Survei dan Akal Sehat

Koran Sindo

Friday, 13 February 2009

Ada soal hitungan sederhana. Jika hanya ada enam orang dan delapan rumah,mungkinkah setiap rumah diisi oleh minimal satu orang dalam waktu bersamaan? Apa jawaban Anda?

Barangkali pembaca sedikit berpikir. Kening Anda terlihat berkerutkerut, takut ada jebakan dalam pertanyaan di atas. Mungkin juga ada yang mengira pertanyaan tadi semacam soal teka-teki dari filosof Zeno tentang lomba lari antara Achilles versus kura-kura, soal kesalahan berpikir yang seolah-olah logis.

Bukan.Yakinlah bahwa tulisan ini tidak sedang memberikan tebak-tebakan. Hanya sebuah pertanyaan sederhana yang seharusnya bisa dijawab dengan baik oleh anak kelas satu sekolah dasar. Pembaca tidak perlu membuat coretan tentang berbagai rumus aljabar. Betul-betul soal sederhanadanjawabannya adalah “tidak mungkin”. Itu jawaban akal sehat.

Ini hanya sedikit intermezzo sebelum kita masuk ke dalam bahasan tulisan ini. Kita akan bicara tentang hasil survei dan penggunaan akal sehat, juga keprihatinan terhadap media massa yang tidak selektif memublikasikan hasil survei politik.

***

Jumat (6/2), sedikitnya ada 14 media cetak nasional yang memberitakan hasil sebuah survei politik.Jumlah tersebut belum termasuk situs berita, radio, dan koran daerah. Bisa diperkirakan berita tersebut tersebar cukup luas di masyarakat, tentu saja atas bantuan media massa.

Sebenarnya, publikasi survei adalah sebuah hal yang lumrah.Apalagi menjelang pelaksanaan pemilu. Cuma,ada hal yang sangat menyedihkan dari publikasi tersebut. Sebuah pertanda bahwa akal sehat para jurnalis sedang dipertaruhkan. Lebih jauh dari itu, akal sehat para pengamat politik juga sedang dipertanyakan. Sebab,sebagian besar konferensi pers survei politik juga menghadirkan pengamat politik agar terkesan punya legitimasi ilmiah.

Sebagian besar jurnalis ternyata sama sekali tidak selektif memilah hasil survei yang harus diberitakan kepada publik. Begitu juga dengan para pengamat yang dihadirkan sebagai analis hasil survei.Mereka,para pengamat ini, terlalu malas untuk sedikit berusaha memahami hasil sebuah survei secara runtut dan detail. Hampir dapat dipastikan, halaman pertanggungjawaban data dan metodologi selalu dilewatkan.

Coba perhatikan keterangan berikut. Menurut beberapa berita di media cetak,survei tersebut diselenggarakan pada tanggal 19–31 Januari 2009 dengan melibatkan 2.118 responden di 33 provinsi, 132 kabupaten/ kota, 660 kecamatan,dan di 2.640 desa/kelurahan. Tingkat keyakinan 95% dan margin of errorsurvei sebesar +/- 3–5%.

Tiga media cetak menuliskan secara detail keterangan data survei sampai pada jumlah desa/kelurahan yang menjadi target. Sementara sisanya hanya menuliskan jumlah kabupaten dan kecamatan yang menjadi target survei.Oleh karena ada lebih dari satu media cetak memberitakan keterangan yang persis sama,bisa dipastikan media tidak salah kutip.

Kita tidak membutuhkan keahlian statistik tingkat tinggi untuk membaca ketidakberesan pertanggungjawaban data survei ini. Sangat tidak logis jika jumlah responden lebih sedikit daripada jumlah desa/kelurahan yang menjadi target survei. Sekalipun dalam satu desa/kelurahan hanya terdapat satu responden, sedikitnya jumlah responden yang layak dikemukakan adalah 2.640 orang dalam survei tersebut.

Ada beberapa kemungkinan yang bisa menjelaskan kenapa sampai terjadi hal semacam ini.Namun tidak ada satupundiantarakemungkinanituyang membawa berita baik sehingga publikasi yang aneh itu bisa dibenarkan.

Pertama, kesalahan manajemen survei.Bisa jadi pada awalnya jumlah responden adalah 2.640 orang.Ini perkiraan minimal sesuai dengan jumlah desa/kelurahan yang menjadi target. Bila hal ini benar,berarti manajemen survei gagal mengembalikan sekitar 522 kuesioner (20%) sehingga tidak bisa diikutkan dalam pengolahan data.Tanpa penjelasan teperinci tentang kehilangan proporsionalitas data berdasarkan wilayah dan tanpa pembobotan ulang yang benar, kehilangan kuesioner sebanyak itu dapat merusak data survei secara keseluruhan sehingga sangat tidak layak untuk ditampilkan, apalagi dipublikasikan.

Kedua, survei fiktif. Biasanya pelaku survei melakukan aktivitas yang sangat runtut,mulai dari desain,turun ke lapangan, dan pelaporan. Jika dilakukan dengan benar, analis yang membuat laporan niscaya memiliki kerangka berpikir yang sistematis sehingga mustahil alpa dari ketidaklogisan semacam ini. Lain halnya jika survei yang dilakukan bersifat fiktif, kealpaan ini bisa terjadi. Khayalan atau imajinasi sangat mungkin tidak terstruktur dengan baik jika tidak dikoreksi berulang-ulang.

Perlu dipahami bahwa keanehan pertanggungjawaban data seperti ini tidak mungkin terjadi hanya karena keteledoran. Sebab, dalam rilis lembaga yang sama pada Desember 2008 ditemukan kesalahan sejenis, tapi lebih parah.Menurut keterangan mereka kepada pers, survei dilakukan dengan melibatkan 1.355 responden di 556 desa/kelurahan,di 33 provinsi,556 kelurahan/desa, 2.729 RW, dan di 29.765 RT.Tingkat keyakinan 95% dan margin of error +/- 3–5 % (Detik.com, 9/12/2008). Jika kita mau berpikir iseng sedikit, berarti satu orang responden diwawancarai sambil perpindah- pindah tempat di 22 RT yang berbeda. Atau setiap responden punya rumah di 22 RT yang berbeda dan kebetulan selalu terpilih menjadi target karena terdapat 29.765 RT yang masuk sebagai sampel dalam survei tersebut.

Ketiga, ini sedikit soal statistik, tetapi tidak rumit, yaitu soal margin of error. Harus ditegaskan bahwa margin of error bukanlah hasil tebak-tebakan, berdasarkan wangsit, dan bukan pula ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Ketua Tim Riset.Margin of error (sampling error) adalah tingkat toleransi kesalahan survei yang bersumber pada proses penentuan sampel. Yang memengaruhi margin of error adalah jumlah responden dan tingkat keyakinan yang diinginkan.

Jadi, secara logis, dengan tingkat keyakinan yang sama, tidak mungkin jumlah responden 2.118 memiliki margin of error yang sama dengan survei yang memiliki responden 1.355. Coba perhatikan margin of error survei bulan Desember dan Januari di atas. Sama-sama +/- 3–5 % bukan? Sampaidisanasaja, survei di atas sudah kerepotan mempertahankan diri.Apalagi kalau sampai ditelanjangi perihal kebenaran ukuran margin of error sebesar 3–5% tersebut. Jika kesalahan dasar semacam ini selalu terjadi, berarti lembaga bersangkutan sama sekali tidak memiliki kapasitas untuk melakukan riset kuantitatif.

***

Jika survei di atas hanya jadi konsumsi privat, tentu tidak akan terlalu bermasalah. Paling tidak, hampir tidak ada masyarakat yang menjadi korban informasi. Sayangnya, survei tersebut telanjur diberitakan secara luas. Survei ini mendapatkan legitimasi karena telah menjadi berita dan ditambah dengan komentar pengamat kenamaan.

Padahal, seandainya saja para jurnalis dan para pengamat politik mau sedikit berpikir serta bersedia menggunakan akal sehat dengan mudah mereka bisa mendeteksi survei yang tidak benar. Justru soal keanehan survei ini yang bisa terus dipertanyakan kepada si penyelenggara sebagai bagian dari gugatan kredibilitas.Jika ada sedikit kemauan untuk menelaah, publik tidak perlu memperoleh informasi dari sebuah survei yang memang dilakukan oleh orang-orang tanpa kapasitas. Bukankah berpikir dan berakal sehat itu tidak terlalu berat?(*)

Hasan Nasbi A
Research Manager Cirus Surveyors Group

Add comment February 13, 2009

Memahami Survei Politik

Koran Sindo, Sunday, 07 September 2008

Jika Anda ingin mencicipi sebuah minuman yang ada di dalam cangkir, berapa sendok yang Anda butuhkan untuk mengetahui bahwa isi cangkir itu terdiri atas kopi, susu, dan gula? Kira-kira satu atau dua sendok teh saja sudah cukup. Begitu pula jika Anda ingin mencicipi minuman yang ada di dalam teko,baskom, atau bahkan drum. Berapa sendok yang Anda butuhkan untuk mengetahui isinya? Lagi-lagi satu atau dua sendok teh sudah cukup juga. Yang penting,minuman tadi sudah diaduk- aduk dengan sempurna sehingga sedikit contoh sudah bisa memberikan informasi yang akurat bagi kita.

Satu atau dua sendok yang kita cicipi tadi, dalam bahasa ilmiah, disebut dengan sampel (sample). Betapa pun besarnya populasi (dalam contoh tadi adalah volume minuman), sedikit sampel sudah cukup untuk memberi informasi yang akurat asalkan syaratnya terpenuhi,yaitu populasi tadi sudah diaduk-aduk dengan sempurna.

Satu atau dua sendok tersebut akhir-akhir ini sering disampaikan kepada publik. Barangnya bukan lagi berbentuk minuman, melainkan opini/persepsi masyarakat Indonesia. Pelaku survei sosial saat ini juga sudah memiliki instrumen yang memadai untuk mengaduk-aduk populasi penduduk dengan sempurna. Itulah yang kita kenal dengan “hasil survei”. Publik niscaya sering mendengar bahwa menurut survei lembaga “X”,pada bulan “Y”, calon presiden “Anu” diperkirakan memenangi pemilihan presiden.

***

Memang, semakin dekat menjelang pemilu, hasil survei politik silih berganti dirilis.Ada survei tentang calon presiden, ada juga survei tentang partai-partai politik (parpol) yang akan memperoleh suara pada pemilu legislatif nanti. Dari survei tersebut, masyarakat bisa membuat gambaran, bahkan mungkin membuat prediksi sendiri,tentang hasil pemilu nanti.

