So What Gitu Loh….

February 20, 2008

Hari Selasa (19/2/2008) aku diminta oleh sekelompok mahasiswa untuk berbicara pada peringatan hilangnya Tan Malaka yang ke 59. Ya, 59 tahun lalu Tan Malaka dinyatakan hilang. Sampai tahun 2007, para pengikut dan pengagum Tan Malaka, termasuk para sejarawan masih percaya bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 19 Februari 1949 lalu mayatnya dibuang ke Kali Brantas.


Sampai akhirnya, pada pertengahan tahun 2007, Harry A Poeze datang ke Indonesia sambil meluncurkan buku keduanya tentang Tan Malaka (Verguisd en Vergeten). Kalau bahasa kite artinya Dihujat dan Dilupakan. Dalam buku itu, Poeze menyatakan dengan keyakinan 99,99% bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949, di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selo Panggung.

Meskipun tanggal kematian Tan Malaka sudah diketahui, ternyata para pengikut Tan Malaka (khususnya di Jakarta) tahun ini masih melakukan peringatan pada tanggal 19 Februari. Sudahlah, namanya juga kebiasaan setiap tahun. Ya sudahlah. Toh, tidak salah juga. Khan, yang diperingati adalah hari hilangnya Tan Malaka.

Kembali ke soal acara tadi. Ini adalah acara peringatan kedua yang dilakukan di Universitas Indonesia. Peringatan pertama diadakan pada tanggal 19 Februari 2004, di Gedung Pusat Antar Universitas Univesitas Indonesia. Penyelengaranya adalah Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Eka Prasetya Universitas Indonesia. Kebetulan para pengurusnya adalah adik-adikku di HMI UI. Jadi, dalam batasan tertentu, “bisa diarahkan” untuk menyelenggarakan acara ini bekerja sama dengan LPPM Tan Malaka.

Seingatku, beberapa hari (atau sehari?) setelah acara tahun 2004 itu, pengurus KSM dipanggil oleh salah seorang pejabat di Rektorat UI. Mereka diperingatkan agar hati-hati terhadap infiltrasi ideologi tertentu di dalam kampus..hehe..itu paranoid apa guoblok yah?

Ups..ngelantur lagi.. OK deh, balik lagi..sekarang serius cerita tentang acara tadi.

Sebenarnya aku gak terlalu semangat unutk berbicara di forum itu. Pasalnya sederhana. Aku mendengar salah seorang dosen di FISIP UI juga mau mengadakan acara serupa tanggal 28 Februari dengan menghadirkan Poeze, sekembalinya Poeze dari Suliki, Kampung halamannya Tan Malaka. Nah, buat apa ada dua acara yang mirip, dalam waktu berdekatan, dan di kampus yang sama? Toh, yang berminat terhadap Tan Malaka juga cuma itu-itu saja? Tapi dasar orang-orang tua golongan kiri memang suka berpecah-belah (yang muda juga gitu). Mereka memaksa adik-adik mahasiswa untuk terus mengadakan acara ini. Gak mau ngalah sama acara orang lain. Gengsi kalau harus gabung. Seolah-oleh eksistensinya hancur kalau gabung sama acara orang lain. Kaya gerombolan demo aja..susah diajak gabung kalau ketemu di jalan. Padahal isunya sama. Yang jadi persoalan adalah siapa inisiator dan siapa followers..fhhh cape deh…gitu aja kok repot..

Namun, apa boleh buat, ketua panitianya adalah adikku. Dia memang lagi semangat berorganisasi. Gak enak kalau bikin dia patah semangat. Rencananya, Budiman Sudjatmiko., Eros Djarot, dan Ade Daud Nasution (Anggota DPR RI) juga akan jadi pembicara. Hasilnya..cuma Ade Nasution yang hadir. Budiman tiba-tiba sakit flu dan membatalkan kehadiran satu jam sebelum acara. Sementara itu, Eros Djarot tanpa kabar sama sekali. Jadilah aku, Pak Asral (Ketua LPPM), dan Ade Daud Nasution yang jadi pembicara di depan. Lha pertanyaanya kenapa harus aku? Katanya sih biar ada perwakilan orang muda yang pernah menulis tentang Tan Malaka. Yo wis, itung-itung menjajal tingkat percaya diri.

