Archive for June, 2007
Didikte oleh Lalat
Ini soal DCA (Defense Cooperation Agreement). Mungkin agak terlambat, tetapi saya tidak tahan juga untuk menyimpan unek-unek ini. Bahkan, unek-uneknya sudah jadi jerawat dua biji..he..he (secara medis bener ga yah unek-unek bisa jadi jerawat?)
Saya baru tahu bahwa DCA itu dibuat sebagai balas jasa karena Singapura mengabulkan keinginan Indonesia untuk membuat perjanjian ektradisi (wah kemana aja nih…?). Menyedihkan sekali negeri ini. Apakah harga perjanjian ektradisi semahal itu? Bukankah kewajiban sebuah negara untuk membantu menangkap penjahat yang kabur dari negara lain , sekalipun tanpa perjanjian ekstradisi? Lagi pula, Singapura khan salah satu tempat menyimpan uang. Lha apa negara lain nanti tidak takut kalo para bandit, koruptor, dan para pencuci uang semua kabur ke Singapura karena di sana aman? Singapura sendiri bakal kesulitan berhadapan negara lain bukan? Lalu kenapa harus dibalas dengan perjanjian kerjasama pertahanan? Ini kekonyolan pertama.
Kekonyolan kedua itu terkait dengan isi perjajian pertahanan. Sudahlah asal muasal perjanjian konyol, isinya juga konyol. Negara kita harus menyediakan empat (kalau ga salah empat yah) lokasi untuk latihan perang tentara Singapura. Wah enak banget negara kecil ini. Namun, mereka menolak adanya Implementation Agreement (IA) mengenai pelaksanaan latihan itu. Singapura berpendapa IA tidak perlu, sementara TNI bilang perlu. Lha kok bisa salah paham kaya gini? Kalau tidak ada IA itu berarti mereka menolak diatur ketika melakukan latihan militer di wilayah kita. Ah, ini namanya ngelunjak. Kalau bahasa kampung saya; “Gadang Karengkang”.
OK-lah, dari sisi mereka, dalam diplomasi tidak ada yang salah dengan tawar-menawar. Singapura pun punya hak untuk kasih penawaran sekehendak hati mereka. Masalahnya ada pada kita. Kenapa kita hanya diam menangapi ini. Kenapa hanya segelintir orang di DPR yang ribut? Kenapa pula pemerintah tidak ribut? Siapa biang keladi yang menyebabkan perjanjian konyol seperti ini sampai ditandatangani? Untung di DPR kita yang norak itu ada yang teriak-teriak. Kali ini, apa pun kepentingan anggota DPR itu, teriakan mereka dalam posisi yang benar. Kalau hanya untuk mengejar aset para koruptor (yg konon 600 T) kita harus mengobankan teritori kita, wah itu nanti dulu lah. Tunggu lebaran monyet aja.
Ini dunia yang sudah serba canggih. Di samping teknologi, spionase dan konspirasi pun sangat canggih. Apa kita bisa percaya, bahwa kapal-kapal perang asing yang masuk perairan Indonesia semata-mata untuk berkunjung atau latihan perang? Kita terlalu bodoh untuk mempercayai sebatas itu. Mereka punya alat yang serba canggih untuk memindai sumber daya laut kita dari dekat. Jadi istilahnya, mereka bisa mengonfirmasi data temuan satelit dengan memindai dari jarak dekat. DCA memberi kesempatan untuk itu. Seharusnya, kapal perang asing (AS sekalipun) harus diperikasa dulu sebelum masuk wilayah pertahanan kita, meski alasannya hanya sekadar mampir atau untuk latihan bersama.
Ini benar-benar konspiratif. Namun, jika hari gini kita masih berfikir lurus-lurus saja , hanya pake logika tetapi menafikkan dialektika, kita akan digilas zaman. Segala tindakan negara pasti dilatarbelakangi kepentingan nasional mereka.Dan kepentingan nasional bisa saja digerakkan oleh pemerintah atau modal yang menguasai negara bersangkutan. Maka, dalam hal ini, benturan atau pun pertemuan kepentingan antarnegara harus benar-benar dioptimalkan dalam sebuah proses tawar-menawar. Diplomasi adalah salah satu jalan untuk itu. Embargo, boikot, protes, kecaman, kutukan, bahkan invasi adalah bentuk lain dari proses benturan kepentingan antarnegara.