Namun persoalannya, tidak seluruh survei memperlihatkan hasil yang sama. Padahal, kandidat atau partai yang mereka teliti nyaris sama.Apa yang membuat berbagai hasil survei kadang-kadang berbeda?

Ada beberapa hal yang membuat hasil berbagai survei politik itu bisa berbeda. Pertama,waktu pelaksanaan survei. Harus dipahami bahwa opini masyarakat tidak berada dalam posisi yang statis.Pendapat publik selalu bergerak dan dinamis.Isu tertentu bisa membuat opini masyarakat bergerak ke arah positif atau negatif. Dukungan masyarakat terhadap incumbent atau partai berkuasa, misalnya, bisa berbeda antara sebelum atau setelah kenaikan hargabahanbakarminyak(BBM).

Kedua, perbedaan hasil survei juga bisa disebabkan jumlah objek yang diobservasi. Jika survei “lembaga A” menguji 7 nama calon presiden, hasilnya bisa saja berbeda dengan “lembaga B”yang menguji 10 nama calon presiden meskipun dilakukan pada waktu yang sama. Sebab,setiap calon kandidat presiden yang diuji hampir pasti punya pendukung tersendiri walaupun kecil.Ketika nama tertentu dihilangkan dalam observasi, masyarakat yang menjadi sampel survei bisa saja mengalihkan pilihan kepada kandidat lain atau memilih abstain.

Risiko perbedaan seperti ini harus diambil karena sifatnya memang masih berupa penjajakan.Belum ada kepastian perihal nama maupun jumlah kandidat/partai yang akan berlaga dalam pemilu nanti. Survei bisa menjadi lebih akurat ketika nama dan jumlah kontestan pemilu sudah ditetapkan.

Selanjutnya, perbedaan hasil survei harus juga dilihat dari sisi selisih margin of error. Hampir seluruh lembaga survei politik memperlihatkan bahwa Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono silih berganti memperoleh dukungan terbanyak. Untuk urutan ketiga, keempat, dan kelima ditempati secara bergantian oleh Wiranto, Hidayat Nur Wahid, dan Sri Sultan Hamengku Buwono.

Jika angka dan urutan tersebut hanya sedikit berbeda,hal itu bisa diterima. Perbedaan yang sedikit itu disebabkan tiap survei juga punya batas toleransi kesalahan.Toleransi kesalahan itu bisa sebesar +/- (baca: ”plus minus”, bukan ”lebih kurang”) 5%,3%,2%,dll, bergantung pada jumlah responden yang dilibatkan dan tingkat keyakinan yang diinginkan.

Hanya saja,jika ada lembaga survei yang merilis hasil yang betul-betul berbeda dari mayoritas lembaga survei lain,tentu patut dipertanyakan dengan serius.Jika kasusnya seperti ini, kita harus menguji kompetensi sebuah lembaga dalam melakukan sebuah survei.

Cara paling mudah melihat kompetensi sebuah lembaga survei adalah memperhatikan cara pemaparan pertanggungjawaban metodologi.

Yang paling sering membuat lembaga survei terpeleset adalah ketika mencantumkan toleransi kesalahan (margin of error) dan tingkat keyakinan.Beberapa lembaga survei mencantumkan bahwa toleransi kesalahan survei sebesar 5% dengan tingkat keyakinan 95%.Ada juga yang memublikasikan toleransi kesalahan 3–5% dengan tingkat keyakinan 95%.

Lembaga survei sering terpeleset dalam pertanggungjawaban seperti ini. Artinya,lembaga tersebut tidak melibatkan orang yang punya pemahaman statistik standar.Beberapa lembaga riset menganggap bahwa margin of error adalah 100% dikurangi tingkat keyakinan. Sebagian lembaga survei bahkan mencantumkan margin of error hanya dengan menebak-nebak.

Saat hasil survei dipublikasikan,metodologi paling jarang dikupas,bahkan ketika hasil survei tersebut dibahas oleh intelektual dan pengamat terkenal. Ini memang problem intelektual dan kaum terpelajar di Indonesia,termasuk yang bergerak di dunia survei politik.Kita sejak kecil dididik untuk fobia terhadap angka. Angka dianggap sebagai sesuatu yang sulit dan rumit. Padahal menghitung toleransi kesalahan dan penetapan tingkat keyakinan bisa dilakukan semudah membalik telapak tangan, tanpa harus mempersyaratkan Anda punya keahlian dalam bidang statistik.

***

Pertanyaan berikutnya, apakah masyarakat dibuat bingung oleh hasil survei politik yang berbeda-beda itu? Kemungkinan besar memang masyarakat akan bingung. Hal ini wajar.Sebab, sering terjadi sebuah lembaga menyatakan SBY masih memperoleh dukungan paling tinggi dan tidak lama kemudian lembaga lain merilis Megawati Soekarnoputri sebagai pemenang. Kebingungan publik paling mendasar adalah soal menentukan hasil survei mana yang bisa dipegang kebenarannya.

Bahkan ada yang paling menggelikan sekaligus menyedihkan. Dalam banyak kasus, hasil survei juga sering diperlakukan seperti ramalan bintang. Jika dirasa bagus dan sesuai dengan keinginan politikus/masyarakat, hasilnya akan dipercaya dan dikutip sebagai pembenaran dukungan.Hasil survei seperti ini niscaya akan dibawa-bawa dalam setiap forum dan pertemuan.

Namun jika survei memperlihatkan hasil sebaliknya, sering muncul ungkapan sinis begini: “Ah,itu kan cuma hasil survei,paling banyak cuma 2.000 atau 3.000 responden, sementara penduduk Indonesia lebih dari 200 juta.Apa iyasurvei bisa dipercaya mewakili penduduk Indonesia? Bagaimana kalau kebetulan yang disurvei bukan daerah pendukung saya?”

Begitulah pemahaman umum masyarakat jika membaca hasil survei politik hari ini. Meskipun bukan merupakan barang yang benar-benar baru, survei politik relatif sekadar akrab di telinga, tetapi belum dipahami esensi dan logikanya.

Menjelang Pemilu 2009 nanti, frekuensi rilis hasil survei akan semakin tinggi. Hampir pasti akan ada perbedaan-perbedaan hasil yang disampaikan kepada publik. Oleh sebab itu, agar tidak salah memahami hasil survei politik,pemahaman paling sederhana untuk survei seperti ini perlu disebarluaskan.(*)

Hasan Nasbi A
Program Manager IRDI dan Research Manager CIRUS

1 comment September 8, 2008

Republik dalam Mimpi Tan Malaka

Oleh: Hasan Nasbi A. – Program Manager Indonesian Research and Development Institute, penulis buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka (LPPM Tan Malaka, 2004)

Dr Alfian menyebut Tan Malaka sebagai revolusioner kesepian. Mungkin tidak berlebihan. Tan Malaka memang pejuang kesepian dalam arti sesungguhnya. Sekitar 20 tahun (1922-1942) Tan Malaka hidup dalam pembuangan, tanpa didampingi teman seperjuangan. Beberapa kali dia harus meringkuk di penjara negara imperialis saat berada di Filipina dan Hong Kong, serta selama dua setengah tahun dipenjarakan tanpa pengadilan oleh pemerintah republik yang ia cita-citakan.

Sebagai pelarian dan tahanan, Tan tak pernah berhenti memikirkan nasib Negeri Hindia Belanda. Banyak gagasan yang lahir selama masa pelarian itu. Namun Tan Malaka tak punya cukup kesempatan untuk mendialektikakan gagasannya dengan tokoh-tokoh pejuang lain. Ada perbedaan waktu dan pengalaman sejarah yang membuat Tan Malaka berjarak dengan pengikut-pengikutnya yang kemudian berada dalam barisan Partai Murba. Meski tetap dijadikan idola hingga saat ini, perangai dan prinsip perjuangan Tan sungguh tak bisa diikuti oleh siapa pun. Hatinya terlalu teguh untuk diajak berkompromi dan punggungnya terlalu lurus untuk diajak sedikit membungkuk.

Kita bisa melihat beberapa contoh bahwa memang sulit mencari manusia yang bisa mengikuti kekerasan hatinya. Adam Malik, misalnya, adalah kader Partai Republik Indonesia yang sangat memuja Tan Malaka. Namun, di tangan Adam Malik, segala persoalan bisa menjadi superfleksibel. M. Yamin adalah pengikut Tan Malaka yang juga mendirikan Persatuan Perjuangan pada 1946. Persatuan Perjuangan adalah ikon diplomasi bambu runcing. Organisasi ini didirikan sebagai antitesis politik berunding yang dirintis oleh Kabinet Sjahrir I. Tapi, belakangan, Yamin juga menjadi anggota tim dalam Konferensi Meja Bundar pada 1949, sesuatu yang secara prinsip ditentang dalam ”Program Minimum” Persatuan Perjuangan Tan Malaka.

Di tengah kesepian dan kesulitan memperoleh pengikut yang kukuh itulah ia melahirkan gagasan-gagasan yang jernih, asli, bahkan mengagetkan. Mungkin gagasan itu tak sepenuhnya bisa diikuti, tapi jelas penuh inspirasi. Soal pelaksanaannya bisa dicocokkan dengan keadaan yang berkembang.

Gagasan Tan Malaka tentang Republik Indonesia tersebar di banyak buku. Ia tak punya kesempatan untuk menuliskannya secara tuntas. Gejolak revolusi mengharuskan revolusioner seperti Tan berada dalam kancah perjuangan fisik ketimbang di belakang meja. Namun, lewat antara lain buku Menuju Republik Indonesia (1926), Soviet atau Parlemen (1922), serta Madilog (1942), kita bisa menyatukan mozaik gagasan republik yang tercerai-berai itu. Tak sulit untuk menyatukan mozaik ini, karena Tan selalu menunjukkan pola pemikirannya.

Tan memberikan perumpamaan tentang burung gelatik untuk menjelaskan republik yang ia angankan. Burung ini terlihat seperti makhluk yang lemah. Banyak yang mengancamnya. Di dahan yang rendah, dia harus waspada terhadap kucing yang siap menerkam. Tapi dahan yang lebih tinggi juga bukan merupakan tempat yang aman baginya. Ada elang yang siap menyambar sang gelatik sehingga hidupnya tak merdeka. Ia hidup penuh ketakutan dan dengan perasaan terancam. Serba tak bebas. Bagi Tan Malaka, Indonesia harus bebas dari ketakutan seperti ini. Bebas dari belenggu dan teror pemangsa.