Untunglah ada Ade Nasution. Meskipun ngomongnya agak ngalor-ngidul, teteup wae dia anggota DPR. Acara ini masih ada gengsinya. Orang pasti mau mendengar kalau yang ada di depan adalah orang yang namanya lumayan sering didengar. Lha kita..? Meskipun udah dikonsep matang-matang, teteup kaga ada yang kenal. Ya toh?? He..he ini bentuk ketidak-PeDe-anku saat tampil. Siapa yang mau dengar? Gw..bukan siapa-siapa..gak terkenal..trus ngasih ceramah di depan orang-orang tentang Tan Malaka. Takutnya ntar gw malah disambit pake sepatu…he..he

Sepanjang sesi tanya jawab, ada satu pertanyaan yang membuatku meringis untuk kesekian kalinya. Pertanyaan kaya gini sudah sering aku dapatkan, dan seperti biasa, ada rasa kesal setiap kali menjawab pertanyaan seperti. Inti pertanyaan itu gini,” Bagaimana sih sikap ketuhanan Tan Malaka? Kalau dulu-dulu ada yang bertanya, ”Tan Malaka itu Islam atau Atheis?” Bahkan saat sidang skripsi, pengujiku, yang saat ini sudah jadi Ph.D, juga ngajak berdebat soal keislaman Tan Malaka. Padahal, buatku itu gak relevan sama sekali. Mau Islam atau tidak, itu suka-sukanya Tan Malaka aja.

Sebenarnya, pertanyaan seperti ini bisa dengan mudah dijawab. Tentu saja berdasarkan penilaianku terhadap jalan hidup dan gagasan Tan Malaka. Orang lain bisa saja punya penilaian berbeda. Namun kalau mau utuh dan jujur membaca buku-buku Tan Malaka (terutama MADILOG) niscaya setuju dengan penilaianku…he..he (PeDe amat yah?? please jangan disambit yah…)

Buatku, Tan Malaka sangat mudah untuk diidentifikasi dalam soal Agama dan Tuhan. Tan Malaka adalah materialis sejati. Mistik, dalam bahasa MADILOG disebut mistika, adalah haram. Segala macam mistik, atas nama apa pun juga. Segala yang berbau rohani tidak bisa diterima akal sehat. Dan mistika terbesar bagi umat manusia adalah Tuhan. Tan Malaka berfikir seperti itu.

Coba baca halaman-halaman awal Madilog. Ada cerita tentang Dewa Ra dari Mesir saat menciptakan alam semesta. Sekali berucap “Ptah” maka Dewa Ra berhasil menciptkan Sungai Nil, hamparan padang pasir, dan alam semesta, termasuk makhluk hidup di dalamnya. Pada halaman berikutnya, habislah cerita Dewa Ra ini dicela oleh Tan Malaka berdasarkan hukum-hukum físika dan kimia. Meskipun bukan ahlinya, Tan Malaka bersemangat sekali membantah kejadian alam semesta seperti dalam cerita Dewa Ra tadi.

Nah, mari akal sehat kita diajak berfikir sedikit. But, jangan sentimen dulu! Kalau Dewa Ra itu diganti dengan “Allah” dan “Ptah” itu kita ganti dengan “Kun Fa Yakun”..apa yang ada dalam kepala anda? Kalau MADILOG memang ingin dijadikan sebagai senjata berfikir bangsa Indonesia, lalu apa arti penjabaran Tan Malaka di atas? Buat apa dia susah-susah harus membongkar kepercayaan mendasar bangsa Indonesia tentang ketuhanan? Jawabannya, karena materialisme, menurut Tan Malaka, ádalah dasar berfikir yang benar. Tidak ada tempat untuk metafísika (Tan Malaka menganggapnya sama dengan idealisme). Yakinlah bahwa Tan Malaka menggunakan Dewa Ra hanya sebagai siasat. Sebab, jika langsung dengan menyebut Allah, umat akan terjauhkan dari semangat revolusi.