Kembali soal Singapura tadi. Konyol sekali para diplomat kita ini. Apakah gaji mereka terlalu kecil sehinga bisa dibeli oleh bangsa lain? Ataukah mereka terlalu bodoh sehinga berdiplomasi saja ga beres?
Kalau mau diukur-ukur, Singapura itu hanya ibarat lalat yang hinggap di puncak hidung kita. Idealnya, lalat itu bisa kita tabok kapan saja. Tetapi yang ajaib di Indonesia, justru kita yang didikte oleh lalat itu. Mungkin dia sudah hinggap di puncak hidung kita sambil menancapkan super-microchip yang kemudian digunakan untuk mendikte gerak langkah kita. Huh, bangsa ini sungguh menyedihkan.
Dan mereka berani seperti itu bukan tanpa perhitungan. Pertama, mereka sudah perhitungkan bahwa Indonesia ini miskin dan bodoh, sehingga senjata materi dan sedikit lobi bisa sudah cukup untuk menaklukkan kita. Kedua, Singapura yakin ada negara kuat yang akan bediri di belakang mereka. Jika suatu saat ada apa-apa, mereka tidak akan diganggu, karena Indonesia takut dengan “sang pelindung Singapura”.
Kadang-kadang ada mimpi iseng yang muncul di kepala saya. Saya bermimpi suatu saat kita punya kerjasama pemipaan gas atau minyak langsung ke Singapura. Jika pipa itu sudah tersambung, dan penyakit congkak mereka kambuh lagi, pipa itu tidak lagi kita isi dengan minyak atau gas. Saya punya mimpi menyalurkan urine seluruh penduduk Indonesia ke Singapura. Mungkin dalam beberapa hari mereka bisa kita tenggelamkan dengan damai tanpa muntahan peluru satu butir pun. Ya, namanya juga mimpi.
Add comment June 22, 2007
Hari yang mendebarkan
Tanggal 20 Juli 2007, Harry Poeze, Direktur Penerbitan KITLV, penulis biografi Tan Malaka, akan ke Jakarta. Tujuannya adalah meluncurkan buku terbarunya tentang riwayat hidup Tan Malaka 1945-1949. Buku tersebut terdiri dari tiga jilid dengan jumlah halaman total 2.200 halaman dalam bahasa Belanda, gak tau deh jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Biasanya, kedatangan Poeze pasti akan disambut hangat, terutama oleh para pengikut dan pengagum Tan Malaka. Tapi saya berdebar-debar untuk kunjungan kali ini. Sebab isi buku terakhir ini akan membuka banyak hal. Ada yang melegakan dan ada pula yang mengkhawatirkan.
Dia akan membuka proses kematian Tan Malaka dan juga nama pembunuhnya. Poeze memang selalu merahasiakan ini, terutama tentang nama pembunuh Tan Malaka. Dia hanya pernah memberikan petunjuk bahwa orang itu pernah menjadi Walikota Surabaya pada tahun 1970-an. Meskipun pada awalnya agak ragu dengan kesimpulan itu, tetapi waktu pertemuan dengan saya bulan Januari lalu, dia sepertinya kembali yakin bahwa orang itulah orangnya.
Satu misteri sejarah Indonesia akhirnya terkuak. Akan ada beberapa perubahan penulisan sejarah setelah ini. Tetapi masih ada beberapa misteri kematian dan hilangnya pahlawan yang belum terungkap seperti Supriyadi dan Otto Iskandardinata. Semoga nanti juga akan ada yang berhasil menelusurinya. Hanya saja ada kesedihan juga, kenapa harus seorang Poeze, orang yang berasal dari negeri penjajah yang peduli dan berhasil menemukan jawaban misteri kematian Tan Malaka? Sedih..
