaan antara legislatif dan esekutif dalam negara berjuis menyebabkan terjadinya kepincangan antara pembuat kebijakan dengan pelaksana kebijakan. Adanya parlemen juga mengakibatkan munculnya elit kekuasaan yang terpisah dari masayarakat.

Tentara reguler juga harus diganti dengan milisi rakyat atau rakyat yang bersenjata. Tentara reguler berbahaya karena kemudian bisa menjadi alat bagi kaum yang memiliki harta, kekayaan ataupun modal, sehingga bisa diperalat untuk membela kepentiangan kaum yang memiliki uang.

Oleh karena harus mendirikan sebuah negara yang menghilangkan sifat borjuasi, maka di sinilah letak peran Lenin dalam memeras otak memikirkan wujud nyata sebuah negara yang bisa menghilangkan sifat kemodalan. Pada titik ini Lenin melangkah maju mencoba menurunkan teori Marx yang sarat dengan prinsip-prinsip umum menjadi lebih praktis.

Yang pertama kali dilakukan oleh Lenin setelah memegang tampuk kepemimpinan revolusi adalah membubarkan birokrasi, parlemen dan tentara reguler. Pemerintahan dan parlemen digantikan oleh kongres rakyat dan tentara reguler digantikan oleh tentara merah yang merupakan milisi bersenjata dari rakyat pekerja.

Lenin tetap memegang prinsip demokrasi secara umum dimana ia tidak menghilangkan sistem perwakilan dan pemilihan. Hanya saja wujud lembaganya sangat berbeda dari wujud lembaga demokrasi yang lazim ditemukan di negara liberal. Parlemen dan birokrasi dibubarkan supaya tidak ada bermacam-macam partai yang kemudian memecah masyarakat ke dalam berbagai kekuatan politik. Kekuatan politik hanya satu, yaitu organisasi partai komunis.

Pemilihan dan perwakilan dilakukan dalam organisasi. Masyarakat membentuk pemerintahan sendiri dalam kongres-kongres rakyat (soviet). Kongres rakyat ini dimulai dari tingkat paling bawah sampai ke tingkat negara. Dalam kongres rakyat inilah diatur segala program dan solusi bagi permasalahan rakyat. Di arena ini mereka berdiskusi dan berdebat, namun harus patuh pada setiap hasil keputusan kongres baik yang diperoleh secara aklamasi maupun secara voting. Di dalam kongres pula kemudian dipilih beberapa orang wakil rakyat yang akan duduk di komite eksekutif atau komite sentral sebagai pelaksana harian kongres guna mengurus jalannya program pemenuhan kebutuhan masyarakat. Anggota komite sentral atau komite eksekutif adalah bagian dari masyarakat pekerja, dan tidak terlepas dari masyarakat. Mereka tidak punya jabatan khusus yang kemudian memisahkan mereka dari masyarakat. Mereka setiap saat dapat diganti ketika masyarakat sudah tidak setuju lagi. Para anggota komite sentral maupun komite eksekutif hanya memperoleh gaji tidak lebih dari gaji seorang buruh terampil, dan dengan demikian mereka tetap hidup membaur dengan masyarakat pekerja.

Meskipun mengklaim diri sebagai pelaksana gagasan Marx yang murni, namun sesungguhnya Lenin telah melakukan beberapa hal yang berbeda dari ajaran Marx. Pertama, Lenin menjalankan revolusi di negara Russia yang belum mencapai puncak industrialisasi seperti Inggris dan Jerman. Lenin menunjukkan, ramalan Marx bahwa revolusi proletar pertama kali akan meletus di Eropa Barat justru bisa terjadi di negara yang masih muda industrinya. Ketika Inggris dan Jerman sudah menjadi negara yang bersandar sepenuhnya terhadap kapital, pada saat yang sama kelas feodal agraris di Rusia justru masih cukup kuat. Ini dapat dikatakan sebagai adaptasi gagasan Marx dalam konteks keadaan sosial dan keadaan produksi Rusia.

Kedua, Marx hanya menyatakan bahwa revolusi tersebut dilakukan oleh satu kelas yaitu proletar yang terdiri dari pekerja industri. Lenin, sesuai dengan kondisi Rusia, meletakan revolusi di pundak kelas tani dan pekerja yang kemudian diidentifikasi sebagai proletar. Ini sangat berbeda dengan Marx yang menganggap bahwa Rusia dengan keadaannya yang masih kental dengan sektor agraris sebagai daerah paling reaksioner pada saat itu.

Dengan keadaan yang berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh Marx, maka jalan revolusi Lenin juga agak berbeda hasilnya. Ketika sebuah diktatur proletariat harus menumpas kelas borjuasi dan kelas lain yang berbeda dari kelas proletar, maka Lenin waktu itu harus realistis. Berada dalam kepungan negara kapitalis, mau tidak mau Rusia juga harus memacu kemajuan industrinya agar tidak terjepit oleh tekanan kapital dan industri luar negeri. Untuk membangun ekonominya, Lenin terpaksa membiarkan sebagian sektor ekonomi kembali dikuasai oleh individu-individu kaya serta kembali mempekerjakan tenaga ahli dengan bayaran besar.

 

Kelemahan dan Kelebihan Buku Ini.

Buku ini ditulis oleh dua orang. Sepertinya memang ditulis secara terpisah oleh dua orang tersebut. Ketika membaca BAB IV pembaca akan segera dapat merasakan gaya bahasa dan penulisan yang berbeda dari BAB sebelumnya. Oleh sebab itu maka wajar bila terdapat beberapa pengulangan informasi yang barangali tidak diperlukan.

Bagi orang yang sudah sering membaca literatur kiri ataupun sejarah tentang Russia, mungkin tidak banyak informasi baru mengenai Lenin yang didapatkan dalam buku ini. Sebagian besar dari BAB buku tersebut membicarakan sejarah dan, pemikiran dan beberapa tindakan Lenin yang sudah lazim diketahui. Hanya saja, buku tersebut kemudian berupaya medudukkannya pada konteks zaman dimana Lenin berada dan menghindari mengukurnya dari ukuran-ukuran zaman sekarang.