Banyak orang yang mengatakan bahwa Tan Malaka itu Islam. Mereka memberikan alasan bahwa Tan Malaka adalah pembela gerakan Pan Islami di Timur Tengah dalam sidang Komintern tahun 1922. Lalu Tan Malaka juga memuji-muji Islam dalam Islam Dalam Tinjauan MADILOG sebagai salah satu Bab MADILOG. Ada juga cerita tentang Tan Malaka yang selalu menangis ketika Ibunya dulu bercerita tentang kisah para nabi. Menurut orang-orang (termasuk beberapa orang yang bergelar Master dan Ph. D) itu adalah tanda –tanda bahwa Tan Malaka adalah seorang penganut Islam. Kasian…sepertinya mereka hanya baca beberapa buku dan itu pun tidak tuntas.

Nah inilah pangkal bala dari pertanyaan soal agama dan sikap ketuhanan Tan Malaka. Pertanyaan tentang agama Tan Malaka bukan pertanyaan yang bebas nilai. Ia adalah pertanyaan yang nantinya akan bersangkut paut dengan penilaian terhadap gagasan Tan Malaka. Jika dia Islam, maka dia harus dikagumi dan dijadikan idola. Sementara itu, seandainya dia ternyata ateis, maka Tan Malaka harus dihujat dan disalahkan. Pemikirannya bisa dianggap jahat dan berbahaya

Benar bahwa Tan Malaka sangat dekat dengan kelompok Islam. Benar pula Tan Malaka berasal dari keluarga yang taat beragama. Bahkan, bapaknya adalah orang tarekat. Benar pula bahwa Tan Malaka mengagumi Muhammad , Isa , dan Musa. Terakhir, juga benar bahwa Tan Malaka tidak konfrontataif terhadap agama sebagaimana kaum kiri lainnya.

Semua pernyataan benar di atas tentu tidak dapat dijadikan kesimpulan bahwa Tan Malaka adalah seorang Islam. Ada pula Doktor yang menyebutnya Islam Kiri atau Kiri Islam. Di sinilah letak kekeliruan itu.

Harus dipahami, saat itu Tan Malaka melihat bahwa bangsa-bangsa Islam di Asia sebagai faktor revolusi untuk mengusir imperialis-kapitalis Eropa dan Jepang. Ini logis dalam cara berfikir dia. Kalau di Indonesia, revolusi meninggalkan atau memusuhi kalangan Islam, revolusinya pasti gagal karena kekurangan syarat dukungan. Bagaimana mungkin bagian terbesar dari sebuah bangsa tidak dijadikan faktor revolusi? Dalam tulisannya yang lain Tan Malaka yakin seyakin-yakinnya bahwa suatu saat faktor revolusi yang belum jadi kiri akan menjadi kiri dengan sendirinya, setelah merasakan manfaat dari sebuah negara revolusi yang dikendalikan oleh kelas pekerja.

Soal Islam dalam Tinjauan Madilog dan kekagumannya terhadap para nabi adalah soal yang wajar. Harus diingat Islam dalam Tinjauan Madilog tidak satu patah kata pun membenarkan Islam. Hanya saja, dia mengagumi Muhammad sebagi seorang pembebas. Nah, kalau para penemu berhak meberi nama temuannya sesuka hati? Kenapa Muhammad tidak boleh memberi nama ajaran barunya (temuannya) dengan nama Islam (Keselamatan)? Harus diakui bahwa Muhammad adalah manusia paling besar sepanjang sejarah umat manusia. Namun, kekaguman Tan Malaka terhadap para nabi hanya sebatas kapasitas mereka sebagai manusia, bukan dalam konteks wahyu yang dianggap mistik dan tidak masuk akal oleh MADILOG. Baca beberapa Bab dalam Buku dari Penjara ke Penjara tentang pandangan hidup, ada juga di beberapa tulisan atau brosur lain..saat Tan Malaka menjelaskan tentang asal-usul agama menurut pandangannya. Ujung kesimpulan Tan Malaka adalah bahwa agama itu muncul hanya sebagai buah ketakutan manusia.