Sebagai seorang pengagum Tan Malaka, saya sangat senang dengan terbitnya buku Poeze. Saya percaya dengan integritas beliau. Saya pernah mendampingi beliau waktu riset di Indonesia tahun 2004, dan dari sana saya yakin apa yang ditulisnya sebagai fakta adalah benar-benar temuan yang bisa dikonfirmasi.
Hanya saja, buku itu juga menakutkan. Sebab, Poeze dengan blak-blakan menyatakan bahwa Tan Malaka pernah diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia menggantikan Soekarno. Peristiwa itu terjadi setelah Sokarno, Hatta, dan Syahrir ditangkap Belanda pada Agresi Militer II. Tan yang waktu ada di Jawa timur, dengan segala keterbatasan informasi, diangkat oleh sebagian laskar sebagai peresiden berdasarkan Proklamasi 1945 dan UUD 1945. Tan menaggap bahwa terjadi kekosongan kekuasaan pascapenangkapan para petinggi republik di Jogja.
Bukankah tindakan itu bisa disebut sebagai pemberontakan? Atau kudeta terhadap kepemimpinan yang sah? Saya khawatir, nanti akan ada gerakan untuk menggugat kepahlawanan Tan Malaka. Bukan hanya sekadar soal status kepahlawanan, tetapi juga dalam soal penulisan sejarah. Saya khawatir justru karena ini kemudian eksekusi lapangan oleh seorang kroco Surachmat terhadap Tan Malaka kemudian diangap wajar dan benar. Sehingga penembakan itu kemudian bisa saja dianggap sebagi ekskusi terhadap pengkhianat, bukan sebagai sebuah tragedi terhadap seorang penjuang.
Ada beberapa pegikut Tan Malaka yang juga sangat khawatir dengan hal ini. Tetapi saya, sebagi seorang akademisi berusaha untuk menerima akhir hidup Tan Malaka yang amat tragis. Ya, memang sangat tragis, bukan hanya karena dia dieksekusi tanpa prosedur hukum, tetapi juga karena alur logika pembaca sejarah juga akan digiring untuk berfikir,” toh wajar pelaku kudeta dihukum oleh pemerintahan yang sah”.
Jujur, saya belum membaca buku Poeze itu. Cerita ini saya peroleh dari email-email Poeze. beberpa minggu terakhir. Semoga kekhawatiran ini tidak menjadi kenyataan. Jantung saya akan senantiasa berdebar, menunggu peluncuran buku itu di Indonesia. Tan Malaka, pilihan hidupmu penuh tragedi. Jangan-jangan setelah mati pun namamu tidak akan pernah ditulis dengan manis, melainkan tetap dengan tragis. Jangan-jangan pembaca sejarah nantinya akan menganggapmu sebagai oportunis dan ambisius.
“dari ribuan pejuang republik ini, aku menempatkanmu pada puncaknya”
6 comments June 19, 2007
Sumpah Pemuda yang Mulai Terlupakan
Oleh Heppy Ratna Sari *
www.indomedia.com/poskup/2006/11/15/edisi15/1511hal02.pdf
![]()
SUMPAH Pemuda telah berusia 78 tahun. Meski masih
diperingati setiap tahun, semakin lama generasi muda semakin
acuh dengan peristiwa bersejarah ini.
Hanya beberapa kelompok saja, seperti pegawai pemerintah,
politikus, sejarawan, negarawan dan sejumlah orang yang masih
mengingat sejarah itu dengan baik yang masih
melakukan upacara peringatan perjuangan pemuda itu.
Gelora Sumpah Pemuda sepertinya mulai
menghilang di hati sebagian generasi muda Indonesia saat
ini. Mereka tidak hanya lupa kapan peristiwa itu terjadi,
tetapi juga isi dari sumpah yang mempersatukan bangsa
Indonesia tersebut.
Di tengah hiruk pikuk kota Jakarta, generasi muda
Jakarta seakan tidak lagi mempedulikan makna Sumpah
Pemuda. Mereka disibukkan dengan berbagai aktifitas
hiburan seperti berbelanja, bermain di pusat-pusat
permainan atau sekedar duduk-duduk dan bersenda
gurau di gerai-gerai makanan.