Buku ini kemudian memiliki nilai tambah yang besar ketika mereka memasukkan BAB V perihal melihat Lenin secara lebih adil. Keseluruhan isi BAB ini merupakan perdebatan dengan buku Romo Magnis. Sepertinya BAB ini dibuat lebih belakangan dari Bab lainnya, karena dari bahasa dan bobot isinya jauh berbeda. Dalam Bab ini kita akan hanyut oleh sebuah perdebatan dan dengan argumentasi yang sangat bagus bagi ukuran penulis muda. Sinergi antara kedua penulis terasa dalam BAB ini untuk menghadapi argumentasi Magnis terhadap tokoh Lenin. Kedua penulis mencoba meluruskan jurus zigzag Magnis yang memuji lenin dalam satu halaman tertentu namun kemudian menjatuhkannya pada beberapa halaman lainnya. Walaupun berbeda “kesaktian” dalam hal gelar akademik, namun tulisan dalam buku ini sungguh bisa membuat Romo Magnis maupun orang lain mengkaji ulang pendapatnya terhadap Lenin. Kecuali, bagi orang-orang yang sudah beku akalnya, sehingga enggan mendialektikaan sebuah gagasan.

Jika dibaca, meski oleh orang yang fanatik dengan agama sekalipun, niscaya buku ini tidak merusak bagi siapapun. Toh, tidak ada seruan untuk mengikuti atau provokasi untuk membenci tokoh seperti Lenin dan ajaran komunis secara umum.

6 comments August 26, 2007

Jendral Susi

Raut wajah Jendral Susi berubah drastis ketika para penari cakelele mengibarkan bendera RMS pada peringatan Harganas di Maluku. Muka Jendaral Susi berubah menjadi tegang. Jelas sekali ada api kemarahan di balik air mukanya. Wah, Jendral Susi sepertinya marah betul. Paspampres abis itu pada diapain yah? Digebukin satu-satu? he..he..mungkin saja.

Ngomong-ngomong soal raut wajah seperti itu, saya jadi ingat kejadian sekitar Agustus 2005 (atau mungkin September 2005?), pokoknya sekitar bulan itu lah. Baru sekitar satu bulan saya bertugas di Cirebon. Ketika itu Jendral Susi lagi berkunjung ke Cirebon.

Saat pertemuan di Gedung Bakorwil Cirebon, tiba-tiba seorang ibu menerobos masuk dan memeluk kaki Jendral Susi sambil berteriak histeris. Ibu-ibu ini mungkin memang ada kelainan jiwa. Sebab, menurut beberapa orang yang ada di Bakorwil , Si Ibu biasa seperti itu jika ada pejabat dari Jakarta yang datang. Entah benar entah tidak, tetapi selama hampir setahun saya bertugas sebagai wartawan Kompas di Wilayah III Jabar (Cirebon, Indramayu, Kuningan, Majalengka), hanya Jendral Susi yang mengalami nasib seperti itu.

Saat sang ibu itu histeris memeluk kaki Susi, raut wajah seperti pada peringatan Harganas itu juga saya lihat lagi, meski hanya di televisi. Jendral Susi tampil dengan ekspresi tegang, kaku, tak bergerak sama sekali, dan sangat jelas kalau dia marah. Meskipun, kemudian Paspampres dengan cepat menggotong sang ibu keluar dari arena acara, tetapi kentara sekali SBY marah besar. Efeknya sangat terasa ketika Susi hadir dalam pementasan tari di Gua Sunyaragi, malam harinya. Seluruh Paspampres over acting di ring satu. Wartawan dipersulit untuk masuk, apalagi yang tidak menggunakan baju batik. Padahal, pas siangnya di Gedung Bakorwil kaga ada kaya gituan. Seorang teman kontributor stasiun TV malah diinjak kakinya oleh Paspampres. Gara-garanya dia memakai sepatu sport. Biasa wartawan Pantura, mana ada yang punya sepatu kulit..he..he. Kasihan, padahal teman ini dah bela-belain pulang untuk ganti baju dengan batik. Tetapi lupa ganti sepatu (apa ga punya?) dengan sepatu kulit. Lagian Paspampres iseng banget. Di tengah remang-remang seperti itu, mereka sempat2nya mendeteksi sepatu sport yang digunakan oleh teman tadi.

Bukan cuma itu. Besok paginya, Jendral susi bekunjung ke Gedung Linggarjati, Kuningan. Dia adalah presiden kedua yang mengunjungi gedung bersejarah itu setelah Soeakarno. Saat di Lingarjati, tidak hanya Paspampres yang over acting, tentara dari Kodim Kuningan yang menjaga ring II pun over acting sehingga saya sempat sulit untuk masuk. Setelah negosiasi dengan seorang perwira Kodim (tentu saja plus memperlihatkan ID Kompas), akhirnya saya diberikan ID card untuk meliput di dalam Gedung Linggarjati.

Meskipun sudah mengantongi ID Card dari Kodim, tetapi kemudian saya mengalami nasib yang tidak akan saya lupakan seumur hidup. Saya diseret paksa keluar Gedung Lingarjati oleh Paspampres. Gara-garanya saya meliput dengan mengenakan celana jeans dan sepatu sport. Sebenarnya memang saya sengaja seperti itu. Lagian ini bentuk protes. Jika orang yang bisa berada di dekat presiden hanya yang menggunakan baju batik, celana kain, dan sepatu kulit. Lah kalau rakyat yang kaga punya bagaimana? Apakah rakyat kecil harus memanipulasi keadaan mereka dengan memaksakan diri (beli atau minjam) agar bisa menggunakan baju batik, celana kain dan sepatu kulit? Dasar presiden keterlaluan. Kalau setiap hari yg lu lihat orang-orang yang berpenampilan rapi dan necis, pantesan aja lu kaga pernah sadar penderitaan masyarakat yg sebenarnya.

Walau sudah bersiasat di gedung Linggarjati, akhirnya saya ketahuan juga oleh Paspampres. Setelah diseret keluar, perwira yang tadi memberikan ID card juga sok marah. Dengan kasar dia merenggut ID dari leher saya. Lha tadi kok dikasih sama saya, padahal pakaian saya sama aja. Dasar t____l!

Wah..jadi ngelantur ke mana-mana. Kembali ke soal Jendral Susi, saya rasa pengamanan terhadap dia terlalu berlebihan. Sudahlah terlalu berlebihan, tetap aja berkali-kali ada masyarakat yang berusaha membuat dia malu. Bandingkan dengan pengamanan terhadap MJK, jauh lebih longgar, tetapi kaga dibikin malu tuh ama masyarakat.

