Republik dalam Mimpi Tan Malaka

August 24, 2008

Oleh: Hasan Nasbi A. – Program Manager Indonesian Research and Development Institute, penulis buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka (LPPM Tan Malaka, 2004)

Dr Alfian menyebut Tan Malaka sebagai revolusioner kesepian. Mungkin tidak berlebihan. Tan Malaka memang pejuang kesepian dalam arti sesungguhnya. Sekitar 20 tahun (1922-1942) Tan Malaka hidup dalam pembuangan, tanpa didampingi teman seperjuangan. Beberapa kali dia harus meringkuk di penjara negara imperialis saat berada di Filipina dan Hong Kong, serta selama dua setengah tahun dipenjarakan tanpa pengadilan oleh pemerintah republik yang ia cita-citakan.

Sebagai pelarian dan tahanan, Tan tak pernah berhenti memikirkan nasib Negeri Hindia Belanda. Banyak gagasan yang lahir selama masa pelarian itu. Namun Tan Malaka tak punya cukup kesempatan untuk mendialektikakan gagasannya dengan tokoh-tokoh pejuang lain. Ada perbedaan waktu dan pengalaman sejarah yang membuat Tan Malaka berjarak dengan pengikut-pengikutnya yang kemudian berada dalam barisan Partai Murba. Meski tetap dijadikan idola hingga saat ini, perangai dan prinsip perjuangan Tan sungguh tak bisa diikuti oleh siapa pun. Hatinya terlalu teguh untuk diajak berkompromi dan punggungnya terlalu lurus untuk diajak sedikit membungkuk.

Kita bisa melihat beberapa contoh bahwa memang sulit mencari manusia yang bisa mengikuti kekerasan hatinya. Adam Malik, misalnya, adalah kader Partai Republik Indonesia yang sangat memuja Tan Malaka. Namun, di tangan Adam Malik, segala persoalan bisa menjadi superfleksibel. M. Yamin adalah pengikut Tan Malaka yang juga mendirikan Persatuan Perjuangan pada 1946. Persatuan Perjuangan adalah ikon diplomasi bambu runcing. Organisasi ini didirikan sebagai antitesis politik berunding yang dirintis oleh Kabinet Sjahrir I. Tapi, belakangan, Yamin juga menjadi anggota tim dalam Konferensi Meja Bundar pada 1949, sesuatu yang secara prinsip ditentang dalam ”Program Minimum” Persatuan Perjuangan Tan Malaka.

Di tengah kesepian dan kesulitan memperoleh pengikut yang kukuh itulah ia melahirkan gagasan-gagasan yang jernih, asli, bahkan mengagetkan. Mungkin gagasan itu tak sepenuhnya bisa diikuti, tapi jelas penuh inspirasi. Soal pelaksanaannya bisa dicocokkan dengan keadaan yang berkembang.

Gagasan Tan Malaka tentang Republik Indonesia tersebar di banyak buku. Ia tak punya kesempatan untuk menuliskannya secara tuntas. Gejolak revolusi mengharuskan revolusioner seperti Tan berada dalam kancah perjuangan fisik ketimbang di belakang meja. Namun, lewat antara lain buku Menuju Republik Indonesia (1926), Soviet atau Parlemen (1922), serta Madilog (1942), kita bisa menyatukan mozaik gagasan republik yang tercerai-berai itu. Tak sulit untuk menyatukan mozaik ini, karena Tan selalu menunjukkan pola pemikirannya.

Tan memberikan perumpamaan tentang burung gelatik untuk menjelaskan republik yang ia angankan. Burung ini terlihat seperti makhluk yang lemah. Banyak yang mengancamnya. Di dahan yang rendah, dia harus waspada terhadap kucing yang siap menerkam. Tapi dahan yang lebih tinggi juga bukan merupakan tempat yang aman baginya. Ada elang yang siap menyambar sang gelatik sehingga hidupnya tak merdeka. Ia hidup penuh ketakutan dan dengan perasaan terancam. Serba tak bebas. Bagi Tan Malaka, Indonesia harus bebas dari ketakutan seperti ini. Bebas dari belenggu dan teror pemangsa.