“Hari ini hari Sabtu, sudah jadi langganan bagi kami
berenam untuk jalan-jalan di kafe atau sekadar
memuaskan nafsu ‘lapar mata’,” kata Winda, seorang
siswi SMU negeri di Jakarta.
Ia bahkan sempat berpikir sejenak ketika mengingat
tanggal hari ini (28/10). “OK, ini tanggal 28 Oktober, apa
ada yang aneh. Ini kan akhir Minggu dan saat ini masih
libur sekolah,” katanya sambil meninggikan alisnya.
Setelah berpikir sejenak, gadis berkacamata ini akhirnya
menyadari makna tanggal 28 Oktober.
“Oh iya, hari inikanperingatan Sumpah Pemuda.
Kita lupa, maklum karena liburan sekolah jadi tidak ingat.
Biasanya, kalau di sekolah selalu ada guru yang
mengingatkan untuk melakukan upacara,” ujarnya
sambil membenahi posisi duduknya.
Baginya, peringatan Sumpah Pemuda adalah sebuah
rutinitas tahunan. Ia hanya memaknainya tak lebih hanya sebagai
sebuah peringatan saja. “Sumpah Pemuda kan sudah diajarkan
dalam mata pelajaran sejarah. Jujur, saya pribadi merasa tidak
terbebani dengan adanya Sumpah Pemuda. Itu kandulu, kalau
sekarang sudah berbeda. Jadi kalau ditanya apa masih peduli,
susah juga menjawabnya,” katanya.
Lebih dari setengah abad peringatan hari di mana
diikrarkannya pengakuan bertumpah darah yang satu, tanah
Indonesia, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia dan
menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Namun, kini
ikrar tersebut hanya menjadi wacana yang harus dihafal oleh
sebagian generasi muda.
Namun, setiap individu memiliki hak untuk memaknai
Sumpah Pemuda. Bagi Winda, Sumpah Pemuda hanyalah sebuah
peringatan kenegaraan yang wajib dilakukan, tetapi bagi seorang
pekerja seni Tommy Kurniawan, ini adalah sebuah momen-
tum bagi generasi muda untuk mawas diri.
“Generasi muda saat ini sebenarnya cukup solid, rasa
persaudaraannya dan kepedulian yang tinggi. Hanya saja me-
reka memanfaatkannya untuk kegiatan yang mereka suka dan
tidak diarahkan untuk kegiatan yang bersifat sosial,” ujarnya.
Ia mengatakan sebagian generasi muda saat ini
cenderung acuh tak acuh terhadap kondisi sosial negara dan
memiliki nasionalisme yang kurang.
“Saya rasa masih bisa diarahkan, karena sebenarnya
mereka adalah anak-anak yang baik dan berpotensi. Hanya
saja wadah untuk kegiatan mereka lebih banyak untuk
bersenang-senang,” kata artis yang lahir di tahun 1984 ini.
Bukan hal yang tidak mungkin bagi generasi muda saat ini
untuk kembali memiliki semangat nasionalisme yang tinggi,
katanya.
Tinggal sejarah
Bagi penulis buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka,
Hasan Nasbi, kaum muda merupakan bagian dari kultur
dunia yang saat ini dikendalikan oleh konsumsi dan hiburan.
Mungkin selebriti sudah menjadi salah satu kiblat figur kaum
muda saat ini. Jika demikian, sulit menghalangi mereka untuk
tidak meniru dan melakukan imitasi, katanya
“Menurut saya, jangan-jangan menjadi ganteng atau cantik,
terkenal, banyak uang, banyak penggemar, dan nongol di teve
adalah idealitas kaum muda saat ini. Setiap varian hidup
sebenarnya sah-sah saja. Namun, seperti kata Muhammad,
manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi
manusia lain,” katanya.
Ia berpendapat kondisi kaum muda saat ini mengece-
wakan. Menurut dia, sebagian besar kaum muda adalah para
pengikut arus zaman yang setia. “Apapun arus zaman, maka
sebagian besar gerbongnya diisi kaum muda, tanpa peduli
arus itu membawa kebaikan atau tidak. Sebagian besar
kaum muda mengalami apa yang disebut sebagai ‘poverty
of philosphy’, miskin filsafat hidup. Jangan-jangan ini karena
kita juga tidak terbiasa belajar filsafat,” kata pria yang suka
menulis sejak SMA ini.