Saya tidak merasa bendera RMS kemaren adalah sebuah ancaman, toh bendera Brazil, Argentina, Italia dll juga sering dipajang di Indonesia saat Piala Dunia. Saya justru melihat itu hanya tamparan khusus buat Jendral Susi. Itu pertanda bahwa Jendral ini sama sekali tidak disegani oleh masyarakat bahkan juga bawahannya. Mungkin juga itu hanya momentum pembuka untuk unjuk gigi gerakan yang lebih nyata seperti OPM di Papua. Buktinya, yang kemudian lebih berani dan terang-terangan muncul adalah OPM. Untung Jendral Susi tidak hadir pada Konferensi Dewan Adat Papua. He..he.. Kasihan Jendral Susi

Jaka sembung bawa golok

Maap, ga nyambung, gw lg goblok!!!he..he

Add comment July 7, 2007

Didikte oleh Lalat

lalat.jpgIni soal DCA (Defense Cooperation Agreement). Mungkin agak terlambat, tetapi saya tidak tahan juga untuk menyimpan unek-unek ini. Bahkan, unek-uneknya sudah jadi jerawat dua biji..he..he (secara medis bener ga yah unek-unek bisa jadi jerawat?)

Saya baru tahu bahwa DCA itu dibuat sebagai balas jasa karena Singapura mengabulkan keinginan Indonesia untuk membuat perjanjian ektradisi (wah kemana aja nih…?). Menyedihkan sekali negeri ini. Apakah harga perjanjian ektradisi semahal itu? Bukankah kewajiban sebuah negara untuk membantu menangkap penjahat yang kabur dari negara lain , sekalipun tanpa perjanjian ekstradisi? Lagi pula, Singapura khan salah satu tempat menyimpan uang. Lha apa negara lain nanti tidak takut kalo para bandit, koruptor, dan para pencuci uang semua kabur ke Singapura karena di sana aman? Singapura sendiri bakal kesulitan berhadapan negara lain bukan? Lalu kenapa harus dibalas dengan perjanjian kerjasama pertahanan? Ini kekonyolan pertama.
Kekonyolan kedua itu terkait dengan isi perjajian pertahanan. Sudahlah asal muasal perjanjian konyol, isinya juga konyol. Negara kita harus menyediakan empat (kalau ga salah empat yah) lokasi untuk latihan perang tentara Singapura. Wah enak banget negara kecil ini. Namun, mereka menolak adanya Implementation Agreement (IA) mengenai pelaksanaan latihan itu. Singapura berpendapa IA tidak perlu, sementara TNI bilang perlu. Lha kok bisa salah paham kaya gini? Kalau tidak ada IA itu berarti mereka menolak diatur ketika melakukan latihan militer di wilayah kita. Ah, ini namanya ngelunjak. Kalau bahasa kampung saya; “Gadang Karengkang”.

OK-lah, dari sisi mereka, dalam diplomasi tidak ada yang salah dengan tawar-menawar. Singapura pun punya hak untuk kasih penawaran sekehendak hati mereka. Masalahnya ada pada kita. Kenapa kita hanya diam menangapi ini. Kenapa hanya segelintir orang di DPR yang ribut? Kenapa pula pemerintah tidak ribut? Siapa biang keladi yang menyebabkan perjanjian konyol seperti ini sampai ditandatangani? Untung di DPR kita yang norak itu ada yang teriak-teriak. Kali ini, apa pun kepentingan anggota DPR itu, teriakan mereka dalam posisi yang benar. Kalau hanya untuk mengejar aset para koruptor (yg konon 600 T) kita harus mengobankan teritori kita, wah itu nanti dulu lah. Tunggu lebaran monyet aja.

Ini dunia yang sudah serba canggih. Di samping teknologi, spionase dan konspirasi pun sangat canggih. Apa kita bisa percaya, bahwa kapal-kapal perang asing yang masuk perairan Indonesia semata-mata untuk berkunjung atau latihan perang? Kita terlalu bodoh untuk mempercayai sebatas itu. Mereka punya alat yang serba canggih untuk memindai sumber daya laut kita dari dekat. Jadi istilahnya, mereka bisa mengonfirmasi data temuan satelit dengan memindai dari jarak dekat. DCA memberi kesempatan untuk itu. Seharusnya, kapal perang asing (AS sekalipun) harus diperikasa dulu sebelum masuk wilayah pertahanan kita, meski alasannya hanya sekadar mampir atau untuk latihan bersama.

Ini benar-benar konspiratif. Namun, jika hari gini kita masih berfikir lurus-lurus saja , hanya pake logika tetapi menafikkan dialektika, kita akan digilas zaman. Segala tindakan negara pasti dilatarbelakangi kepentingan nasional mereka.Dan kepentingan nasional bisa saja digerakkan oleh pemerintah atau modal yang menguasai negara bersangkutan. Maka, dalam hal ini, benturan atau pun pertemuan kepentingan antarnegara harus benar-benar dioptimalkan dalam sebuah proses tawar-menawar. Diplomasi adalah salah satu jalan untuk itu. Embargo, boikot, protes, kecaman, kutukan, bahkan invasi adalah bentuk lain dari proses benturan kepentingan antarnegara.

Kembali soal Singapura tadi. Konyol sekali para diplomat kita ini. Apakah gaji mereka terlalu kecil sehinga bisa dibeli oleh bangsa lain? Ataukah mereka terlalu bodoh sehinga berdiplomasi saja ga beres?

Kalau mau diukur-ukur, Singapura itu hanya ibarat lalat yang hinggap di puncak hidung kita. Idealnya, lalat itu bisa kita tabok kapan saja. Tetapi yang ajaib di Indonesia, justru kita yang didikte oleh lalat itu. Mungkin dia sudah hinggap di puncak hidung kita sambil menancapkan super-microchip yang kemudian digunakan untuk mendikte gerak langkah kita. Huh, bangsa ini sungguh menyedihkan.

Dan mereka berani seperti itu bukan tanpa perhitungan. Pertama, mereka sudah perhitungkan bahwa Indonesia ini miskin dan bodoh, sehingga senjata materi dan sedikit lobi bisa sudah cukup untuk menaklukkan kita. Kedua, Singapura yakin ada negara kuat yang akan bediri di belakang mereka. Jika suatu saat ada apa-apa, mereka tidak akan diganggu, karena Indonesia takut dengan “sang pelindung Singapura”.

Kadang-kadang ada mimpi iseng yang muncul di kepala saya. Saya bermimpi suatu saat kita punya kerjasama pemipaan gas atau minyak langsung ke Singapura. Jika pipa itu sudah tersambung, dan penyakit congkak mereka kambuh lagi, pipa itu tidak lagi kita isi dengan minyak atau gas. Saya punya mimpi menyalurkan urine seluruh penduduk Indonesia ke Singapura. Mungkin dalam beberapa hari mereka bisa kita tenggelamkan dengan damai tanpa muntahan peluru satu butir pun. Ya, namanya juga mimpi.