Problem konklusi kita adalah menganggap orang yang simpati terhadap Islam sebagai orang Islam. Kalau begitu kita harus kerepotan untuk mengidentifikasi Annie Schimmel dan Karen Amsptrong..he..he

Itu pula yang dilekatkan terhadap Tan Malaka. Lagi pula, sebagian besar di antara kita, termasuk intelektual bergelar Doktor, masih sangat terikat dengan sentimen primordial seperti agama dan etnis. Ada stereotipe khusus yang dilekatkan kepada golongan tertentu. Jika Tan Malaka adalah Minangkabau dan Islam..wah..luar biasa tokoh ini. Namun, jika dia ateis…phhh…turun deh nilainya. Bisa-bisa malah dibenci.

Inilah yang disebutkan oleh Tan Malaka sebagai salah satu kesalahan dalam berfikir. Namanya Ignoratio Elenchi. Bahasa kitanya.”.kaga ada relevansinya Bung!”. Penilaian terhadap Tan Malaka akhirnya harus disangkut pautkan dengan privasinya. Yang dilihat bukan lagi benar atau tidaknya, bagus atau jeleknya gagasan Tan Malaka, tetapi lebih banyak tentang identitas ke-Islaman Tan. Akhirnya yang digugat bukan lagi soal gagasan, tetapi soal agamanya. Karena dia ateis..maka gagasan Tan Malaka adalah salah dan jahat..he..he ngaco khan silogismenya?

Contoh sederhananya begini. Anda tidak percaya dengan saya karena hidung saya panjang dan bengkok. Jadi apapun gagasan saya sudah salah seketika anda tahu bentuk hidung saya. Geblek khan?? Nah gitu juga biasanya kalau orang nanya-nanya soal agama Tan Malaka. Tan Malaka jadi seketika menadi tokoh antagonis kalau harus dikatakan tidak beragama. Orang-orang itu maunya begini, setidaknya mereka tidak harus merasa berdosa mengagumi Tan, jika Tan Beragama Islam..

So, buat anda pengagum Tan Malaka, terima sajalah kalau beliau adalah ateis sejati. Cuma dia juga tidak ingin begitu saja meniadakan agama. Agama adalah urusan pribadi, tidak boleh dicampuri oleh negara maupun oleh kelompok. Kalaupun muncul persekutuan pada agama-agama tertentu., biarkan saja, tetapi negara tidak boleh turut campur, termasuk membiayainya…Ini bukan berarti dia beragama, melainkan paham kondisi sosial Indonesia. Berbeda dengan kiri lainnya yang selalu ngajak orang-orang beragama berantem. Kalau pegangan hidup yang benar, menurut Tan Malaka mah teteup wae tanpa ada mistik-mistikan…termasuk mistik tentang Dewa dan Tuhan..

Salam,

Entry Filed under: Uncategorized. .

8 Comments Add your own

  • 1. lia  |  February 22, 2008 at 3:09 am

    pertanyaan ketuhanan Tan Malaka tidak akan pernah selesai ditanyakan karena orang indonesia tidak mampu mengagumi atau mengidolakan seseorang tanpa mengetahui agama orang tersebut.
    Bahkan untuk berteman pun kita tidak mampu tanpa mengetahui identitas agama seseorang. Seberapa sering kita mendengar “Dia agamanya apa?”

    Jadi selama anda berada di indonesia, anda harus sabar dengan pertanyaan tersebut. Karena that’s what we are, and that’s what we do

    Reply
  • 2. aji  |  February 27, 2008 at 6:31 am

    Gak usah Tan, Bang. Kita aja yang shalat lima waktu sedikit rutin tapi protes2 mlulu di kampus dan pacaran dibilang Islam sepotong bahkan kafir. anak2 kampus aja banyak taqlid. buku che, tan kayaknya gak bisa dibaca tuh ma mereka

    Reply
  • 3. Hendrawarman  |  March 4, 2008 at 6:22 pm

    Wuih… menarik juga tulisan abang ini, isinya mengalir, ringan namun berisi. Bagi saya, Tan Malaka adalah sosok perantau minangkabau. Mengapa demikian? karena ia adalah satu dari sekian orang minangkabau yang besar dan diakui pemikirannya justru diluar ranah minangkabau, karena di kampungnya sendiri (bukankah) tan malaka tidak populer dan bahkan tidak dikenal. Ia menjadi tokoh justru setelah merantau meninggalkan Minangkabau. Saya tidak yakin, kalau tan malaka tidak keluar dari minangkabau akan menjadi tokoh se-kontroversial hingga sekarang ini.