Ia membenarkan jika semangat Sumpah Pemuda di
hati generasi muda hampir mati. Secara pribadi ia mengakui
tidak lagi merasakan semangat Sumpah Pemuda.
“Padahal saya adalah pembaca dan peminat sejarah
Indonesia. Bagaimana dengan pemuda yang tidak membaca
sejarah? Mungkin mereka akan lebih jauh lagi dari spirit
Sumpah Pemuda. Atau jangan-jangan juga tidak tahu butir-
butir kesepakatan pemuda waktu itu?,” katanya.
Sumpah Pemuda adalah sebuah prestasi gemilang
anak-anak muda Hindia Belanda saat itu, katanya. Pada
masa itu, seluruh pelaku Sumpah Pemuda adalah aktivis
pergerakan. Namun saat ini, aktivis pergerakan tidak lagi
berfikir untuk Indonesia.
“Mereka ‘menjual’ gerakan untuk karir politik dan
sudah pula membiasakan diri dengan kotornya kehidupan
para politisi senior. Pola ‘patron-client’ dalam kehidupan aktifis
pergerakan telah membunuh semangat kaum muda untuk
berfikir tentang Indonesia,” kata pria yang pernah bekerja sebagai
sekretaris penulis buku biografi Tan Malaka, Dr. Harry Poeze.
Ia juga mengatakan sulit membayangkan aktivis muda saat
ini berkumpul dan membahas tentang ke-Indonesiaan dan
merencanakan sesuatu untuk Indonesia. Mungkin Sumpah
Pemuda benar-benar telah menjadi sejarah. Ia tinggal dalam
catatan dan buku pelajaran.
“Indikatornya gampang. Saat Indonesia terkoyak oleh
disintegrasi sosial seperti di konflik di Poso, dan disintegrasi
nasional seperti di Aceh dan Papua, kemana para pemuda kita?
Pemuda kita (termasuk saya) berkutat untuk hidup, menjadi
sukses, kaya, dan punya kehidupan pribadi bahagia,” katanya. ***
* Penulis, wartawan Kantor Berita Antara
4 comments June 19, 2007
Biarkan Mereka Berperang
Perang sesama saudara di Palestina sudah pecah. Ini bukan lagi sekadar bentrok kecil di jalanan antara milisi Fatah dengan Hamas, melainkan sudah berkobar menjadi perang. Dua wilayah yang menjadi otoritas Palestina (Tepi Barat dan Jalur Gaza) sudah berubah menjadi ajang bertukar peluru, mortir, dan roket di antara sesama pejuang Palestina.
Gaza adalah basis Hamas. Di sini mereka dengan mudah menaklukan Milisi fatah. meski punya lebih banyak senjata dan uang, mental bertempur Fatah tidak sekuat Hamas. Makanya 600 milisi fatah yang mempertahankan markas besar mereka di Gaza terpaksa menyerah kepada 200 pasukan bertopeng Hamas. Hamas tidak perlu mengerahkan seluruh kekuatan untuk melibas Fatah. Hari ini, seluruh sudut dan jalanan Gaza adalah milik pasukan Hamas.
Lain halnya di Tepi Barat. Di sini posisi Fatah lebih unggul. Mereka tentu saja berusaha membalas kekalahan dari Hamas. Namun, belum jelas, apakah Hamas benar-benar takluk di daerah ini. Rasanya, tidak begitu mudah. Meskipun sedikit, Hamas punya militansi yang tak bisa dilawan pasukan Fatah. Kita lihat saja hasilnya.
Tapi norak, tiba-tiba PBB ingin menempatkan pasukan perdamaian di Palestina. Sebab , pertempuran itu dikhawatirkan makin meluas dan akan menimbulkan korban yang lebih banyak lagi. Eit.. tungu dulu Pak PBB! Kenapa tiba-tiba anda seperti orang baik yang ingin menempatkan pasukan perdamaian di sana? Sementara lebih dari setengah abad Israel mencapolok wilayah Palestina anda biarkan saja?