Add comment June 22, 2007

Hari yang mendebarkan

tan-malaka.jpg Tanggal 20 Juli 2007, Harry Poeze, Direktur Penerbitan KITLV, penulis biografi Tan Malaka, akan ke Jakarta. Tujuannya adalah meluncurkan buku terbarunya tentang riwayat hidup Tan Malaka 1945-1949. Buku tersebut terdiri dari tiga jilid dengan jumlah halaman total 2.200 halaman dalam bahasa Belanda, gak tau deh jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Biasanya, kedatangan Poeze pasti akan disambut hangat, terutama oleh para pengikut dan pengagum Tan Malaka. Tapi saya berdebar-debar untuk kunjungan kali ini. Sebab isi buku terakhir ini akan membuka banyak hal. Ada yang melegakan dan ada pula yang mengkhawatirkan.

Dia akan membuka proses kematian Tan Malaka dan juga nama pembunuhnya. Poeze memang selalu merahasiakan ini, terutama tentang nama pembunuh Tan Malaka. Dia hanya pernah memberikan petunjuk bahwa orang itu pernah menjadi Walikota Surabaya pada tahun 1970-an. Meskipun pada awalnya agak ragu dengan kesimpulan itu, tetapi waktu pertemuan dengan saya bulan Januari lalu, dia sepertinya kembali yakin bahwa orang itulah orangnya.

Satu misteri sejarah Indonesia akhirnya terkuak. Akan ada beberapa perubahan penulisan sejarah setelah ini. Tetapi masih ada beberapa misteri kematian dan hilangnya pahlawan yang belum terungkap seperti Supriyadi dan Otto Iskandardinata. Semoga nanti juga akan ada yang berhasil menelusurinya. Hanya saja ada kesedihan juga, kenapa harus seorang Poeze, orang yang berasal dari negeri penjajah yang peduli dan berhasil menemukan jawaban misteri kematian Tan Malaka? Sedih..

Sebagai seorang pengagum Tan Malaka, saya sangat senang dengan terbitnya buku Poeze. Saya percaya dengan integritas beliau. Saya pernah mendampingi beliau waktu riset di Indonesia tahun 2004, dan dari sana saya yakin apa yang ditulisnya sebagai fakta adalah benar-benar temuan yang bisa dikonfirmasi.

Hanya saja, buku itu juga menakutkan. Sebab, Poeze dengan blak-blakan menyatakan bahwa Tan Malaka pernah diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia menggantikan Soekarno. Peristiwa itu terjadi setelah Sokarno, Hatta, dan Syahrir ditangkap Belanda pada Agresi Militer II. Tan yang waktu ada di Jawa timur, dengan segala keterbatasan informasi, diangkat oleh sebagian laskar sebagai peresiden berdasarkan Proklamasi 1945 dan UUD 1945. Tan menaggap bahwa terjadi kekosongan kekuasaan pascapenangkapan para petinggi republik di Jogja.

Bukankah tindakan itu bisa disebut sebagai pemberontakan? Atau kudeta terhadap kepemimpinan yang sah? Saya khawatir, nanti akan ada gerakan untuk menggugat kepahlawanan Tan Malaka. Bukan hanya sekadar soal status kepahlawanan, tetapi juga dalam soal penulisan sejarah. Saya khawatir justru karena ini kemudian eksekusi lapangan oleh seorang kroco Surachmat terhadap Tan Malaka kemudian diangap wajar dan benar. Sehingga penembakan itu kemudian bisa saja dianggap sebagi ekskusi terhadap pengkhianat, bukan sebagai sebuah tragedi terhadap seorang penjuang.

Ada beberapa pegikut Tan Malaka yang juga sangat khawatir dengan hal ini. Tetapi saya, sebagi seorang akademisi berusaha untuk menerima akhir hidup Tan Malaka yang amat tragis. Ya, memang sangat tragis, bukan hanya karena dia dieksekusi tanpa prosedur hukum, tetapi juga karena alur logika pembaca sejarah juga akan digiring untuk berfikir,” toh wajar pelaku kudeta dihukum oleh pemerintahan yang sah”.

Jujur, saya belum membaca buku Poeze itu. Cerita ini saya peroleh dari email-email Poeze. beberpa minggu terakhir. Semoga kekhawatiran ini tidak menjadi kenyataan. Jantung saya akan senantiasa berdebar, menunggu peluncuran buku itu di Indonesia. Tan Malaka, pilihan hidupmu penuh tragedi. Jangan-jangan setelah mati pun namamu tidak akan pernah ditulis dengan manis, melainkan  tetap dengan tragis. Jangan-jangan pembaca sejarah nantinya akan menganggapmu sebagai oportunis dan ambisius.

“dari ribuan pejuang republik ini, aku menempatkanmu pada puncaknya”

6 comments June 19, 2007

Sumpah Pemuda yang Mulai Terlupakan

Oleh Heppy Ratna Sari *

www.indomedia.com/poskup/2006/11/15/edisi15/1511hal02.pdf

ifk_sumpah_pemuda.jpg
SUMPAH Pemuda telah berusia 78 tahun. Meski masih

diperingati setiap tahun, semakin lama generasi muda semakin

acuh dengan peristiwa bersejarah ini.

Hanya beberapa kelompok saja, seperti pegawai pemerintah,

politikus, sejarawan, negarawan dan sejumlah orang yang masih

mengingat sejarah itu dengan baik yang masih

melakukan upacara peringatan perjuangan pemuda itu.

Gelora Sumpah Pemuda sepertinya mulai

menghilang di hati sebagian generasi muda Indonesia saat

ini. Mereka tidak hanya lupa kapan peristiwa itu terjadi,

tetapi juga isi dari sumpah yang mempersatukan bangsa

Indonesia tersebut.

Di tengah hiruk pikuk kota Jakarta, generasi muda

Jakarta seakan tidak lagi mempedulikan makna Sumpah

Pemuda. Mereka disibukkan dengan berbagai aktifitas

hiburan seperti berbelanja, bermain di pusat-pusat

permainan atau sekedar duduk-duduk dan bersenda

gurau di gerai-gerai makanan.

“Hari ini hari Sabtu, sudah jadi langganan bagi kami

berenam untuk jalan-jalan di kafe atau sekadar

memuaskan nafsu ‘lapar mata’,” kata Winda, seorang

siswi SMU negeri di Jakarta.

Ia bahkan sempat berpikir sejenak ketika mengingat

tanggal hari ini (28/10). “OK, ini tanggal 28 Oktober, apa

ada yang aneh. Ini kan akhir Minggu dan saat ini masih

libur sekolah,” katanya sambil meninggikan alisnya.

Setelah berpikir sejenak, gadis berkacamata ini akhirnya

menyadari makna tanggal 28 Oktober.

“Oh iya, hari inikanperingatan Sumpah Pemuda.