Tapi, jika burung gelatik berada dalam satu rombongan besar, ia akan bebas menjarah padi di saat sawah sedang menguning. Burung gelatik, yang sesaat lalu terlihat seperti makhluk yang lemah, bisa berubah drastis menjadi pasukan penjarah yang rakus tiada ampun. Keringat petani selama empat bulan terbuang sia-sia. Padinya habis disantap sekawanan gelatik.

Selain bebas dari penjajahan, merdeka bagi Tan Malaka bukan berarti bebas menjarah dan menghancurkan bangsa lain. Merdeka itu dua arah: bebas dari ketakutan dan tidak menebar teror terhadap bangsa lain. Inilah prinsip Indonesia merdeka.

Setelah merdeka, bangunan Indonesia harus punya bentuk. Ketika para pejuang lain baru berpikir tentang persatuan, atau paling jauh berpikir tentang Indonesia Merdeka, Tan Malaka sudah maju beberapa langkah memikirkan Republik Indonesia. Brosur Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) sudah ditulis di Kanton, Cina, pada 1925, tiga tahun sebelum deklarasi Sumpah Pemuda.

Tan Malaka tegas bahwa eks Hindia Belanda harus menjadi Republik Indonesia. Namun republik dalam gagasan Tan Malaka tak menganut trias politika ala Montesquieu. Republik versi Tan Malaka adalah sebuah negara efisien. Republik yang dikelola oleh sebuah organisasi.

Tan Malaka sejatinya tak percaya terhadap parlemen. Bagi Tan Malaka, pembagian kekuasaan yang terdiri atas eksekutif, legislatif, dan parlemen hanya menghasilkan kerusakan. Pemisahan antara orang yang membuat undang-undang dan yang menjalankan aturan menimbulkan kesenjangan antara aturan dan realitas. Pelaksana di lapangan (eksekutif) adalah pihak yang langsung berhadapan dengan persoalan yang sesungguhnya. Eksekutif selalu dibuat repot menjalankan tugas ketika aturan dibuat oleh orang-orang yang hanya melihat persoalan dari jauh (parlemen).

Demokrasi dengan sistem parlemen melakukan ritual pemilihan sekali dalam 4, 5, atau 6 tahun. Dalam kurun waktu demikian lama, mereka sudah menjelma menjadi kelompok sendiri yang sudah berpisah dari masyarakat. Sedangkan kebutuhan dan pikiran rakyat berubah-ubah. Karena para anggota parlemen itu tak bercampur-baur lagi dengan rakyat, seharusnya mereka tak berhak lagi disebut sebagai wakil rakyat.

Konsekuensinya adalah parlemen memiliki kemungkinan sangat besar menghasilkan kebijakan yang hanya menguntungkan golongan yang memiliki modal, jauh dari kepentingan masyarakat yang mereka wakili. Menurut Tan, parlemen dengan sendirinya akan tergoda untuk berselingkuh dengan eksekutif, perusahaan, dan perbankan.

Kalau kita tarik ke zaman sekarang, mungkin Tan Malaka bisa menepuk dada. Dia akan menyuruh kita menyaksikan sebuah negara yang parlemennya dikuasai oleh wakil buruh, seperti Inggris, kemudian menyetujui penggunaan pajak hasil keringat buruh untuk berperang menginvasi negara lain.

Akhirnya, parlemen di mata Tan Malaka tak lebih dari sekadar warung tempat orang-orang adu kuat ngobrol. Mereka adalah para jago berbicara dan berbual, bahkan kalau perlu sampai urat leher menonjol keluar. Tan Malaka menyebut anggota parlemen sebagai golongan tak berguna yang harus diongkosi negara dengan biaya tinggi.

Singkatnya, keberadaan parlemen dalam republik yang diimpikan Tan Malaka tak boleh ada. Buku Soviet atau Parlemen dengan tegas memperlihatkan pendirian Tan Malaka. Sampai usia kematangan berpikirnya, Tan tak banyak berubah, kecuali dalam soal ketundukan kepada Komintern Moskow. Karena pendirian ini pula Tan Malaka sangat keras menentang Maklumat Wakil Presiden Nomor X pada 1945 tentang pendirian partai-partai. Sebab, partai-partai pasti bermuara di parlemen.