Wah, tuan PBB yang menjadi kepanjangan tangan polisi dunia sepertinya mendapatkan momentum untuk masuk secara resmi ke Palestina. Atau jangan-jangan momentum ini justru sengaja diciptakan berhubung pemerintahan Hamas belum juga tumbang meskipun sudah diembargo dan diisolasi sejak Februari 2006. Dan memang, karena pasukannya keteteran, Presiden Mahmoud Abbas sudah menyatakan ingin membubarkan pemerintahan. Tidak tertutup kemungkinan sebentar lagi dia juga akan meminta pasukan asing ditempatkan di negerinya.
Konflik Hamas-Fatah adalah konflik dalam negeri. Memang, mungkin saja ada campur tangan pihak luar dalam konflik itu supaya menguntungkan Israel dan sekutunya. Tetapi tetap saja, itu adalah konflik sesama warga negara Palestina. Idealnya, jika itu murni konflik internal, terlepas dari seberapa besar sumber daya yang mereka perebutkan, mereka akan sampai pada satu titik penyelesaian. Berdasarkan teori struktural fungsional, konflik akan menjadi gangguan keseimbangan sebuah sistem sosial. Namun, sistem sosial itu juga akan mencari cara sendri untuk mencapai keseimbangan baru. Bila dua orang anak berkelahi, tidak akan bermusuhan dalam jangka waktu yang lama. Mereka akan segera menemukan momentum untuk berdamai. Namun, jika ada orang lain yang selalu memanas-manasi, misalnya orang tua, bisa jadi hubungan kedua anak itu akan lebih sulit untuk diperbaiki.
Konflik internal idealnya berada dalam tingkatan dialektika persatuan dari segi-segi yang bertentangan. Atau dengan kata lain, konflik yang masih bisa selesai dengan negosiasi. Ini sudah mereka coba satu tahun terakhir. Jika saja tidak diisolasi dunia, problemnya tidak akan serumit ini. Persatuan dari segi-segi yang bertentangan masih cukup logis jika mereka tidak harus menghadapi tangan2 asing yang mengacak-acak pemerintahan melalui segala cara. Penyelesaian itu bisa saja berupa konsensus bersama karena sudah sama-sama kelelahan.
Hanya saja, bila konflik sudah tidak mungkin didamaikan lagi, mereka berada dalam posisi negasi daar negasi. Mereka harus saling membinasakan. Saat satu kelompok bisa membungkam habis kelompok lainnya, maka perdamaian baru bisa terwujud. Dalam konteks ini, perang adalah jalan yang logis. Ini mirip dalam kasus separatisme seperti PRRI dan Permesta atau kasus DI-TII. Harus ada yang binasa agar sebuah negara bisa fokus untuk menjalankan perannya.
Jadi, untuk saat ini, biarkan Hamas dan Fatah berperang. Mereka akan sampai pada penyelesaiannya sendiri. Pasukan internasional untuk perdamaian adalah adalah penipuan. Pasukan itu nanti tidak lebih dari sebuah tentara pendudukan. Apalagi PBB hanyalah boneka kepentingan AS. Pasukan perdamaian yang akan dikirm ke Palestina tidak lebih dari kendaraan Agen Spionase dan konspirasi yang akan melucuti kekuatan anti- AS dan Israel. Lalu, kekuatan itu diganti dengan boneka yang lebih ramah terhadap Israel dan AS. Korban kemanusiaan tidak akan berhenti dengan campur tangan asing. Sebab, niscaya campur tangan itu tidak ada yang benar-benar tulus. Malah korban kemanusiaan akan terus berlanjut, malah mungkin saja lebih besar. Sebab, musuh bangsa Palestina akan bertambah, yaitu Bangsa Israel dan juga pasukan perdamaian. Sekarang, biarkan saja mereka selesaikan pertempuran di dalam negeri. Setelah itu, mereka harus bersiap melakukan pertempuran yang lebih besar dengan Israel.
Selamat berperang Hamas dan Fatah,
2 comments June 15, 2007