Kita lupa, maklum karena liburan sekolah jadi tidak ingat.

Biasanya, kalau di sekolah selalu ada guru yang

mengingatkan untuk melakukan upacara,” ujarnya

sambil membenahi posisi duduknya.

Baginya, peringatan Sumpah Pemuda adalah sebuah

rutinitas tahunan. Ia hanya memaknainya tak lebih hanya sebagai

sebuah peringatan saja. “Sumpah Pemuda kan sudah diajarkan

dalam mata pelajaran sejarah. Jujur, saya pribadi merasa tidak

terbebani dengan adanya Sumpah Pemuda. Itu kandulu, kalau

sekarang sudah berbeda. Jadi kalau ditanya apa masih peduli,

susah juga menjawabnya,” katanya.

Lebih dari setengah abad peringatan hari di mana

diikrarkannya pengakuan bertumpah darah yang satu, tanah

Indonesia, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia dan

menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Namun, kini

ikrar tersebut hanya menjadi wacana yang harus dihafal oleh

sebagian generasi muda.

Namun, setiap individu memiliki hak untuk memaknai

Sumpah Pemuda. Bagi Winda, Sumpah Pemuda hanyalah sebuah

peringatan kenegaraan yang wajib dilakukan, tetapi bagi seorang

pekerja seni Tommy Kurniawan, ini adalah sebuah momen-

tum bagi generasi muda untuk mawas diri.

“Generasi muda saat ini sebenarnya cukup solid, rasa

persaudaraannya dan kepedulian yang tinggi. Hanya saja me-

reka memanfaatkannya untuk kegiatan yang mereka suka dan

tidak diarahkan untuk kegiatan yang bersifat sosial,” ujarnya.

Ia mengatakan sebagian generasi muda saat ini

cenderung acuh tak acuh terhadap kondisi sosial negara dan

memiliki nasionalisme yang kurang.

“Saya rasa masih bisa diarahkan, karena sebenarnya

mereka adalah anak-anak yang baik dan berpotensi. Hanya

saja wadah untuk kegiatan mereka lebih banyak untuk

bersenang-senang,” kata artis yang lahir di tahun 1984 ini.

Bukan hal yang tidak mungkin bagi generasi muda saat ini

untuk kembali memiliki semangat nasionalisme yang tinggi,

katanya.

Tinggal sejarah

Bagi penulis buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka,

Hasan Nasbi, kaum muda merupakan bagian dari kultur

dunia yang saat ini dikendalikan oleh konsumsi dan hiburan.

Mungkin selebriti sudah menjadi salah satu kiblat figur kaum

muda saat ini. Jika demikian, sulit menghalangi mereka untuk

tidak meniru dan melakukan imitasi, katanya

“Menurut saya, jangan-jangan menjadi ganteng atau cantik,

terkenal, banyak uang, banyak penggemar, dan nongol di teve

adalah idealitas kaum muda saat ini. Setiap varian hidup

sebenarnya sah-sah saja. Namun, seperti kata Muhammad,

manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi

manusia lain,” katanya.

Ia berpendapat kondisi kaum muda saat ini mengece-

wakan. Menurut dia, sebagian besar kaum muda adalah para

pengikut arus zaman yang setia. “Apapun arus zaman, maka

sebagian besar gerbongnya diisi kaum muda, tanpa peduli

arus itu membawa kebaikan atau tidak. Sebagian besar

kaum muda mengalami apa yang disebut sebagai ‘poverty

of philosphy’, miskin filsafat hidup. Jangan-jangan ini karena

kita juga tidak terbiasa belajar filsafat,” kata pria yang suka

menulis sejak SMA ini.

Ia membenarkan jika semangat Sumpah Pemuda di

hati generasi muda hampir mati. Secara pribadi ia mengakui

tidak lagi merasakan semangat Sumpah Pemuda.

“Padahal saya adalah pembaca dan peminat sejarah

Indonesia. Bagaimana dengan pemuda yang tidak membaca

sejarah? Mungkin mereka akan lebih jauh lagi dari spirit

Sumpah Pemuda. Atau jangan-jangan juga tidak tahu butir-

butir kesepakatan pemuda waktu itu?,” katanya.

Sumpah Pemuda adalah sebuah prestasi gemilang

anak-anak muda Hindia Belanda saat itu, katanya. Pada

masa itu, seluruh pelaku Sumpah Pemuda adalah aktivis

pergerakan. Namun saat ini, aktivis pergerakan tidak lagi

berfikir untuk Indonesia.

“Mereka ‘menjual’ gerakan untuk karir politik dan

sudah pula membiasakan diri dengan kotornya kehidupan

para politisi senior. Pola ‘patron-client’ dalam kehidupan aktifis

pergerakan telah membunuh semangat kaum muda untuk

berfikir tentang Indonesia,” kata pria yang pernah bekerja sebagai

sekretaris penulis buku biografi Tan Malaka, Dr. Harry Poeze.

Ia juga mengatakan sulit membayangkan aktivis muda saat

ini berkumpul dan membahas tentang ke-Indonesiaan dan

merencanakan sesuatu untuk Indonesia. Mungkin Sumpah

Pemuda benar-benar telah menjadi sejarah. Ia tinggal dalam

catatan dan buku pelajaran.

“Indikatornya gampang. Saat Indonesia terkoyak oleh

disintegrasi sosial seperti di konflik di Poso, dan disintegrasi

nasional seperti di Aceh dan Papua, kemana para pemuda kita?

Pemuda kita (termasuk saya) berkutat untuk hidup, menjadi

sukses, kaya, dan punya kehidupan pribadi bahagia,” katanya. ***

* Penulis, wartawan Kantor Berita Antara

4 comments June 19, 2007

Biarkan Mereka Berperang

palestinaPerang sesama saudara di Palestina sudah pecah. Ini bukan lagi sekadar bentrok kecil di jalanan antara milisi Fatah dengan Hamas, melainkan sudah berkobar menjadi perang. Dua wilayah yang menjadi otoritas Palestina (Tepi Barat dan Jalur Gaza) sudah berubah menjadi ajang bertukar peluru, mortir, dan roket di antara sesama pejuang Palestina.

Gaza adalah basis Hamas. Di sini mereka dengan mudah menaklukan Milisi fatah. meski punya lebih banyak senjata dan uang, mental bertempur Fatah tidak sekuat Hamas. Makanya 600 milisi fatah yang mempertahankan markas besar mereka di Gaza terpaksa menyerah kepada 200 pasukan bertopeng Hamas. Hamas tidak perlu mengerahkan seluruh kekuatan untuk melibas Fatah. Hari ini, seluruh sudut dan jalanan Gaza adalah milik pasukan Hamas.