Lalu seperti apa wujud negara tanpa parlemen itu? Penjelasannya memang bisa memakan halaman yang sangat banyak. Sederhananya, negara dalam mimpi Tan Malaka dikelola oleh sebuah organisasi tunggal. Dalam tubuh organisasi itulah dibagi kewenangan sebagai pelaksana, sebagai pemeriksa atau pengawas, dan sebagai badan peradilan.

Anda bisa membayangkan organisasi yang berskala nasional seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Bangunan organisasinya dari tingkat terendah sampai tingkat nasional bisa diandaikan seperti itu. Tidak ada pemisahan antara si pembuat aturan dan si pelaksana aturan. Di dalam organisasi yang sama pasti ada semacam dewan pelaksana harian, dan ada sejenis badan kehormatan atau komisi pemeriksa. Begitulah kewenangan dibagi, tapi tidak dalam badan yang terpisah.

Bagaimana mengontrol organisasi agar tak menjadi tirani kekuasaan? Di sinilah desain organisasi harus dimainkan. Ritual pemilihan pejabat organisasi tak boleh dalam selang waktu yang terlalu lama, agar kepercayaan tak berubah menjadi kekuasaan, agar amanah tidak berubah menjadi serakah. Kongres organisasi, dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi, harus dilakukan dalam jarak yang tak terlalu lama. Waktu dua tahun mungkin ideal untuk mengevaluasi kerja para pejabat organisasi. Jika kerja mereka tak memuaskan, kongres organisasi akan menjatuhkan mereka.

Barangkali banyak pembaca yang mengatakan bangunan kenegaraan seperti di atas jauh dari demokratis. Hal itu sangat wajar. Sebab, sudah demikian lama otak kita dicekoki oleh trias politika ala Montesquieu. Jika bangunan organisasi tanpa badan legislatif dianggap tak demokratis, boleh juga kita mengatakan bahwa partai politik, organisasi kemasyarakatan, ASEAN, bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa merupakan lembaga yang tak demokratis.

Di luar itu, bisa jadi pula ada yang mengatakan gagasan Tan Malaka naif dan tak bisa diikuti. Pendapat itu pun wajar. Seperti pernyataan penulis di awal tulisan ini, tak ada yang bisa dengan total mengikuti Tan Malaka. Selain terlalu lurus, Tan Malaka pasti tak bisa lepas dari belenggu zamannya. Namun tak ada salahnya kita menulis ulang semangat dalam gagasan kenegaraan Tan Malaka. Dalam Thesis, Tan meminta rakyat Indonesia tak menghafalkan hasil berpikir seorang guru. Yang penting adalah cara dan semangat berpikirnya. Ibarat seorang guru matematika, Tan tak ingin menuntut muridnya menghafal hasil sebuah perhitungan, tapi menguasai cara berpikir untuk bisa memperoleh hasil hitungan yang benar.

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/08/11/LU/mbm.20080811.LU127960.id.html

Entry Filed under: Uncategorized. .

1 Comment Add your own

  • 1. Rangga  |  August 28, 2008 at 3:40 am

    Halo bro ikut nimbrung.