Tapi, jika burung gelatik berada dalam satu rombongan besar, ia akan bebas menjarah padi di saat sawah sedang menguning. Burung gelatik, yang sesaat lalu terlihat seperti makhluk yang lemah, bisa berubah drastis menjadi pasukan penjarah yang rakus tiada ampun. Keringat petani selama empat bulan terbuang sia-sia. Padinya habis disantap sekawanan gelatik.

Selain bebas dari penjajahan, merdeka bagi Tan Malaka bukan berarti bebas menjarah dan menghancurkan bangsa lain. Merdeka itu dua arah: bebas dari ketakutan dan tidak menebar teror terhadap bangsa lain. Inilah prinsip Indonesia merdeka.

Setelah merdeka, bangunan Indonesia harus punya bentuk. Ketika para pejuang lain baru berpikir tentang persatuan, atau paling jauh berpikir tentang Indonesia Merdeka, Tan Malaka sudah maju beberapa langkah memikirkan Republik Indonesia. Brosur Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) sudah ditulis di Kanton, Cina, pada 1925, tiga tahun sebelum deklarasi Sumpah Pemuda.

Tan Malaka tegas bahwa eks Hindia Belanda harus menjadi Republik Indonesia. Namun republik dalam gagasan Tan Malaka tak menganut trias politika ala Montesquieu. Republik versi Tan Malaka adalah sebuah negara efisien. Republik yang dikelola oleh sebuah organisasi.

Tan Malaka sejatinya tak percaya terhadap parlemen. Bagi Tan Malaka, pembagian kekuasaan yang terdiri atas eksekutif, legislatif, dan parlemen hanya menghasilkan kerusakan. Pemisahan antara orang yang membuat undang-undang dan yang menjalankan aturan menimbulkan kesenjangan antara aturan dan realitas. Pelaksana di lapangan (eksekutif) adalah pihak yang langsung berhadapan dengan persoalan yang sesungguhnya. Eksekutif selalu dibuat repot menjalankan tugas ketika aturan dibuat oleh orang-orang yang hanya melihat persoalan dari jauh (parlemen).

Demokrasi dengan sistem parlemen melakukan ritual pemilihan sekali dalam 4, 5, atau 6 tahun. Dalam kurun waktu demikian lama, mereka sudah menjelma menjadi kelompok sendiri yang sudah berpisah dari masyarakat. Sedangkan kebutuhan dan pikiran rakyat berubah-ubah. Karena para anggota parlemen itu tak bercampur-baur lagi dengan rakyat, seharusnya mereka tak berhak lagi disebut sebagai wakil rakyat.

Konsekuensinya adalah parlemen memiliki kemungkinan sangat besar menghasilkan kebijakan yang hanya menguntungkan golongan yang memiliki modal, jauh dari kepentingan masyarakat yang mereka wakili. Menurut Tan, parlemen dengan sendirinya akan tergoda untuk berselingkuh dengan eksekutif, perusahaan, dan perbankan.

Kalau kita tarik ke zaman sekarang, mungkin Tan Malaka bisa menepuk dada. Dia akan menyuruh kita menyaksikan sebuah negara yang parlemennya dikuasai oleh wakil buruh, seperti Inggris, kemudian menyetujui penggunaan pajak hasil keringat buruh untuk berperang menginvasi negara lain.

Akhirnya, parlemen di mata Tan Malaka tak lebih dari sekadar warung tempat orang-orang adu kuat ngobrol. Mereka adalah para jago berbicara dan berbual, bahkan kalau perlu sampai urat leher menonjol keluar. Tan Malaka menyebut anggota parlemen sebagai golongan tak berguna yang harus diongkosi negara dengan biaya tinggi.

Singkatnya, keberadaan parlemen dalam republik yang diimpikan Tan Malaka tak boleh ada. Buku Soviet atau Parlemen dengan tegas memperlihatkan pendirian Tan Malaka. Sampai usia kematangan berpikirnya, Tan tak banyak berubah, kecuali dalam soal ketundukan kepada Komintern Moskow. Karena pendirian ini pula Tan Malaka sangat keras menentang Maklumat Wakil Presiden Nomor X pada 1945 tentang pendirian partai-partai. Sebab, partai-partai pasti bermuara di parlemen.

Lalu seperti apa wujud negara tanpa parlemen itu? Penjelasannya memang bisa memakan halaman yang sangat banyak. Sederhananya, negara dalam mimpi Tan Malaka dikelola oleh sebuah organisasi tunggal. Dalam tubuh organisasi itulah dibagi kewenangan sebagai pelaksana, sebagai pemeriksa atau pengawas, dan sebagai badan peradilan.

Anda bisa membayangkan organisasi yang berskala nasional seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Bangunan organisasinya dari tingkat terendah sampai tingkat nasional bisa diandaikan seperti itu. Tidak ada pemisahan antara si pembuat aturan dan si pelaksana aturan. Di dalam organisasi yang sama pasti ada semacam dewan pelaksana harian, dan ada sejenis badan kehormatan atau komisi pemeriksa. Begitulah kewenangan dibagi, tapi tidak dalam badan yang terpisah.

Bagaimana mengontrol organisasi agar tak menjadi tirani kekuasaan? Di sinilah desain organisasi harus dimainkan. Ritual pemilihan pejabat organisasi tak boleh dalam selang waktu yang terlalu lama, agar kepercayaan tak berubah menjadi kekuasaan, agar amanah tidak berubah menjadi serakah. Kongres organisasi, dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi, harus dilakukan dalam jarak yang tak terlalu lama. Waktu dua tahun mungkin ideal untuk mengevaluasi kerja para pejabat organisasi. Jika kerja mereka tak memuaskan, kongres organisasi akan menjatuhkan mereka.

Barangkali banyak pembaca yang mengatakan bangunan kenegaraan seperti di atas jauh dari demokratis. Hal itu sangat wajar. Sebab, sudah demikian lama otak kita dicekoki oleh trias politika ala Montesquieu. Jika bangunan organisasi tanpa badan legislatif dianggap tak demokratis, boleh juga kita mengatakan bahwa partai politik, organisasi kemasyarakatan, ASEAN, bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa merupakan lembaga yang tak demokratis.

Di luar itu, bisa jadi pula ada yang mengatakan gagasan Tan Malaka naif dan tak bisa diikuti. Pendapat itu pun wajar. Seperti pernyataan penulis di awal tulisan ini, tak ada yang bisa dengan total mengikuti Tan Malaka. Selain terlalu lurus, Tan Malaka pasti tak bisa lepas dari belenggu zamannya. Namun tak ada salahnya kita menulis ulang semangat dalam gagasan kenegaraan Tan Malaka. Dalam Thesis, Tan meminta rakyat Indonesia tak menghafalkan hasil berpikir seorang guru. Yang penting adalah cara dan semangat berpikirnya. Ibarat seorang guru matematika, Tan tak ingin menuntut muridnya menghafal hasil sebuah perhitungan, tapi menguasai cara berpikir untuk bisa memperoleh hasil hitungan yang benar.

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/08/11/LU/mbm.20080811.LU127960.id.html

1 comment August 24, 2008

Mencari Kubur Tan Malaka (Malu Nih Ama Orang Belanda)

Sorry numpang curhat.

Hari Sabtu (19/7), saya bertemu Harry Poeze, penulis biografi Tan Malaka. Kebetulan dia sedang berada di Indonesia sampai tgl 28 Juli nanti. Sebenarnya ini pertemuan biasa saja. Memang setiap tahun dia ke Jakarta, dan kami selalu bertemu, baik itu pertemuan pribadi ataupun rame-rame bersama sisa-sisa orang tua pengikut Tan Malaka.

Cuma, ada pembicaraan dalam pertemuan itu yang membuat saya malu bercampur geram sebagai bangsa Indonesia.

Singkat cerita begini. Setahun yang lalu Poeze datang ke Jakarta meluncurkan buku tentang kehidupan terakhir Tan Malaka (Verguis en Vergeten, dihujat dan dilupakan). Di sana Poeze membuka misteri kematian Tan Malaka, termasuk soal waktu, tempat, dan nama orang yang mengeksekusi Tan Malaka. Terbukalah akhirnya bahwa Tan Malaka ditembak di Desa Selopanggung, Lereng Gunung Wilis, Kediri, pada tanggal 21 Februari 1949, oleh Soekotjo. Soekotjo adalah anggota Kesatuan Macan Kerah pimpinan Surachmat. Soekotjo ini kemudian menjadi Walikota Surabaya (tahunnya saya lupa). Buku setebal 2000 halaman itu sedang diterjemahkan oleh Hesri Setiawan. Mungkin 250 halaman pertama akan terbit dalam bahasa Indonesia bulan November 2008.

OK. Balik lagi. Saya bukan hendak menulis misteri kematian TM. Setelah peluncuran buku itu, Poeze bertemu dengan Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah. Dalam pertemuan, Bachtiar berjanji membantu pembiayaan riset untuk memastikan kuburan Tan Malaka. Kerjaan pemerintah tidak lagi berat, enteng saja. Pooeze sudah membuka jalan yang sangat terang. Bahkan ia sudah memerkirakan lokasi seluas 100 m2 sebagai tempat penguburan Tan Malaka. Namun, untuk memastikannya perlu riset yang serius dengan melibatkan ahli tanah, ahli forensik, dan juga tes DNA. Kebetulan dua orang keponakan langsung Tan Malaka (Zulfikar dan Ida Munir) masih hidup, so, tes DNA terhadap sisa-sisa fosil yg ditemukan masih bisa dilakukan.

Yang jadi soal adalah, ternyata gerak pemerintah Indonesia dalam memastikan kuburan seorang pahlawan kemerdekaan nasioanl lambat sekali. Sejak pertemuan dengan menteri sosial pertengahan 2007 lalu, sudah dua kali Poeze ke Jakarta. Gerak selangkah pun ternyata belum ada. Kalo soal sejarah kaya gini sepertinya ga bakal seksi. Mungkin yang seksi (kalo ngutip salah satu teman di milis sebelah, Baca: “erotis” he..he ) cuma urusan Pemilu dan Pilkada.