Lain halnya di Tepi Barat. Di sini posisi Fatah lebih unggul. Mereka tentu saja berusaha membalas kekalahan dari Hamas. Namun, belum jelas, apakah Hamas benar-benar takluk di daerah ini. Rasanya, tidak begitu mudah. Meskipun sedikit, Hamas punya militansi yang tak bisa dilawan pasukan Fatah. Kita lihat saja hasilnya.

Tapi norak, tiba-tiba PBB ingin menempatkan pasukan perdamaian di Palestina. Sebab , pertempuran itu dikhawatirkan makin meluas dan akan menimbulkan korban yang lebih banyak lagi. Eit.. tungu dulu Pak PBB! Kenapa tiba-tiba anda seperti orang baik yang ingin menempatkan pasukan perdamaian di sana? Sementara lebih dari setengah abad Israel mencapolok wilayah Palestina anda biarkan saja?

Wah, tuan PBB yang menjadi kepanjangan tangan polisi dunia sepertinya mendapatkan momentum untuk masuk secara resmi ke Palestina. Atau jangan-jangan momentum ini justru sengaja diciptakan berhubung pemerintahan Hamas belum juga tumbang meskipun sudah diembargo dan diisolasi sejak Februari 2006. Dan memang, karena pasukannya keteteran, Presiden Mahmoud Abbas sudah menyatakan ingin membubarkan pemerintahan. Tidak tertutup kemungkinan sebentar lagi dia juga akan meminta pasukan asing ditempatkan di negerinya.

Konflik Hamas-Fatah adalah konflik dalam negeri. Memang, mungkin saja ada campur tangan pihak luar dalam konflik itu supaya menguntungkan Israel dan sekutunya. Tetapi tetap saja, itu adalah konflik sesama warga negara Palestina. Idealnya, jika itu murni konflik internal, terlepas dari seberapa besar sumber daya yang mereka perebutkan, mereka akan sampai pada satu titik penyelesaian. Berdasarkan teori struktural fungsional, konflik akan menjadi gangguan keseimbangan sebuah sistem sosial. Namun, sistem sosial itu juga akan mencari cara sendri untuk mencapai keseimbangan baru. Bila dua orang anak berkelahi, tidak akan bermusuhan dalam jangka waktu yang lama. Mereka akan segera menemukan momentum untuk berdamai. Namun, jika ada orang lain yang selalu memanas-manasi, misalnya orang tua, bisa jadi hubungan kedua anak itu akan lebih sulit untuk diperbaiki.

Konflik internal idealnya berada dalam tingkatan dialektika persatuan dari segi-segi yang bertentangan. Atau dengan kata lain, konflik yang masih bisa selesai dengan negosiasi. Ini sudah mereka coba satu tahun terakhir. Jika saja tidak diisolasi dunia, problemnya tidak akan serumit ini. Persatuan dari segi-segi yang bertentangan masih cukup logis jika mereka tidak harus menghadapi tangan2 asing yang mengacak-acak pemerintahan melalui segala cara. Penyelesaian itu bisa saja berupa konsensus bersama karena sudah sama-sama kelelahan.

Hanya saja, bila konflik sudah tidak mungkin didamaikan lagi, mereka berada dalam posisi negasi daar negasi. Mereka harus saling membinasakan. Saat satu kelompok bisa membungkam habis kelompok lainnya, maka perdamaian baru bisa terwujud. Dalam konteks ini, perang adalah jalan yang logis. Ini mirip dalam kasus separatisme seperti PRRI dan Permesta atau kasus DI-TII. Harus ada yang binasa agar sebuah negara bisa fokus untuk menjalankan perannya.

Jadi, untuk saat ini, biarkan Hamas dan Fatah berperang. Mereka akan sampai pada penyelesaiannya sendiri. Pasukan internasional untuk perdamaian adalah adalah penipuan. Pasukan itu nanti tidak lebih dari sebuah tentara pendudukan. Apalagi PBB hanyalah boneka kepentingan AS. Pasukan perdamaian yang akan dikirm ke Palestina tidak lebih dari kendaraan Agen Spionase dan konspirasi yang akan melucuti kekuatan anti- AS dan Israel. Lalu, kekuatan itu diganti dengan boneka yang lebih ramah terhadap Israel dan AS. Korban kemanusiaan tidak akan berhenti dengan campur tangan asing. Sebab, niscaya campur tangan itu tidak ada yang benar-benar tulus. Malah korban kemanusiaan akan terus berlanjut, malah mungkin saja lebih besar. Sebab, musuh bangsa Palestina akan bertambah, yaitu Bangsa Israel dan juga pasukan perdamaian. Sekarang, biarkan saja mereka selesaikan pertempuran di dalam negeri. Setelah itu, mereka harus bersiap melakukan pertempuran yang lebih besar dengan Israel.

Selamat berperang Hamas dan Fatah,

2 comments June 15, 2007

Berburu dan Meramu

manusia purbaOrangnya pintar, pasti dong, lha wong masternya di Universitas Ohio dan sekarang calon doktor di Universitas Harvard. Tapi sayang, kalau nulis (bahkan cuma untuk komentar ringan di milis pun) selalu mengutip pakar-pakar asing. Seolah-olah dia gak pede kalau gak ngutip barang satu atau dua pakar yang namanya susah dieja dengan lidah orang Indonesia. Apalagi kalau udah nulis, wuihh udah deh, puluhan atau bahkan ratusan kutipan dan nama-nama aneh bersileweran dalam tulisannya.

Ini adalah fenomena intelektual kampung (an). Sindrom orang kampung yg datang ke kota. Lalu supaya dianggap kota (an), maka dia harus menggunakan “atribut-atribut kota” saat berhadapan dengan orang lain. Padahal orang kota beneran, ga perlu kaya gitu, atau ga senorak itulah, karena dia sudah pede bakal dianggap sebagai orang kota.

Nah, intelektual kaya gini juga mengalami sindrom yang mirip. Dia merasa tidak terlalu pede jika gak ngutip. Serasa omongannya kurang ilmiah, atau seolah-olah dia takut dianggap orang bego sehingga perlu melampirkan kutipan dari tokoh tertentu.

