About
This is an example of a WordPress page, you could edit this to put information about yourself or your site so readers know where you are coming from. You can create as many pages like this one or sub-pages as you like and manage all of your content inside of WordPress.
6 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
mangkuprit | April 25, 2007 at 12:57 pm
My Name is Hasan Nasbi A
Born in Bukittinggi, a very beautiful city in West Sumatra, 11 Oct 1979.
Now I work at Center for Political Studies, University of Indonesia
I’am interensted in philosophy, conpiracy, left book, and political economy.
2.
kriminologi | April 26, 2007 at 7:52 am
Hahahahaha, mantab bro, lanjutkan!!
3.
iwansulistyo | February 11, 2008 at 4:58 am
Salam kenal, Mas. Thx.
4.
amie | February 21, 2008 at 7:52 am
Da…
kalau Imam Bonjol dan FPI sekarang sama nggak??
sama2 Islam wahabi yang cenderung represif????
btw…sebenarnya minang kabau sekarang adalah salah satu bentuk kemenangan kaum wahabi bukan???
hehehe…. tiba2 otak memikirkan hal yang lain pas baca tulisan tentang Tan Malaka….
5.
mangkuprit | February 25, 2008 at 3:31 am
Wah, mi, pertanyaan org yg kuliah di Norway memang susah dijawab euy..
Kita ga bisa bilang kaum wahabi menang di Minangkabau. Perjanjian Bukit Marapalam lebih kepada konsensus bersama untuk melawan Belanda. Keberadaan adat tetap diakui meskipun kemudian harus tunduk kepada hukum tertinggi (Kitabullah). Meskipun Syarak dan kitabullah ditinggikan dari adat, namun adat tidaklah mati. Sepanjang sejarah minangkabau, justru wahabi tidak terlalu berkembang kecuali haya di beebrpa daerah saja.
Wahabi bawaannya Haji Miskin dkk serta harimau nan salapan itu memang sangat keras. Selain kebiasaan adu ayam, konon makan sirih pun dilarang. Nah,oleh sebab itu sebenarnya aliran Islam yang bercampur tradisi kemudian lebih diterima oleh masyarakat. Ambo kurang terlalu paham sejarahnya, tapi mungkin itu yg ambo ingat.
Nah, yg terjadi setalah era 90-an..terjadi gelombang radikalisasi baru yang dibawa oleh anak-anak muda yang ahistoris. Radikalisasi keislaman yg sempit jugamuncul di beberpa daerah. Coba lihat dek, ada beberapa kabupaten /kota yang mewajibkan jilbab.Astaga.! sampai cara berpakaian pun sudah dicampuri oleh pemerintah. Seolah-olah dengan menutup aurat hidup masyarakat akan bahagia. Ini semacam kebijakan populis untuk mengesankan pemerintah terdiri dari orang-orang yg taat. Dan, dasar, memang masyarakat mudah ditipu!..merka lupa,,bahwa pemerintah punya kewajiban mebahagiakan dan menyejahterakan masyrakat.
Nah bagaiman dengan FPI? Kemunculan FPI dan laskar sejenis tidak bisa dianalisa seperti kemunculan wahabi di Minangkabau abad XIX. Kemunculan organisasi paramiliter, apapun benderanya, harus dianalisa dengan pisau ekonomi politik. Ada simbiosis antara elote politik, modal, dan preman. Maka muncullah satuan-satuan para militer. Meskipun berbaju agama, mereka tidak berniat memurnikan Islam kok. Lha tingkah mereka aja ga Islami…
Sorry,mi…ngejawabnya juga ngalantur
6.
madaff | September 24, 2008 at 6:17 am
Ondeh ,barek blognyo mah…
Baa kaba?
*Ade-nyo Sony*
(lai ingek?)