Beberapa waktu lalu, tim pencarian kubur Tan Malaka yang dibentuk oleh keluarga dan sisa-sia pengikut TM bertemu kembali dengan Pejabat di Direktorat Kepahlawanan Depsos. Jawaban yang diberikan sungguh kurang ajar. Menurut Ketua dan Sekretaris Tim (Zulfikar dan DP ASral), Depsos bilang kalau tidak ada mata anggaran untuk memastikan kuburan Tan Malaka. Kalau sudah ketemu dan pasti, baru bisa keluar dana untuk memugar dan memindahkan kuburannya. Intinya..tetap ga akan ada bantuan pemerintah untuk memastikan kuburan seorang pahlawan. Weleh..weleh..Mereka cuma mau enaknya aja. Bagi pemerintah/pejabat kita mungkin harga sejarah sama dengan setangguk ikan teri. Dibuang pun ga masalah.

Saya malu sekali pernyataan seperti itu akhirnya sampai ke telinga Poeze. Mau ga mau, malu ga malu, tim pencari kubur itu akhirnya curhat juga. Kalau muka bisa dipindah ke pantat, mungkin sudah saya lakukan.

Berkali-kali Poeze mengulang-ulang pernyataan Menteri Sosial setahun yang lalu. ” Pemerintah Indonesia harusnya yang bertanggung jawab memastikan kuburan Tan Malaka, dan bapak Menteri sudah berjanji” Begitu dia mengulang-ulang. Duh, Poeze kesannya naif sekali. Sampai akhirnya saya bilang; “Di sini berbeda. jangan terlalu percaya sama janji pejabat di Indonesia. Hari ini dia berjanji, besok pasti sudah lupa”. Tampak sekali Poeze gusar. Tampak juga bahwa sekitar 20-an orang yg hadir waktu itu juga malu besar.

Poeze sudah menghabiskan 30 hidupnya untuk meneliti, menyusun puzzle kehidupan dan kematian Tan Malaka yang penuh misteri. Sampai akhirnya dia berhasil menemukan titik terang. Kita, orang Indonesia tinggal membaca, berdiskusi dan berdebat.

Saya tahu, sebagian besar riset terakhirnya, termasuk bolak-balik Indonesia dijalani dengan biaya sendiri. Bukan berasal dari bantuan lembaga yang dipimpinnya. Padahal, gajinya sudah dipotong 40% untuk pajak di negerinya.

Saya rasa Poeze juga ingin melihat keseriusan pemerintah kita. “Saya punya ongkos untuk berjalan sendiri. Tidak perlu menanggung biaya perjalanan saya. Tetapi untuk penyelidikan kuburan harus dilakukan dan dibiayai oleh pemerintah Indonesia,” begitu Poeze mengeluarkan unek-uneknya. Saya cari-cari lagi muka saya, ternyata masih bertengger di atas leher..

Akhirnya, saya mengusulkan kepada tim untuk tidak lagi bergantung sama pemerintah. Saya minta mereka membuat proposal dan juga rincian biaya untuk menggali dan memastikan kuburan TM. Saya yakin masih ada orang-yang peduli dengan sejarah dan bersedia membantu, meski tidak sebesar anggaran yang biasanya keluar dari kocek pemerintah.

Akhirnya, sampailah saya pada maksud yang sebenarnya..he..he. Jika ada di antara pembaca blog ini yang masih punya kepedulian terhadap sejarah, atau punya simpati terhadap Tan Malaka, mungkin bisa ikut membantu. Jika anda bersedia, mohon hubungi saya via japri di datuakrajoangek@yahoo.com atau 081511470144. Jika anda berkenan, tolong beri nomor kontak anda, dan izinkan saya memberikan nomor kontak itu kepada Tim Pencarian Makam TM. Mereka nanti yang akan melakukan kontak.

Ahh…sedikit lega…Akhirnya unek-unekku sudah keluar. Untung tidak telanjur jadi jerawat. Maaf kalau ngaco dan ga sistematis. Semoga berkenan

Salam,
Hasan Nasbi A

3 comments July 26, 2008

Iklan RM 09 dan Promosi Ulil

Saya rasa, beberapa waktu lalu Celli kebetulan bangun pagi. Abis Salat subuh (he..he), dia bersantai menikmati matahari pagi yang cerah. Karena jarang menikmati matahari pagi, dia tertegun melihat bayangannya sendiri. Maklum cahaya matahari yang datang dengan sudut kecil membuat bayangan Celli begitu panjang, bahkan sampai ke ujung jalan. Dalam hati Celli membatin, wah ternyata meski aku berdiri di sini, kepalaku sudah sampai di ujung jalan..dia terpesona dengan bayangannya..lupa mengukur badan.

Lalu Ulil datang. Kebetulan juga bangun pagi. Entah kenapa, Ulil seperti kehilangan kemampuan berpikir kritis. Mungkin karena baru bangun tidur. Dia justru membenarkan bahwa kepala Celli sudah sampai di ujung jalan.

He..he..cerita di atas sepenuhnya fiktif. Hanya intermezzo aja sebelum masuk ke hal yang lebih substansial dari tulisannya Ulil..

Ulil mengkritik gerakan kaum muda karena tidak memberi definisi yang jelas tentang kepemimpinan kaum muda. Lalu Ulil membuat pagar sendiri. Sayang, pagarnya terlalu kecil. Hanya muat untuk Ulil dan Celli. Bagi Ulil, kepemimpinan kaum muda adalah posisi presiden. Nah loh..

Harus diakui, deklarasi kaum muda untuk memimpin tidak melahirkan operasionalisasi yang jelas dan tegas. Katanya sih sudah ada rapat2 operasionalisasi dan pematangan konsep kepemimpinan kaum muda. Cuma, yang sampai di telinga saya baru sebatas slogan. Namun simplifikasi Ulil juga kebangetan. Seolah Indonesia itu cuma Jakarta, dan pemimpin cuma presiden. Indonesia tidak hanya butuh presiden yang muda. Indonesia juga butuh Gubernur muda, Walikota dan Bupati Muda, butuh Dirjen yang muda, Menteri, Deputi, dan staf ahli menteri yang muda.

Memimpin Indonesia tentu tidak sesederhana kepala suku mengendalikan anggota kaumnya. Indonesia adalah bangunan besar yang disusun oleh fondasi, batu, dan tiang yang punya kegunaan sendiri-sendiri. Batu dan tiang inilah yang harus diremajakan. Kaum muda harus masuk dan menjadi pimpinan di berbagai sektor. Anda bisa bayangkan bahwa Indonesia punya harapan lebih baik bila lebih dari setengah kepala daerah berusia muda. Lebih dari separuh Dirjen, Deputi Menteri, Direktur BUMN, serta menteri2 berusia muda. Soal sang presiden dan wakilnya, sementara bisa saja dari kelompok tua. Ini tentu lebih memberi harapan bila dibandingkan dengan situasi bila presiden dan wapres muda, sementara struktur organisasi di bawahnya lebih banyak diisi orang tua.

So, tidak sesempit itu gagasan kaum muda memimpin. Gerakan kaum muda memimpin harus dimulai dari tingkat kepala desa, puncaknya memang presiden. Sektor di luar pemerintahan juga harus begitu. Nah, apakah itu sudah mulai dilaksanakan?Jika mau mengkritik gerakan kaum muda, harusnya pada poin ini. Kalau kita melhat demokrasi, politik, pemerintahan, dan Indonesia hanya terbatas di Jakarta, lebih baik otonomi daerah dihapus saja. Percuma kerja keras orang seperti Fadel Muhammad bila kemajuan Gorontalo kemudian dimaknai sebagai prestasi presiden di Jakarta. Indonesia butuh lebih banyak Kepala Daerah seperti Fadel daripada satu orang presiden muda seperti Celli..he..he

Sekarang soal yang lebih mendasar. Saya tidak berbicara soal peluang Celli jadi Presiden. Soal itu rasanya bisa diatasi jika mau bekerja keras. Saya berbicara soal kualifikasi Celli sebagai calon presiden. Tentu saja ini bertentangan dengan kekaguman Ulil.

Saya tidak mengenal Celli secara Pribadi. Saya hanya mengenal Celli lewat seminar, talk show, dan tulisan. Sejauh amatan saya, Celli bisa digambarkan dengan dua kata, yaitu Liberalisasi dan Privatisasi. Ya, Saya melihat bahwa Celli sebenarnya adalah pendakwah Neoliberal yang sangat istiqomah. Dia fanatik. Bila di negeri ini kita mengenal kelompok fundamentalis arab, maka Celli adalah bagian dari kelompok fundamentalis Amrik. Amerika adalah kiblat, Syariatnya berupa ajaran Neoliberal.

Karena profesinya sebagai pendakwah, semestinya tidak dicampur dengan politik. Ntar dakwahnya tercemar..he.he Bukankah Celli tidak menginginkan dakwah masuk arena politik? Bahaya! Coz seringkali solusi penyakit Indonesia di tangan pendakwah itu tidak rasional. Masa nanti seluruh solusi atas masalah bangsa ini hanya Liberalisasi dan Privatisasi? Kalo ada 10 BUMN bermasalah maka 100-an BUMN harus dijual ke swasta. Kalau organisasi pemerintah gemuk dan ga efisian apa harus diprivatisasi juga? (He..he yang ini mah bacanda..). Saya cuma miris aja kok solusi penyakit bangsa Indonesia ini cuma liberalisasi dan privatisasi? Ga kreatif. Sama aja dengan Hizbut Tahrir yang punya solusi sapu jagad, Khilafah! Lebih miris lagi, dalam beberapa forum Celli ga bisa membedakan antara Liberalisasi, Privatisasi, dan Debirokratisasi.

Di luar profesinya sebagai pendakwah, Ulil menyatakan bahwa Celli punya kualifikasi: determinasi tinggi, pekerja keras (kalau yang kaya gini mah banyak). Lalu juga kemampuan negosiasi, lobby, punya warna suara yang memadai untuk jadi seorang orator, punya kemampuan bermain dengan kalimat yang cerdas, dan juga punya kemampuan bahasa Inggris yang baik. Oleh karena itu, dia pantas maju sebagai presiden. Phhhh…Saya rasa Ulil salah baca buku. Kalau saya temannya Celli, saya akan sarankan dia masuk Deplu dan jadi diplomat.

Indonesia memang banyak meniru Amerika. Tapi tetap saja tidak sama. Bila pidato/orasi menjadi konsumsi politik utama di Amrik, di sini hanya jadi sambilan. Bila di amerika orang datang untuk mendengarkan pidato Obama, di sini orang datang untuk menyaksikan penyanyi dangdut. Kata-kata kampanye politisi tidak tinggal di kepala masyarakat. Mereka lebih banyak mengingat dan mengutip kata-kata Tukul seperti: “Katro”, “Ndeso”, “Tak Sobek-sobek”, dll.