Sebagai penguat argumentasi, sah-sah saja jika kita melakukan kutipan, apalagi dari orang yang memiliki otoritas tinggi dalam hal tertentu. Namun, bila kebanyakan malah lucu. Kita gak tau mana yang merupakan argumentasi yang bersangkutan dan mana argumentasi tokoh yang dikutip. Atau jangan-jangan orang kampung macam ini sedang bermain dengan dua strategi adu gagasan. Strategi pertama adalah bahwa jika argumentasi itu benar, maka dia ikutan nebeng sebagai orang yang benar. Sebab, toh jika saya mengutip orang tertentu itu bearti saya juga memilki pendapat yang sama. Strategi kedua adalah lari dari kesalahan, sebab jika ternyata analisa berdasarkan kutipan itu salah, maka dengan enteng pun dia akan menjawab, lha saya khan cuma ngutip. Kalau ternyata salah, silahkan salahkan Huntington, Rhodee, Geertz, Duverger, Comte dan lain-lainnya itu.

Gaya seperti ini lazim kita temukan di kalangan tertentu, biasanya lulusan Amerika dan S1-nya berasal dari sebuah perguruan tinggi di Ciputat. Kalau tulisan atau omongan mereka tidak bertabur kutipan serasa kurang afdol. Makanya jangan heran, jika kita baca tulisannya, walau cuma lima halaman, tetapi bisa dengan puluhan kutipan dan lebih dari sepuluh daftar pustaka. Ck..ck..mantap. Kalau bikin skripsi, thesis,atau disertasi saya yakin di bagian belakang akan tercantum bukan lagi sekadar daftar pustaka, tetapi daftar buku di perpusatakaan. Dahsyat bo.

Orang macam ini sebenarnya orang yang biasa-biasa saja kecerdasannya. Cuma, mereka punya spirit yang luar biasa untuk maju. Ini positif sekali. Cuma ke-kampungannya tidak bisa ditinggalkan. Meskpun sudah doktor, gak pede juga untuk berpendapat sendiri sehingga harus cari kutipan lagi. Sebenarnya sayang, mereka jadi rujukan orang banyak dengan bunga-bunga kutipan itu. Padahal, orang-orang macam ini masih berada di level terendah peradaban manusia, yaitu berburu dan meramu. Mereka berburu bacaan dan meramu kutipan di sana-sini..dan jadilah sebuah tulisan atau gagasan yang diklaim sebagi pendapat sendiri.

Semoga saya terlindung dari kekampungan yang seperti ini

4 comments May 30, 2007

Suling dan Ular yang Aneh

ular-kobra.jpgSuatu sore di Republik Mangkuprit, 25 Mei 2007, muncul seorang peniup suling ular di tengah keramaian, persis di depan pendopo istana. Namanya Amin. Dia sesumbar bisa mengeluarkan seluruh-ular-ular di negeri Mangkuprit agar bisa ditangkap dan dimusnahkan oleh penduduk. Pasalnya, sudah lama penduduk resah dengan keberadaan ular-ular yang sering memakan ternak ayam mereka.

Amin pun tidak membiarkan penduduk menunggu lama. Sekelebat, seruling ular sudah berpindah dari dalam buntelan ke kedua tangannya. Amin pun beraksi memainkan nada yang paling tidak bisa dihadapi oleh ular mana pun di negeri itu. Ia memainkan alunan nada Daulat Kesaktian Pawang (DKP).

Tidak lama kemudian, ratusan ular beragam jenis keluar dari sarang. makhluk-mangkluk buas itu meliuk-liuk mengikuti lantunan seruling Amin. Mereka tidak kuasa bertahan di dalam sarang yang nyaman karena irama seruling Amin begitu menghentak syaraf dan naluri ke-ular-an mereka. Jadilah mereka terpaksa keluar sarang meski itu di luar kemauan. Penduduk pun dengan leluasa segera menemukan sekaligus melumpuhkan biang masalah yang selama ini membuat mereka resah.

Tapi, tiba-tiba, dari dalam istana muncul seekor ular yang sangat besar, mungkin sejenis olar boa yang sanggup memakan kambing. Ular raksasa ini pun tak tahan dengan nada yang dimainkan Amin. Meskipun mencoba bertahan, tubuhnya tak kuasa untuk tidak berjoged sambil mendekati arah suara seruling.

Anehnya, di sela-sela joget-nya yang menghentak itu, sang ular ini berteriak-teriak kepada kalayak ramai yang berkumpul di depan Istana: ” Sumpah saya bukan ular. Saya tidak pernah memakan ternak anda. Percaya deh, saya ini bukan ular. Saya hanya difitnah. Harga diri dan martabat saya telah dicemarkan. Coba lihat KUHP deh. Orang yang mencemarkan nama baik saya bisa dihukum. Tapi saya tidak akan menuntut. Cuma, tolong hentikan fitnah terhadap diri saya. Yakinlah, saya bukan ular, dan saya tidak memakan ternak anda,”

Warga yang berkumpul di depan istana terperangah. Mereka kaget bukan main. Hanya saja, di dalam kepala warga benar-benar tertulis kalimat keheranan yang sama.” DASAR ULAR YANG ANEH!,”

..he..he

Add comment May 28, 2007

Ketaatan pada negara

lapindo.jpgAda ribuan orang tercerabut dari tempat tinggal mereka akibat ulah perusahan serakah yang lalai. Logisnya, semua kerugian itu diganti oleh perusahan bersangkutan. Namun, mana ada pemodal yang jujur? Tabiat pemodal selalu sama, dan ini berlaku di mana-mana, bahwa dengan modal yang sangat minimal untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Lha, ini untung aja kaga dapat, moso’ mau ngeluarin ongkos ganti rugi yang sangat banyak..gitu..

Sialnya lagi, kejahatan seperti ini dibiarkan oleh negara. Meskipun berapa kali terlihat ada perhatian, tidak lebih hanya sebagai angin surga. Hanya janji-janji, tapi tidak untuk dinikmati di dunia ini.

Bisa juga, perhatian yang diberikan hanya untuk memecah barisan warga yang menjadi korban, sebab, mereka bisa bacok-bacokan sendiri ketika sebagian diberikan kompensasi sementara yang lain tidak. Kepentingan yang beragam di antara warga yang menjadi korban juga bisa menyebabkan mereka ribut dan bunuh-bunuhan sendiri. Hal itu bisa dijadikan alasan si empunya Lapindo untuk berdalih menunda ganti rugi, lha mereka sendiri gak kompak kok!

Kejadian ini bisa berlarut-larut hanya karena negara kita lalai. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebagai representasi negara pura-pura budek, atau mungkin takut untuk memerhatikan tuntutan warga. Ketakutan pemerintah (atau mungkin sengaja untuk mengabaikan?) presiden sangat kentara mengingat beberapa bencana nasional (Lumpur Lapindo dan tragedi Adam Air) tidak diusut sebagaimana mestinya hanya karena kebetulan disebabkan oleh perusahaan milik petinggi Golkar. Kebetulan lagi, mereka juga memegang posisi penting di republik ini. Padahal, apa susahnya bagi presiden untuk menunjuk hidung salah satu bawahannya agar bekerja keras menyelesaikan hal ini. Kalau tidak beres, sang pejabat itu diganti saja.