    Dah lama gak nambah wacana tentang Tan Malaka, yang Madilognya, menurut gua harus dijadiin bacaan wajib anak sekolahan (atau gak sekolah tapi gemar baca) se Indonesia.
    Gua ngerasa jadi salah satu generasi yang masa kecilnya, minimal sampe SMP, dihantuin sama komunis phobi, yang secara sistematis dikampanyein sama Suharto. Gimana nggak, komunis bener2 jadi momok yang menakutkan dengan cap atheisnya yang seakan-akan pasti sadis, dan sangat2 berbahaya karena “laten” (sempet kepikir apa bedanya sama Latex?).
    Beruntung gua bisa mulai keluar dari kungkungan itu pas SMA, karena maksain diri baca MADILOG, yang katanya komunis, bikin atheis, bikin jadi orang jahat lah kira2. Awalnya merinding juga pas pegang tu buku, apa bener gua bakal jadi orang yang…katakanlah murtad, kafir, keluar Islam (kayak keluar masuk kantor kali ya). Gak taunya, begitu selesai baca gua kagum n heran. Kagum karena ngebayangin ada orang Indonesia yang bisa bikin buku sedahsyat itu. Heran karena Boooo….ternyata kagak ada sesgan-setannya. Gua bulak balik semua halaman penasaran lembaran mana yang bisa bikin orang jadi komunis? Gua langsung punya kesimpulan, ternyata banyak isi dari buku itu yang udah didapet di pelajaran2 sekolah SD -SMA. Kayak Logika, bukannya di B. Indonesia ada bab yang ngajarin bahasa itu butuh logika yang bener? Materialisme, bukannya di matemátika sama fisika jadi dasar bahasan yang wajib? Sama dialektika, bukannya secara gak langsung dibahas di IPS (kalo gak salah, yang pasti bukan di PSPB?).

    Gua jadi ngerasa bego selama itu mau aja dibego2in sama Suharto, bahwa semua yangj sosiallis pasti komunis. Semua komunis pasti jahat dan sadis. Mereka gak boleh idup di Indonesia. Apa Suharto pikir buapak moyangnya yang bikini ni Indonesia. Apa die gak malu sama mendiang Tan Malaka yang udah ngasih Indonesia konsep yang lebih jelas sebagai sebuah bangsa. APA SUHARTO GAK MALU??? Apa yang laen juga gak ngerasa dibegoin ya?

    Beberapa malem yang lalu gua sempet ngeliat tayangan tentang Tan Malaka di TVnya Bang One. Pertanyaan gua, apa untuk ngangkat Tan Malaka pun kita harus mau “bercumbu” sama mereka yang berhasil ngerauk ngelebur kekayaan bumi pertiwi untuk sebesar-besar kemakmuran keluarganya saja, ampe tega tu desa-desa kerendem lumpur???

    Bung Ga: Gimana Tan Malaka, lu rela “dibelai” sama pemodal besar yang ngerasa miskin (kalo ketemu Bill Gates), demi nama lu bisa diangkat ke Public?
    Bung Tan: Gua dah mati, kagak bisa jawab. Nanti jadi logika místika lagi. Coba lu tanya sama yang nulis tentang gua, tapi masih jumatan.
    Bung Rajoangek: Emangnya lu, kagak jumatan Ga.
    Bung Ga: Ya Jumatan lah, juga mingguan, senenan, selasaan, reboan kemisan, bahkan Sabathan (sabtuan makasudnya).

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

 

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives

Recent Posts

Blogroll

Recent Comments

rintho on Berburu dan Meramu
Berburu dan Meramu I… on Berburu dan Meramu
murdin on Memahami Survei Politik
madaff on About
Hafil on Mencari Kubur Tan Malaka (Malu…

dodol

More Photos

Data Pribadi Empunya Blog

Hi, Nama saya Hasan Nasbi A Asal Sumatera Barat Lulusan Ilmu Politik UI Pernah bekerja sebagai Wartawan Kompas (2005-2006) Sejak 2006-awal 2008, saya bekerja sebagai peneliti di Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia. Saat ini saya bekerja sebagai Program Manager di Indonesian Research and Development Institute. Sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk penelitian terutama survey pra-Pilkada di berbagai provinsi dan kabupaten/kota. Saya sangat suka dengan bacaan bertema kiri, Amerika Latin, Timur Tengah, Konspirasi, dan Pemikiran Politik. Blog ini bukan dimaksudkan untuk menyajikan tulisan yang ilmiah dan teoritis. Blog ini hanya sekadar tempat melepaskan unek-unek agar tidak muncul menjadi jerawat. Makanya, jangan heran jika sering ditulis dengan bahasa sinis, ketus, atau bahkan marah-marah. Kritik dan komentar anda sekalian adalah sumbangan berharga bagi saya.