Kata-kata Celli yang diingat agak luas mungkin hanya Save Our Nation. Itu pun cuma di kalangan terdidik dan penonton Metro. Kalaupun ada yang mengutip Celli, mungkin hanya M. Adil Patu, Ketua PDK Sulawesi Selatan. Slogannya untuk maju dalam Pilkada Kota Makassar mirip ” Save Our City”. Mungkin dia merasa gagah dengan kata-kata itu. Jika ditanyakan sama nenek-nenek, pasti ga ngerti artinya. Berarti komunikasi gagal. Kalaupun dijelaskan artinya dalam bahasa Indonesia or bahasa Bugis..si nenek balik nanya; ”Emang siapa yang mau menyerang Kota Makassar? He..he si nenek merasa diajak nostalgia ke zaman revolusi…

Pertanyaan saya (buat temannya Celli di milis ini). Apakah Celli punya pengalaman organisasi yang memperlihatkan bahwa dia memiliki otoritas dan pengaruh? Bagaimana dengan kemampuan manajerial? Apakah piawai dalam manajemen konflik? Jangan lupa. Politik adalah ranah perseteruan. Jika yang dikedepankan hanya kemampuan lobby dan negosiasi, lama-lama akan tekor. Coz, di dalam lobby dan negosiasi itu selalu ada kompensasi. Kalo bukan Celli yang tekor, negara ini yang tekor.

Terakhir, Di samping semua gerutuan di atas, saya salut dengan terobosan Celli. Meski saya anggap tidak layak Capres, Celi telah berhasil memberi inspirasi bagi kaum muda lain yang punya barisan untuk segera bertindak. Celli sudah mencubit sangat keras. Kaum muda tidak boleh terlalu lama berpikir dan berencana. Lama-lama malah lupa beraksi. Lalu menggerutu karena keduluan orang. Gerutuan saya mungkin mewakili gerutuan orang yang merasa didahului..he..he

Salam,

Hasan Nasbi A

2 comments July 26, 2008

Ibu, Takkan Ada yang Sia-sia

Ibu

Tak akan ada yang sia-sia

Darahmu saat melahirkanku sudah menganak sungai dalam tubuhku

Tangis putus asamu saat kita lapar menjadi cambuk pemacu semangatku

Doa dan harapanmu adalah kendaraan untuk mencapai cita-citaku

 

Ibu

Akan kubuktikan pada dunia

Bahwa tak sia-sia kau melahirkanku

Akan kutaklukkan dunia

Dan kupersembahkan kepadamu

 

Ibu

Jangan lupakan derita kita dulu

Tapi hapus segera air matamu

Akan kujadikan dunia

Bersujud memujamu

 

Ibu

Meski kini kau sudah renta

Tapi kau tetap luar biasa

Herkules dan Samson pun tak akan bisa

Mengaku yang paling perkasa

Ibuku yang paling digdaya

 

Ibu

Malam ini dadaku buncah

Esok hari aku harus berdiri gagah

Menapaki awal jalanku

Untuk menaklukkan dunia

 

Ibu

Tatap mataku

Hapus air matamu

Buka bibirmu

Mekarkan senyummu

 

Ibu

Katakan pada dunia..

Aku anakmu..

Aku puteramu..

 

 

Depok, 4 Mei 2008

 

 

Add comment June 11, 2008

Operator Kuprit!!!

Pernahkah anda mengalami kesulitan melakukan hubungan seluler dalam beberapa bulan terakhir? Atau pada waktu-waktu tertentu seperti Pk. 17-22? Ataukah hanya saya? Sialan!! banyak sekali pekerjaan yang terkendala gara-gara ni HaPe kaga bisa nyambung ke HaPe lain. Apalagi saat ada project yang melibatkan staf sangat banyak..bayangkan kekesalan dan kebetean kita yg nelpon..bisa berantakan tuh kerjaan. Dasar operator sialan..

Awalnya kukira ini hanya faktor cuaca..tetapi kok dah lebih dari sebulan penyakitnya masih sama. Aku pake Matrix dan pake Telkomsel secara bersamaan. Dua-duanya kuprit banget. Kalau mau nelpon..harus berkali-kali sambil menyebutkan semua nama binatang yang ada di ragunan. Jawabannya sama, “telepon yang anda tuju sedang sibuk”..lha..masa semua telepon sibuk.?? Aku coba menelepon nomorku yang lain. Jarak antara dua HP itu ga sampai 50 cm..trus di seberang sana ada jawaban “telepon yang anda tuju sedang sibuk”…huh.. sibuk pale lu peang..lha itu khan Hp lg kaga dipake tolol!! Kalau mau nelpon..harus diulang berkali-kali sambil mengumpat…kalo dah abis semua stok nama di kebun binatang ragunan yang kita sebut..baru bisa nyambung tuh telpon….

Ada apa ini? apakah karena perang tarif murah lalu kenyamanan pengguna seluler harus dikorbankan??Pasti bukan karena jalurnya sibuk..tetapi karen untuk membatasi penggunaan telepon yang dijanjikan tarifnya murah itu..lha kalo ga bisa dipake..ga jadi dapat yg murah khan??

Apa yang harus dilakukan??Kepala gw dah mulai panas nih..masa tiap hari harus memaki-maki?? Apakah gw harus siapkan bensin trus membakar gedung Indosat ama Gedung Telkomsel?? Ada yg mau gabung?? Gw beneran..mau memberi pelajaran sama penyelenggara seluler itu..dasar Mo…t!!!

Kita, konsumen di Indonesia ini terlalu baik…ga pernah protes dengan layanan perusahaan yang seenak udelnya itu…ayo berhenti jadi orang baik…!!!

Add comment April 10, 2008

MARI BELAJAR MADILOG![1]

KETERBELAKANGAN BERPIKIR

Ketika bencana alam tidak henti-hentinya melanda Indonesia, banyak orang yang frustasi. Mereka kemudian melarikan diri dan akal ke dunia metafisika, berharap jawaban datang dari dunia gaib. Penyebab bencana alam ini kemudian dicari-cari ke dunia antah-berantah. Akhirnya, jalan keluar yang ditawarkan pun tidak lagi masuk di akal.

            Pernah seorang anggota DPR RI, yang mengaku dirinya sebagai paranormal serta selalu berpakaian hitam-hitam, menyarankan agar presiden diruwat. Menurut anggapan banyak orang yang percaya dengan mistik kejawen, Presiden dianggap memiliki aura kotor sehingga harus dibersihkan secara spritual, agar negeri ini lepas dari bencana alam.

            Entah kenapa, mungkin karena saking percaya dengan mistik ruwat-ruwatan itu, atau mungkin karena benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya, beberapa orang di Solo ahirnya melakukan ritual ruwatan “jarak jauh” bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hasilnya, bencana alam ternyata tidak berhenti sama sekali. Para pecinta dunia gaib menggigit mulut. “ Pasti ada syarat ruwatan yang kurang”, begitu pikir mereka.

            Di lain waktu, di awal tahun 2008, hampir seluruh stasiun televisi di negeri ini menayangkan berbagai ramalan dari beberapa orang yang menyebut diri mereka sebagai cenayang, penghubung manusia dengan dunia gaib. Mata dan telinga mereka dianggap bisa berkumunikasi dengan informan dari dunia halus. Informasi dari dunia yang tidak pernah bisa diverifikasi oleh ilmu pengetahuan itu kemudian dijadikan acuan untuk menjalani tahun baru.

Seorang paranormal tua bertampang bule, pada awal tahun 2008, meramalkan akan ada bekas orang besar dan sangat berpengaruh yang meninggal dunia. Alhasil, pada tanggal 5 Januari 2008, presiden kedua RI, Soeharto, masuk rumah sakit. Dua minggu kemudian, manusia bergelar Bapak Pembangunan itu meninggal dunia.

Plok..plok..tepuk tangan para pecinta dunia gaib menggema. Tebakan Mama Lauren benar-benar hebat. Berarti informan gaib Mama Lauren jauh lebih hebat daripada informan paranormal lain yang sering tidak akurat. Mereka lupa, bahwa tebakan bersayap ala Mama Lauren bisa disampaikan setiap tahun tanpa informan dari alam lain, dan kemungkinan besar benar. Sebab, setiap tahun hampir selalu ada bekas orang besar dan berpengaruh yang meninggal dunia. Ini logis, sebab bekas orang besar dan berpengaruh biasanya sudah berusia sangat lanjut dan pasti dekat dengan ajal

            Cerita di atas adalah dua contoh saja dari puluhan ribu contoh keterbelakangan berfikir bangsa Indonesia. Bukti bahwa akal bangsa Indonesia masih berkabut, diselimuti kegelapan mistik dan kegaiban. Mungkin itu pula sebabnya bangsa ini sulit bangkit dari keterpurukan.

 

MADILOG   

Puluhan tahun silam, tepatnya pada tanggal 15 Juli 1942, di sebuah gubuk reot di daerah Kalibata, seorang pejuang senior mulai berkutat dengan kertas dan tulisan yang sangat kecil-kecil. Saking kecilnya, tulisan yang dia buat hanya bisa ia baca sendiri. Bahkan, kertas tulisan itu bisa dilipat menjadi alas kaki meja. Hal itu semata-mata untuk menjaga kerahasiaan harta berharganya dari incaran mata-mata jepang.

             Selama lebih kurang 8 bulan ia menulis tentang cara berfikir yang seharusnya dijalankan oleh bangsa Indonesia jika ingin mencapai kesejahteraan dan kemajuan. Ia menulis setiap hari meskipun dalam keadaan lapar.

Pria yang berumur hampir 50 tahun ini sebenarnya berada dalam kondisi yang amat miskin. Kesehatannya pun tidak terlalu baik. Oleh sebab itu, ia hanya mampu menulis sekitar tiga jam sehari. Lebih jauh lagi, dia tidak punya cukup uang untuk membeli buku referensi agar tulisannya lebih berkualitas.

            Laki-laki itu adalah Tan Malaka, lengkapnya Ibrahim Gelar Datuak Tan Malaka. Seorang yang lebih dari 20 tahun sebelumnya berada dalam pembuangan  jauh dari negeri yang dicintainya. Namanya, Tan Malaka atau Ibrahim, sudah dua dasawarsa tidak pernah lagi digunakan. Telinganya tidak pernah mendengar orang memanggilnya dengan nama sebenarnya. Ia lebih terbiasa dengan nama Ong Son Lee, Elias Fuentes, Husein, dan masih banyak nama samaran lainnya.