Jika sudah carut-marut seperti ini, negara Indoensia, yang diwakili oleh pemerintahan SBY, sudah sangat zalim. Mereka dengan sengaja sudah meniadakan sesuatu yang bisa mengikat warga negara untuk setia. Jika warga negara merasa sudah diabaikan oleh negara, dan hak mereka untuk hidup layak dibiarkan dicabut paksa oleh pihak lain, maka mereka berhak mempertanyakan urgensi kesetiaan terhadap Indoensia, “apakah kami masih warga negara Indonesia”.

Sangat bagus iklan tayangan Republik Mimpi yang mengangkat pernyataan warga korban Lapindo. Dalam tayangan itu diperlihatkan bahwa korban Lapindo akan mencari suaka ke tiga tempat, yaitu AS, Australia, atau Republik Mimpi. Ini adalah sindiran yang sangat tajam. Semacam pembangkangan karena merasa sudah tidak dijamin lagi oleh negaranya. Namun sayang, pemerintah tidak menggunakan kuping sebagaimana mestinya. Kuping pemerintah ditaruh di dekat liang duburnya, sehingga hanya bunyi kentut yang bisa kedengaran.

Saudara-saudara yang menjadi korban Lapindo, camka dalam pikiran kalian semua bahwa kalian berhak untuk marah, sebesar apa pun kemarahan yang kalian miliki. Anda berhak untuk tidak lagi setia kepada republik ini. Kalian berhak untuk tidak lagi menaati aturan main di negara ini. Kalian berhak untuk mencari suaka, kalian berhak memberontak, bahkan, kalian berhak untuk melakukan kekerasan untuk berjuang. Sebab, mungkin hanya dengan itu kalian didengarkan. Berjuang dengan cara baik-baik seringkali tidak tuntas, karena kalian berhadapan dengan iblis yang menjelma di atas dunia. Segala tipu daya dan kelicikan adalah milik mereka, sehingga kalian hanya akan diperdaya.

Hancurkanlah sesuatu yang menurut pemrintah penting. Sabotase tempat yang dianggap strategis. Memang, kalian akan berhadapan dengan polisi, mungkin juga tentara, atau kelompok preman yang dibayar oleh iblis, atau turunan iblis. Tetapi, barangkali hanya dengan itu bola salju bisa digulirkan. Bila bola salju sudah bergulir, apa pun akan dilindas. Kalian butuh martir yang mati untuk perjuangan ini, karena orang Indonesia itu cuek, dan terlalu sibuk memikirkan kebutuhan hidup mereka masing-masing. Kalian tidak akan jadi bahan perhatian sebagaiman mestinya sebelum ada sesuatu yang luar biasa. Mungkin satu atau dua kematian bisa memancing simpati buat kalian. Selamat berjuang saudaraku.

Unek-unek hari Rabu, 24 April 2007

Mangkuprit

Add comment April 25, 2007

Spesialis Pilkada

drunken_master.jpgPAN sudah sehati dengan PKB. Sarwono Kusumaatmadja (SK) sebagai calon gubernur DKI dari PKB sudah diterima oleh PAN. Sebagai imbalannya, PAN memasang Jeffry Geovannie (JG) sebagai calon wakil gubernur. Wah, meskipun masih kurang sekitar 4% suara lagi, pasangan ini punya peluang untuk berlaga bersama Foke dan Adang.

Kasian Agum dan Rano. Dua kandidat paling potensial untuk jadi Gubernur dan Wagub malah tersingkir keluar gelanggang sebelum bertanding. Ini pelajaran baru bagi para kandidat potensial yang tidak menggandeng konsultan tangguh, mereka dibuat kalah sebelum bertanding

Namun, yang menarik adalah JG. Bukankah orang ini adalah salah satu calon gubernur di Sumbar tahun 2005 silam? Dia kalah telak adu kesaktian dengan Gamawan Fauzi, Padahal, konon sudah menghabiskan 18 M.

Mantan Ketua PAN Bali ini memang fenomenal, meski bukan fenomena positif. Bak bajing loncat, dia pindah dari satu Pilkada ke Pilkada lainnya. Seolah-olah, Pilkada adalah lowongan kerja yang harus diburu walaupun sampai ke negri Cina..he..he

JG, kalau dia mau, bisa memecahkan rekor peserta Pilkada langsung paling sering. Kalau nanti di Jakarta juga kalah, masih banyak Pilkada di tempat lain.

Bravo uda Jeffri, masih ada sekitar 17 Pilkada Provinsi di Indonesia sepanjang 2007-2008. Uda bisa juga melamar di Bali, Jawa Barat, Riau, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dll. Atau, kalau sudah ga kuat di Pilkada provinsi, lowongan masih terbuka di sekitar 40-an Pilkada kabupaten/kota. Peluang masih terbuka bung…maju terus..masih banyak Pilkada di tempat lain. Kalau perlu survey Pilkada seblum maju, kami bersedia membantu…he..he dasar oon..

Add comment April 20, 2007

Next Posts Previous Posts


Blog Stats

 

November 2009
M T W T F S S
« Feb    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives

Recent Posts

Blogroll

Recent Comments

rintho on Berburu dan Meramu
Berburu dan Meramu I… on Berburu dan Meramu
murdin on Memahami Survei Politik
madaff on About
Hafil on Mencari Kubur Tan Malaka (Malu…

dodol

More Photos

Data Pribadi Empunya Blog

Hi, Nama saya Hasan Nasbi A Asal Sumatera Barat Lulusan Ilmu Politik UI Pernah bekerja sebagai Wartawan Kompas (2005-2006) Sejak 2006-awal 2008, saya bekerja sebagai peneliti di Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia. Saat ini saya bekerja sebagai Program Manager di Indonesian Research and Development Institute. Sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk penelitian terutama survey pra-Pilkada di berbagai provinsi dan kabupaten/kota. Saya sangat suka dengan bacaan bertema kiri, Amerika Latin, Timur Tengah, Konspirasi, dan Pemikiran Politik. Blog ini bukan dimaksudkan untuk menyajikan tulisan yang ilmiah dan teoritis. Blog ini hanya sekadar tempat melepaskan unek-unek agar tidak muncul menjadi jerawat. Makanya, jangan heran jika sering ditulis dengan bahasa sinis, ketus, atau bahkan marah-marah. Kritik dan komentar anda sekalian adalah sumbangan berharga bagi saya.