    Mengenai perantau minangkabau yang menjadi tokoh diluar ranah minangkabau cukup banyak sekali. Kebanyakan dari mereka adalah lahir hingga remaja di minangkabau, sedangkan pasca remaja mereka pergi merantau.

    Beberapa tokoh perantau minangkabau lain diantaranya adalah: Hatta, proklamator bangsa kita yang namanya menjadi harum dan menjadi kebanggaan orang minangkabau setelah jasa beliau di tanah rantau, Belanda dan Jawa dalam hal ini tokoh Sosial Demokrasi. Syekh Alminangkabawi, imam besar masjidil haram Mekkah dalam hal ini tokoh Pembaharu Islam, Sjahrir, tokoh sosialis Indonesia. Hamka, sastrawan Indonesia dan beberapa tokoh lainnya.

    Nah, disinilah saya lebih bersepakat, melihat tan malaka sebagai seorang perantau minangkabau. Terlepas ia beragama Islam atau bukan, bahkan atheis sekalipun. Walaupun ada adagium yang menjelaskan Minangkabau identik dengan Islam melalui “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah”, namun Islam bukanlah satu-satunya pemikiran yang tumbuh sumbur di Minangkabau, ada beberapa pemikiran lainnya yang turut menyemarakkan pemikiran minangkabau, termasuk Sosial Demokrasi, Sosialis, dan Komunis.

    Reply
  • 4. apik  |  April 4, 2008 at 12:49 pm

    uda, kemaren uni imelda sari datang ke padang mau muter film dokumenter tan malaka. tapi ga bisa di puter ternyata. kebetulan saya juga sedang riset untuk membuat film dkumenter tan malaka. saya kebetulan ikut mendokumentasikan tan malaka house kemaren. di ui ada pak zulhasril nasir juga kemaren dan maksud saya untuk membuat film ini juga sudah saya utarakan kepadanya. poeze juga sudah diwawancarai. uda saya bisa contact uda ga?email saya apik_matakatafilm@yahoo.com nomor saya 085263006475 makasih uda.
    makasih sebanyaknya

    Reply
  • 5. mangkuprit  |  April 6, 2008 at 4:07 am

    Terima kasih sudah berkunjung Apik. Saya senang dengan ide kalian membuat Film Tan Malaka, walaupun mungkin akan kesulitan memperoleh sumber audio-visual…Maju terus dan tetap semangat!!
    Saya kirim no HP lewat email…

    Reply
  • 6. bank al  |  May 14, 2008 at 11:29 am

    Sebetulnya jika Tan Malaka itu memang menggunakan dialektika, dia semestinya tidak akan menjadi atheis yg yakin bahwa tuhan tidak ada.

    Dia akan menjadi agnostik. Alias kebingungan karena sulit membuktikan bahwa tuhan itu ada, padahal juga sulit membuktikan bahwa tuhan itu tidak ada.

    Reply
  • 7. mangkuprit  |  May 24, 2008 at 2:01 pm

    Terima kasih sudah berkunjung Bung Al.