Tan Malaka meninggalkan Pulau Tumasik, menyelundup masuk ke Indonesia karena membaca tanda-tanda kekalahan Belanda dalam perang perang melawan Jepang, awal 1942. Dari Singapura, ia menaiki kapal kayu menyeberang ke Sumatera. Padahal, jika menuruti akal sehat, Tan Malaka seharusnya sudah puas dengan kehidupan yang nyaman di Singapura sambil mengajar di sebuah sekolah Cina tingkat lanjutan.

Namun, panggilan tanah air tidak kuasa ditolak oleh Tan Malaka. Kalibata adalah labuhan awal tokoh legenda ini untuk menyusun kembali perjuangannya. Sekembalinya ke Indonesia, keprihatinan Tan Malaka sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia harus mulai kembai berjuang untuk membebaskan rakyat Hindia Belanda dari dua hal, yaitu penjajahan  Belanda dan sekaligus juga membebaskan mereka dari kegelapan mistik bangsa timur.

Itulah yang menyebabkan Tan Malaka menulis Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Sebuah mahakarya penting yang diwariskannya bagi anak bangsa. Madilog ditulis untuk mengubah bangsa Indonesia dari alam mistik dan kegaiban ke alam yang terang-benderang berdasarkan ilmu pengetahuan.

Madilog ditulis bukan untuk dihapalkan, melainkan untuk diamalkan sebagai senjata berfikir. Bagi orang yang serius mempelajari filsafat, mungkin akan menemukan banyak kekurangan dan kekeliruan dalam Madilog. Namun, itu tidak mengurangi pentingnya arti Madilog bagi kehidupan bangsa Indonesia. Sebab, bagi sebagian besar rakyat Indonesia, termasuk pejabat, politisi, bahkan presiden sekalipun, Madilog yang ditulis 66 tahun yang lalu itu masih terlalu canggih dan maju.

Madilog, bagi Tan Malaka, adalah ilmu tentang cara berfikir yang benar. Dasar berfikir yang benar menurut Tan Malaka adalah Materialisme. Kadang-kadang, Tan juga menyebutkannya sebagai Matter. Meskipun dalam bahasa asing dua kata itu punya makna berbeda, tetapi Tan Malaka sebenarnya hanya ingin menyatakan satu hal, yaitu berangkatlah dari kenyataan, alam nyata. Jauhkanlah diri kita sejauh-jauhnya dari dasar berfikir tahayul, mistik, dan teman-temannya.

 Matter, menurut Tan Malaka, bukan sekadar benda yang kasat mata, melainkan segala macam yang besifat nyata. Jika ada orang yang ingin menyeberangi laut dengan perahu atau kapal, maka Matter bukanlah sekadar perahu dan dayung. Namun, pengetahuan tentang ombak, ilmu tentang mata angin, dan kemampuan navigasi juga disebut sebagai matter. Jadi, jika anda ingin melaut, maka bekalilah diri anda dengan perahu, dayung, pengatahuan tentang navigasi dan arah angin serta perlengkapan lainnya. Salah jika anda pergi melaut berbekal, perahu, dayung, jampi-jampi, dan sesajen untuk Nyi Roro Kidul.

Setelah memilih dasar berfkir yang benar, maka gunakanlah metode ilmiah dalam befikir, begitu kira-kira yang diinginkan Tan Malaka. Dalam hal yang sederhana gunakanlah logika dan untuk hal yang lebih rumit gunakanlah pisau dialektka. Dialektika bukan dimaksudkan untuk membatalkan logika, namun sebagai pelengkap pisau analisa, jika logika sudah buntu untuk menjawab sebuah persoalan.

Jika hanya sekadar persoalan lapar, logika sanggup menyelesaikannya. Jawaban bagi orang lapar sangat jelas dan pasti, yaitu isilah perutnya dengan makanan. Tetapi bagaimana cara agar orang tersebut bisa makan dan terbebas dari kelaparan selamanya, logika akan buntu. Kita butuh pisau yang lebih canggih, yaitu dialektika.

Jika ada seorang petani yang memiliki tanah hanya setengah hektar. Hasil tanah itu tidak cukup untuk makan keluarganya selama satu tahun. Meskipun bisa dua atau tiga kali panen dalam setahun, tetap saja tidak mencukupi untuk kebutuhan dasar si petani dan keluarganya. Itu belum termasuk jika ada serangan banjir atau hama. Di banyak daerah di Indonesia, rentenir tumbuh subur di kalangan petani seperti ini. Sampai pada suatu saat si petani tidak lagi sanggup membayar utangnya. Tanah secuil itu pun dijaminkan di atas materai kepada si rentenir.

Karena utang terus berbunga, tanah si Petani tidak lama lagi akan segera disita oleh rentenir. Jika mereka berperkara, pengadilan niscaya memenangkan si rentenir  karena ada bukti perjanjian utang hitam di atas putih. Itulah logika. Dia selesai pada satu titik karena kebenaran versi logika hanya satu.  Tetapi logika tidak menyelesaikan masalah. Si petani dan keluarganya masih harus melanjutkan hidup. Lalu dari mana lagi sumber kehidupan mereka? Si petani tadi akan memambah deretan orang yang akan menjadi masalah sosial bagi pemerintah.

Jika pemimpin di negeri ini tidak memiliki dasar berfikir yang benar, mereka akan memberikan solusi kebahagiaan di akhirat sebagai penghibur jutaan petani yang kehilangan tanahnya. Oleh karena itu, petani-petani di Indonesia senantiasa harus mendekatkan diri kepada yang maha kuasa dan ikhlas menerima cobaan.

Jika pemimpinnya hanya sampai ada kemampuan logika, maka ia akan menyalahkan si petani karena berutang kepada si rentenir. Apalagi sampai ada bukti hitam di atas putih Tetapi, jika pemimpin sudah menguasai dialektika, dia akan sampai pada pertanyaan: Kenapa sampai ada masyarakat yang hanya punya tanah garapan setengah hektar? Kenapa sampai harus ada rentenir sebagai tempat berutang para petani? Lalu apa gunanya pemerintah bagi masyarakat yang semakin lama semakin terpinggirkan? Nah, dari sanalah kita mencari jawaban terhadap persoalan tadi.

Itulah yang disebut dengan Madilog secara sederhana. Kita diajarkan secara runtut mulai dari dasar berfikir sampai dengan pemilihan metode berfikir. Jika ini dilaksanakan, dalam pikiran Tan Malaka, bangsa Indonesia akan terlepas dari selimut kelam kebodohan.

 

NASIB MADILOG

            Tan Malaka, seorang revolusioner tulen tidak bernasib mujur di negeri sendiri. Meskipun mati-matian berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka akhirnya harus tewas dieksekusi oleh tentara berpangkat rendah. Ironisnya, pembunuh Tan Malaka adalah tentara Republik Indonesia, negara yang sudah ia mimpikan sejak menulis brosur ”Menuju Republik Indonesia” tahun 1924. Tan Malaka ditembak mati  21 Februari 1949, di Desa Selo Panggung, di Lereng Gunung Wilis, Kediri.

            Sama seperti nasib tuan pembuatnya, Madilog juga tidak mujur negeri sendiri. Meskipun berupa mahakarya yang didedikasikan untuk rakyat Indonesia, hanya segelintir orang yang pernah membacanya. Madilog lebih sebagai legenda yang dibicarakan dari mulut ke mulut (sama dengan Tan Malaka) namun tidak pernah dibaca dan dipahami secara serius, apalagi untuk diamalkan. Madilog lebih mirip seperti fosil sejarah yang hanya dikagumi di balik etalase museum. Banyak orang yang berdecak kagum terhadap Madilog, tetapi tidak tahu apa itu Madilog selain kepanjangannya.

            Padahal, untuk saat sekarang ini, Madilog masih sangat relevan untuk dipelajari secara serius, tidak hanya untuk mahasiswa filsafat, melainkan seluruh orang yang sudah menempuh pendidikan universitas. Meskipun Tan Malaka membuat Madilog untuk ditujukan kepada masyarakat Indonesia yang sudah menyelesaikan pendidikan dasar, tetapi harus diakui isinya masih terlalu berat untuk dipahami otak kebanyakan  bangsa Indonesia. Apalagi sudah sedemikian lama diselimuti oleh kabut tahayul dan kegaiban.

             Ada ketakutan, jika Madilog dipelajari dan disebarluaskan, akan menggiring bangsa Indonesia untuk menjadi Ateis. Sementara agama dan Tuhan adalah suatu hal yang sangat penting bagi masyarakat kita. Di sinilah letak kelemahan mental kita. Generasi orang tua kita tidak pernah membiasakan otak anak-anak mereka dengan dialektika, termasuk membaca gagasan yang salah satu isinya menegasikan soal ketuhanan.

            Madilog adalah pisau berfikir. Dia tidak hanya bisa digunakan oleh orang yang tidak bertuhan, tetapi oleh siapa saja. Sebab, desain Madilog sudah dibuat sehalus mungkin oleh Tan Malaka untuk tidak membabi-buta menghancurkan agama masyarakat Indonesia. Toh, akhirnya bagi Tan Malaka  agama adalah pilihan hidup yang tidak boleh dicampuri oleh siapapun, termasuk oleh komunitas dan negara.  Ia benar-benar berdiri sebagai hak individu.

            Yang penting adalah bagaimana cara berfikir yang digunakan. Kita bisa saja tidak harus berdebat soal ontologi tentang asal muasal segala sesuatu.Tapi cukup berangkat dari epistimologi yang benar. Mungkin saja kita seorang penganut metafisika secara ontologi, tetapi secara  epistimologi adalah seorang penganut empirisisme. Sederhananya begini, mungkin saja anda adalah seorang yang taat beragama dan sangat percaya pada keadilan Tuhan. Namun saat anda dizalimi oleh siapapun, termasuk oleh negara, anda tidak melihat itu sebagai cobaan atau kutukan Tuhan. Namun benar-benar sebagai sebuah kezaliman yang harus dilawan. Maka langkah terbaik adalah bergerak melawan ketidakadilan  itu. Anda tidak diam dan menenggelamkan diri sampai larut malam bercengkrama dengan Tuhan agar terlepas dari segala penderitaan.




[1] Tulisan ini dibuat untuk Seminar Tan Malaka yang diadakan di AJB FISIP UI, Kamis 28 Februari 2008. Saya Diminta untuk menjadi pembicara versama Harry A. Poeze, Asviwarman Adam, dan Zulhasril Nasir.

3 comments March 20, 2008

So What Gitu Loh….

Hari Selasa (19/2/2008) aku diminta oleh sekelompok mahasiswa untuk berbicara pada peringatan hilangnya Tan Malaka yang ke 59. Ya, 59 tahun lalu Tan Malaka dinyatakan hilang. Sampai tahun 2007, para pengikut dan pengagum Tan Malaka, termasuk para sejarawan masih percaya bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 19 Februari 1949 lalu mayatnya dibuang ke Kali Brantas.


Sampai akhirnya, pada pertengahan tahun 2007, Harry A Poeze datang ke Indonesia sambil meluncurkan buku keduanya tentang Tan Malaka (Verguisd en Vergeten). Kalau bahasa kite artinya Dihujat dan Dilupakan. Dalam buku itu, Poeze menyatakan dengan keyakinan 99,99% bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949, di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selo Panggung.

Meskipun tanggal kematian Tan Malaka sudah diketahui, ternyata para pengikut Tan Malaka (khususnya di Jakarta) tahun ini masih melakukan peringatan pada tanggal 19 Februari. Sudahlah, namanya juga kebiasaan setiap tahun. Ya sudahlah. Toh, tidak salah juga. Khan, yang diperingati adalah hari hilangnya Tan Malaka.

Kembali ke soal acara tadi. Ini adalah acara peringatan kedua yang dilakukan di Universitas Indonesia. Peringatan pertama diadakan pada tanggal 19 Februari 2004, di Gedung Pusat Antar Universitas Univesitas Indonesia. Penyelengaranya adalah Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Eka Prasetya Universitas Indonesia. Kebetulan para pengurusnya adalah adik-adikku di HMI UI. Jadi, dalam batasan tertentu, “bisa diarahkan” untuk menyelenggarakan acara ini bekerja sama dengan LPPM Tan Malaka.

Seingatku, beberapa hari (atau sehari?) setelah acara tahun 2004 itu, pengurus KSM dipanggil oleh salah seorang pejabat di Rektorat UI. Mereka diperingatkan agar hati-hati terhadap infiltrasi ideologi tertentu di dalam kampus..hehe..itu paranoid apa guoblok yah?

Ups..ngelantur lagi.. OK deh, balik lagi..sekarang serius cerita tentang acara tadi.

Sebenarnya aku gak terlalu semangat unutk berbicara di forum itu. Pasalnya sederhana. Aku mendengar salah seorang dosen di FISIP UI juga mau mengadakan acara serupa tanggal 28 Februari dengan menghadirkan Poeze, sekembalinya Poeze dari Suliki, Kampung halamannya Tan Malaka. Nah, buat apa ada dua acara yang mirip, dalam waktu berdekatan, dan di kampus yang sama? Toh, yang berminat terhadap Tan Malaka juga cuma itu-itu saja? Tapi dasar orang-orang tua golongan kiri memang suka berpecah-belah (yang muda juga gitu). Mereka memaksa adik-adik mahasiswa untuk terus mengadakan acara ini. Gak mau ngalah sama acara orang lain. Gengsi kalau harus gabung. Seolah-oleh eksistensinya hancur kalau gabung sama acara orang lain. Kaya gerombolan demo aja..susah diajak gabung kalau ketemu di jalan. Padahal isunya sama. Yang jadi persoalan adalah siapa inisiator dan siapa followers..fhhh cape deh…gitu aja kok repot..

Namun, apa boleh buat, ketua panitianya adalah adikku. Dia memang lagi semangat berorganisasi. Gak enak kalau bikin dia patah semangat. Rencananya, Budiman Sudjatmiko., Eros Djarot, dan Ade Daud Nasution (Anggota DPR RI) juga akan jadi pembicara. Hasilnya..cuma Ade Nasution yang hadir. Budiman tiba-tiba sakit flu dan membatalkan kehadiran satu jam sebelum acara. Sementara itu, Eros Djarot tanpa kabar sama sekali. Jadilah aku, Pak Asral (Ketua LPPM), dan Ade Daud Nasution yang jadi pembicara di depan. Lha pertanyaanya kenapa harus aku? Katanya sih biar ada perwakilan orang muda yang pernah menulis tentang Tan Malaka. Yo wis, itung-itung menjajal tingkat percaya diri.

Untunglah ada Ade Nasution. Meskipun ngomongnya agak ngalor-ngidul, teteup wae dia anggota DPR. Acara ini masih ada gengsinya. Orang pasti mau mendengar kalau yang ada di depan adalah orang yang namanya lumayan sering didengar. Lha kita..? Meskipun udah dikonsep matang-matang, teteup kaga ada yang kenal. Ya toh?? He..he ini bentuk ketidak-PeDe-anku saat tampil. Siapa yang mau dengar? Gw..bukan siapa-siapa..gak terkenal..trus ngasih ceramah di depan orang-orang tentang Tan Malaka. Takutnya ntar gw malah disambit pake sepatu…he..he

Sepanjang sesi tanya jawab, ada satu pertanyaan yang membuatku meringis untuk kesekian kalinya. Pertanyaan kaya gini sudah sering aku dapatkan, dan seperti biasa, ada rasa kesal setiap kali menjawab pertanyaan seperti. Inti pertanyaan itu gini,” Bagaimana sih sikap ketuhanan Tan Malaka? Kalau dulu-dulu ada yang bertanya, ”Tan Malaka itu Islam atau Atheis?” Bahkan saat sidang skripsi, pengujiku, yang saat ini sudah jadi Ph.D, juga ngajak berdebat soal keislaman Tan Malaka. Padahal, buatku itu gak relevan sama sekali. Mau Islam atau tidak, itu suka-sukanya Tan Malaka aja.

Sebenarnya, pertanyaan seperti ini bisa dengan mudah dijawab. Tentu saja berdasarkan penilaianku terhadap jalan hidup dan gagasan Tan Malaka. Orang lain bisa saja punya penilaian berbeda. Namun kalau mau utuh dan jujur membaca buku-buku Tan Malaka (terutama MADILOG) niscaya setuju dengan penilaianku…he..he (PeDe amat yah?? please jangan disambit yah…)

Buatku, Tan Malaka sangat mudah untuk diidentifikasi dalam soal Agama dan Tuhan. Tan Malaka adalah materialis sejati. Mistik, dalam bahasa MADILOG disebut mistika, adalah haram. Segala macam mistik, atas nama apa pun juga. Segala yang berbau rohani tidak bisa diterima akal sehat. Dan mistika terbesar bagi umat manusia adalah Tuhan. Tan Malaka berfikir seperti itu.

Coba baca halaman-halaman awal Madilog. Ada cerita tentang Dewa Ra dari Mesir saat menciptakan alam semesta. Sekali berucap “Ptah” maka Dewa Ra berhasil menciptkan Sungai Nil, hamparan padang pasir, dan alam semesta, termasuk makhluk hidup di dalamnya. Pada halaman berikutnya, habislah cerita Dewa Ra ini dicela oleh Tan Malaka berdasarkan hukum-hukum físika dan kimia. Meskipun bukan ahlinya, Tan Malaka bersemangat sekali membantah kejadian alam semesta seperti dalam cerita Dewa Ra tadi.

Nah, mari akal sehat kita diajak berfikir sedikit. But, jangan sentimen dulu! Kalau Dewa Ra itu diganti dengan “Allah” dan “Ptah” itu kita ganti dengan “Kun Fa Yakun”..apa yang ada dalam kepala anda? Kalau MADILOG memang ingin dijadikan sebagai senjata berfikir bangsa Indonesia, lalu apa arti penjabaran Tan Malaka di atas? Buat apa dia susah-susah harus membongkar kepercayaan mendasar bangsa Indonesia tentang ketuhanan? Jawabannya, karena materialisme, menurut Tan Malaka, ádalah dasar berfikir yang benar. Tidak ada tempat untuk metafísika (Tan Malaka menganggapnya sama dengan idealisme). Yakinlah bahwa Tan Malaka menggunakan Dewa Ra hanya sebagai siasat. Sebab, jika langsung dengan menyebut Allah, umat akan terjauhkan dari semangat revolusi.

Banyak orang yang mengatakan bahwa Tan Malaka itu Islam. Mereka memberikan alasan bahwa Tan Malaka adalah pembela gerakan Pan Islami di Timur Tengah dalam sidang Komintern tahun 1922. Lalu Tan Malaka juga memuji-muji Islam dalam Islam Dalam Tinjauan MADILOG sebagai salah satu Bab MADILOG. Ada juga cerita tentang Tan Malaka yang selalu menangis ketika Ibunya dulu bercerita tentang kisah para nabi. Menurut orang-orang (termasuk beberapa orang yang bergelar Master dan Ph. D) itu adalah tanda –tanda bahwa Tan Malaka adalah seorang penganut Islam. Kasian…sepertinya mereka hanya baca beberapa buku dan itu pun tidak tuntas.

Nah inilah pangkal bala dari pertanyaan soal agama dan sikap ketuhanan Tan Malaka. Pertanyaan tentang agama Tan Malaka bukan pertanyaan yang bebas nilai. Ia adalah pertanyaan yang nantinya akan bersangkut paut dengan penilaian terhadap gagasan Tan Malaka. Jika dia Islam, maka dia harus dikagumi dan dijadikan idola. Sementara itu, seandainya dia ternyata ateis, maka Tan Malaka harus dihujat dan disalahkan. Pemikirannya bisa dianggap jahat dan berbahaya

Benar bahwa Tan Malaka sangat dekat dengan kelompok Islam. Benar pula Tan Malaka berasal dari keluarga yang taat beragama. Bahkan, bapaknya adalah orang tarekat. Benar pula bahwa Tan Malaka mengagumi Muhammad , Isa , dan Musa. Terakhir, juga benar bahwa Tan Malaka tidak konfrontataif terhadap agama sebagaimana kaum kiri lainnya.

Semua pernyataan benar di atas tentu tidak dapat dijadikan kesimpulan bahwa Tan Malaka adalah seorang Islam. Ada pula Doktor yang menyebutnya Islam Kiri atau Kiri Islam. Di sinilah letak kekeliruan itu.

Harus dipahami, saat itu Tan Malaka melihat bahwa bangsa-bangsa Islam di Asia sebagai faktor revolusi untuk mengusir imperialis-kapitalis Eropa dan Jepang. Ini logis dalam cara berfikir dia. Kalau di Indonesia, revolusi meninggalkan atau memusuhi kalangan Islam, revolusinya pasti gagal karena kekurangan syarat dukungan. Bagaimana mungkin bagian terbesar dari sebuah bangsa tidak dijadikan faktor revolusi? Dalam tulisannya yang lain Tan Malaka yakin seyakin-yakinnya bahwa suatu saat faktor revolusi yang belum jadi kiri akan menjadi kiri dengan sendirinya, setelah merasakan manfaat dari sebuah negara revolusi yang dikendalikan oleh kelas pekerja.