    Dialektika adalah salah satu saja dari beberapa komponen cara berpikir. Untuk kasus Tan Malaka, dia punya landasan berpikir materialisme. itu dasarnya, atau boleh juga dikatakan sebagai bahan bakunya. Sementara itu, dialektika dan logika adalah mesin pencerna. Jadi, ateisme Tan Malaka bukan disebabkan oleh dialektika, melainkan oleh landasan berpikir yang dia pilih.
    Mengenai agnostik sebagai konsekuensi dari orang yang menggunakan dialektika..tidak tepat ditujukan bagi Tan Malaka. Mungkin cocok ditujukan bagi para penggemar filsafat yang sampai detik ini belum memutuskan landasan berpikirnya. Dia masih terombang-ambing di antara materialisme dan metafisika.
    Persoalan lain yang mungkin muncul, kalau Tan Malaka adalah seorang penganut dialektika, kenapa dia langsung berdiri di kaki materialisme? Sementara metafisika dan materialisme terus bergulat dalam filsafat? Jawabannya simpel, pada akhirnya kita harus membuat keputusan. Dalam tingkatan negasi daar negasi..Hanya ada satu tempat berpijak. Mustahil bagi Tan Malaka untuk berdiri di atas Materialisme dan Metafisika secara bersamaan.

    Reply
  • 8. Rangga  |  August 28, 2008 at 10:30 am

    Sebetulnya tidak sulit membuktikan Tuhan itu tidak ada.
    Sebagaimana tidak sulit untuk “percaya” Tuhan itu ada.

    Kalo tidak salah Tan Malaka juga yang menggunakan penelusuran asal kata Tuhan, yang asli kata-kata dari ranah nusantara.

    Sebagaimana kita tahu, masyarakat primitif nusantara mempunyai bentuk kepercayaan yang disebut dinamisme. Sederhananya bisa kita runut seperti ini:
    Bagi moyang nusantara, tiap benda di muka bumi ini memiliki kekuatan/roh/anime/spirit atau di kawasan timur yang kemudian kita serap, ada HANTU di tiap benda. Benda-benda tersebut akan disembah bila memiliki kekuatan lebih dari hantu yang ada di diri manusia itu sendiri, sehingga membuat takut, contoh; Bilamana di tengah hutan mereka bertemu binatang buas, macan, mereka merasa takut; melihat pohon sangat besar di tengah gulita malam, merinding takut;melihat banjir bandang yang menghanyutkan gelondongan kayu, membuat takut.
    Untuk menjelaskan rasa takut ini mereka dengan sederhana berkesimpulan: karena dalam binatang buas, pohon besar, atau banjir bandang bersemayam hantu yang lebih besar hingga harus dijinakkan dengan cara diberi sesembahan.
    Bagaimana menjelaskan Tuhan???

    Dari sebagian besar hantu-hantu yang ada, tentunya ada satu hantu yang sangat besar kekuatannya, yang bahkan hantu lainpun nyembah, Buapaknya para hantu gitu loh. Sopo jenenge??? tinggal dibalik aja kale
    dari Hantu jadi Tuhan (gitu kira-kira).

    Gimana dengan yang laen?

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

 

February 2008
M T W T F S S
« Sep   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Archives

Recent Posts

Blogroll

Recent Comments

rintho on Berburu dan Meramu
Berburu dan Meramu I… on Berburu dan Meramu
murdin on Memahami Survei Politik
madaff on About
Hafil on Mencari Kubur Tan Malaka (Malu…

dodol

More Photos

Data Pribadi Empunya Blog

Hi, Nama saya Hasan Nasbi A Asal Sumatera Barat Lulusan Ilmu Politik UI Pernah bekerja sebagai Wartawan Kompas (2005-2006) Sejak 2006-awal 2008, saya bekerja sebagai peneliti di Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia. Saat ini saya bekerja sebagai Program Manager di Indonesian Research and Development Institute. Sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk penelitian terutama survey pra-Pilkada di berbagai provinsi dan kabupaten/kota. Saya sangat suka dengan bacaan bertema kiri, Amerika Latin, Timur Tengah, Konspirasi, dan Pemikiran Politik. Blog ini bukan dimaksudkan untuk menyajikan tulisan yang ilmiah dan teoritis. Blog ini hanya sekadar tempat melepaskan unek-unek agar tidak muncul menjadi jerawat. Makanya, jangan heran jika sering ditulis dengan bahasa sinis, ketus, atau bahkan marah-marah. Kritik dan komentar anda sekalian adalah sumbangan berharga bagi saya.