Soal Islam dalam Tinjauan Madilog dan kekagumannya terhadap para nabi adalah soal yang wajar. Harus diingat Islam dalam Tinjauan Madilog tidak satu patah kata pun membenarkan Islam. Hanya saja, dia mengagumi Muhammad sebagi seorang pembebas. Nah, kalau para penemu berhak meberi nama temuannya sesuka hati? Kenapa Muhammad tidak boleh memberi nama ajaran barunya (temuannya) dengan nama Islam (Keselamatan)? Harus diakui bahwa Muhammad adalah manusia paling besar sepanjang sejarah umat manusia. Namun, kekaguman Tan Malaka terhadap para nabi hanya sebatas kapasitas mereka sebagai manusia, bukan dalam konteks wahyu yang dianggap mistik dan tidak masuk akal oleh MADILOG. Baca beberapa Bab dalam Buku dari Penjara ke Penjara tentang pandangan hidup, ada juga di beberapa tulisan atau brosur lain..saat Tan Malaka menjelaskan tentang asal-usul agama menurut pandangannya. Ujung kesimpulan Tan Malaka adalah bahwa agama itu muncul hanya sebagai buah ketakutan manusia.

Problem konklusi kita adalah menganggap orang yang simpati terhadap Islam sebagai orang Islam. Kalau begitu kita harus kerepotan untuk mengidentifikasi Annie Schimmel dan Karen Amsptrong..he..he

Itu pula yang dilekatkan terhadap Tan Malaka. Lagi pula, sebagian besar di antara kita, termasuk intelektual bergelar Doktor, masih sangat terikat dengan sentimen primordial seperti agama dan etnis. Ada stereotipe khusus yang dilekatkan kepada golongan tertentu. Jika Tan Malaka adalah Minangkabau dan Islam..wah..luar biasa tokoh ini. Namun, jika dia ateis…phhh…turun deh nilainya. Bisa-bisa malah dibenci.

Inilah yang disebutkan oleh Tan Malaka sebagai salah satu kesalahan dalam berfikir. Namanya Ignoratio Elenchi. Bahasa kitanya.”.kaga ada relevansinya Bung!”. Penilaian terhadap Tan Malaka akhirnya harus disangkut pautkan dengan privasinya. Yang dilihat bukan lagi benar atau tidaknya, bagus atau jeleknya gagasan Tan Malaka, tetapi lebih banyak tentang identitas ke-Islaman Tan. Akhirnya yang digugat bukan lagi soal gagasan, tetapi soal agamanya. Karena dia ateis..maka gagasan Tan Malaka adalah salah dan jahat..he..he ngaco khan silogismenya?

Contoh sederhananya begini. Anda tidak percaya dengan saya karena hidung saya panjang dan bengkok. Jadi apapun gagasan saya sudah salah seketika anda tahu bentuk hidung saya. Geblek khan?? Nah gitu juga biasanya kalau orang nanya-nanya soal agama Tan Malaka. Tan Malaka jadi seketika menadi tokoh antagonis kalau harus dikatakan tidak beragama. Orang-orang itu maunya begini, setidaknya mereka tidak harus merasa berdosa mengagumi Tan, jika Tan Beragama Islam..

So, buat anda pengagum Tan Malaka, terima sajalah kalau beliau adalah ateis sejati. Cuma dia juga tidak ingin begitu saja meniadakan agama. Agama adalah urusan pribadi, tidak boleh dicampuri oleh negara maupun oleh kelompok. Kalaupun muncul persekutuan pada agama-agama tertentu., biarkan saja, tetapi negara tidak boleh turut campur, termasuk membiayainya…Ini bukan berarti dia beragama, melainkan paham kondisi sosial Indonesia. Berbeda dengan kiri lainnya yang selalu ngajak orang-orang beragama berantem. Kalau pegangan hidup yang benar, menurut Tan Malaka mah teteup wae tanpa ada mistik-mistikan…termasuk mistik tentang Dewa dan Tuhan..

Salam,

8 comments February 20, 2008

Presiden Tidak Harus “Orang Jakarta”

Banyak pengamat mengeluhkan nama-nama kandidat yang beredar untuk pemilihan presiden 2009 nanti. Sebab, seluruhnya masih berkutat pada nama-nama lama. Mereka adalah orang-orang yang pernah menjadi the ruling elite negeri ini. Namun selama berkuasa, mereka tidak membawa perbaikan berarti.

Jumlah kanddidat presiden sangat terbatas dan nama yang muncul itu-itu lagi. Bila sepuluh jari kita mainkan, niscaya tidak akan habis untuk menyebutkan nama mereka satu per satu. Sebut saja nama seperti SBY, Megawati, Amien Rais, Wiranto, Sutiyoso, Jusuf Kalla. Mungkin juga muncul nama seperti Sri Sultan dari Yogya sana. Tokoh ini berasal dari daerah dan terkesan agak ”segar” dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang pernah eksis di Jakarta. Hanya saja, Sultan ini tidak cocok hidup di alam demokrasi. Sulit mengharapkan dia muncuk sebagai pemimpin yang demokratis, inovatif, dan penuh terobosan. Dia tetap datang dengan mewaikili cara berfikir lama, raja jawa yang naik tahta ke tingkat nasional. Soeharto pun selama kepemimpinannya juga memosisikan diri menjadi raja jawa.

Lalau kenapa hal itu bisa sampai terjadi? Kenapa nama-nama yang akan meramaikan bursa presiden hanya itu-itu saja, seolah-olah lebih dari 200 juta lebih rakyat Indonesia hanya menghasilkan kurang dari 10 orang yang layak jadi presiden? Lebih parah lagi, tidak ada dari kandidat tersebut yang pernah sukses memperbaiki tata kelola pemerintahan dan juga kualitas hidup masyarakat. Jika salah satunya terpilih menjadi presiden hanya akan melanjutkan siklus penderitaan rakyat dari mulut buaya ke mulut harimau, masuk ke mulut ular, lalu ke mulutnya Tukul.. (he..he sorry kul!)

Setidaknya dua hal yang menyebabkan hal ini terjadi. Faktor pertama adalah proses politik Indonesia masih terlalu berpusat di Jakarta. Politisi atau pemimpin yang dianggap handal hanya orang-orang yang sudah berhasil eksis menaklukkan Jakarta. Akibatnya, terminologi ”tokoh nasional” dan ”tokoh lokal” itu sangat jelas membekas di kepala kita. Ini sangat bias. Pencarian kandidat presiden akhirnya hanya terpusat pada lingkaran ”tokoh nasional” tadi.

Penyebab kedua adalah kelanjutan dari faktor pertama. Ini soal publikasi media. Oleh karena kita menganggap subyek proses politik nasional hanyalah aktor-aktor di Jakarta, pemberitaan atau publikasi media yang mencitrakan tokoh tokoh politik juga hanya berputar di Jakarta. Silahkan periksa pemberitaan media nasional maupun lokal, pasti hanya memasukkan ”tokoh nasional” sebagai calon presiden. Akhirnya, partai maupun masyarakat awam termakan konstruksi pemberitaan. Alam pikiran mereka juga hanya menangkap bahwa hanya orang Jakarta yang berhak jadi presiden.

Padahal, banyak best practices kepemimpinan dan pemerintahan di daerah yang sangat baik. Praktek kepemimpinan tersebut bisa dijadikan isnpirasi untuk diterapkan di daerah lain, bahkan juga bisa dijadikan inspirasi untuk diterapkan di tingkat nasional. Ada belasan kepala daerah di tingkat kabupaaten/kota, dan dua kepala daerah di tingkat provinsi yang bisa dikatakan sukses. Mereka tidak hanya berhasil menjalankan tata kelola pemerintahan yang baik tetapi juga sukses meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.

Media dan juga para akademisi perlu didorong untuk ikut mempublikasikan tokoh-tokoh yang berhasil di daerahnya. Ini berguna agar masyarakat dan partai sadar bahwa banyak potensi pemimpin berkualitas di daerah-daerah. Mereka tidak lagi sekadar berjanji tetapi sudah menyajikan bukti. Kepemimipinan orang-orang yang dianggap tokoh lokal itu sudah terbukti mampu memperbaiki tata kelola pemerintahan dan juga memperbaiki kehidupan masyarakat. Bukan tidak mungkin mereka mampu mencobanya di tingkat nasional. Peluang maju menjadi presiden/wakil presiden harus dibuka lebar bagi para gubernur yang sukses.

Orang–orang seperti mereka seharusnya di masa depan secara berjenjang menaiki karir kepemimpinan sampai di level kepemimpinan nasional. Tidak berlebihan jika rakyat Indonesia kemudian bermimpi, suatu saat yang berlaga dalam pemilihan presiden adalah para gubernur terpilih. Dengan demikian, calon presiden adalah orang yang sudah teruji. Suskesi kepemimpinan nasional akan lebih segar. Bukan hanya kemudian mempertontonkan elite-elite tua Jakarta berbagi giliran memegang tampuk kekuasaan tertinggi.

2 comments September 15, 2007

Previous Posts


Blog Stats

 

July 2009
M T W T F S S
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Archives

Recent Posts

Blogroll

Recent Comments

Berburu dan Meramu I… on Berburu dan Meramu
murdin on Memahami Survei Politik
madaff on About
Hafil on Mencari Kubur Tan Malaka (Malu…
Rangga on So What Gitu Loh….

dodol

More Photos

Data Pribadi Empunya Blog

Hi, Nama saya Hasan Nasbi A Asal Sumatera Barat Lulusan Ilmu Politik UI Pernah bekerja sebagai Wartawan Kompas (2005-2006) Sejak 2006-awal 2008, saya bekerja sebagai peneliti di Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia. Saat ini saya bekerja sebagai Program Manager di Indonesian Research and Development Institute. Sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk penelitian terutama survey pra-Pilkada di berbagai provinsi dan kabupaten/kota. Saya sangat suka dengan bacaan bertema kiri, Amerika Latin, Timur Tengah, Konspirasi, dan Pemikiran Politik. Blog ini bukan dimaksudkan untuk menyajikan tulisan yang ilmiah dan teoritis. Blog ini hanya sekadar tempat melepaskan unek-unek agar tidak muncul menjadi jerawat. Makanya, jangan heran jika sering ditulis dengan bahasa sinis, ketus, atau bahkan marah-marah. Kritik dan komentar anda sekalian adalah sumbangan berharga bagi saya.